Menulis artikel ilmiah
tidak berhenti setelah proses pengumpulan data dan analisis statistik selesai.
Justru, tantangan terbesar sering kali muncul ketika peneliti harus menuangkan
hasil penelitiannya ke dalam bentuk tulisan yang sistematis, logis, dan sesuai
dengan standar jurnal ilmiah.
Bagi mahasiswa yang
sedang menyusun skripsi atau peneliti yang baru pertama kali mengirimkan
artikel ke jurnal, bagian Hasil (Results) dan Pembahasan
(Discussion) sering menjadi sumber revisi yang paling banyak. Tidak
sedikit naskah yang sebenarnya memiliki data penelitian yang baik, tetapi
memperoleh banyak catatan dari reviewer hanya karena cara penyajian hasil dan
pembahasannya kurang tepat.
Reviewer jurnal bukan
hanya menilai apakah penelitian menghasilkan temuan yang menarik. Mereka juga
memperhatikan apakah penulis mampu menyajikan data secara objektif,
menginterpretasikan hasil secara ilmiah, serta menunjukkan kontribusi
penelitian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan maupun praktik di lapangan.
Berdasarkan berbagai
pedoman penulisan jurnal ilmiah dan pengalaman banyak editor, terdapat beberapa
kesalahan yang terus berulang pada naskah yang dikirim oleh peneliti pemula.
Menariknya, kesalahan-kesalahan ini sebenarnya dapat dihindari apabila penulis
memahami fungsi masing-masing bagian dalam sebuah artikel ilmiah.
Dalam artikel ini, kita
akan membahas lima kesalahan fatal saat menulis hasil dan pembahasan
yang paling sering ditemukan oleh reviewer jurnal, sekaligus bagaimana cara
menghindarinya agar peluang naskah diterima semakin besar.
Mengapa Reviewer Sangat Memperhatikan Bagian Hasil dan Pembahasan?
Sebelum membahas
kesalahan yang sering terjadi, penting untuk memahami alasan mengapa reviewer
memberikan perhatian besar pada bagian hasil dan pembahasan.
Jika bagian metodologi
menjelaskan bagaimana penelitian dilakukan, maka bagian hasil
dan pembahasan menunjukkan apa yang ditemukan dan mengapa
temuan tersebut penting.
Dengan kata lain, bagian
inilah yang menjadi inti kontribusi ilmiah sebuah penelitian.
Reviewer biasanya akan
mencari jawaban atas beberapa pertanyaan berikut.
- Apakah data disajikan secara jelas dan
objektif?
- Apakah interpretasi didukung oleh teori
dan referensi ilmiah?
- Apakah kesimpulan benar-benar didasarkan
pada data?
- Apakah penelitian memberikan manfaat
bagi pengembangan ilmu atau praktik?
Jika salah satu
pertanyaan tersebut tidak terjawab dengan baik, kemungkinan besar naskah akan
memperoleh revisi, bahkan ditolak.
Mari kita bahas satu per
satu kesalahan yang paling sering ditemukan.
Kesalahan 1: Menulis Ulang Seluruh Angka dalam Tabel ke dalam Bentuk Paragraf
Inilah kesalahan yang
mungkin paling sering dilakukan oleh mahasiswa.
Setelah membuat sebuah
tabel yang berisi nilai rata-rata, standar deviasi, nilai minimum, nilai
maksimum, dan jumlah sampel, penulis kemudian menuliskan ulang seluruh angka
tersebut ke dalam paragraf.
Sebagai contoh, sebuah
tabel telah memuat informasi berikut:
|
Kelompok |
Rata-rata |
Standar Deviasi |
|
Eksperimen |
86,45 |
5,12 |
|
Kontrol |
78,30 |
6,08 |
Namun, setelah tabel
tersebut muncul, penulis kembali menulis:
Berdasarkan tabel di
atas, kelompok eksperimen memperoleh nilai rata-rata sebesar 86,45 dengan
standar deviasi 5,12. Kelompok kontrol memperoleh nilai rata-rata sebesar 78,30
dengan standar deviasi 6,08.
Paragraf tersebut tidak
menambahkan informasi baru. Pembaca sudah dapat melihat semua angka tersebut
langsung pada tabel.
Akibatnya, halaman
menjadi penuh dengan pengulangan yang tidak diperlukan.
Cara yang Benar
Setelah tabel
ditampilkan, cukup jelaskan informasi yang paling penting.
Misalnya:
Tabel menunjukkan bahwa
kelompok eksperimen memperoleh rata-rata hasil belajar yang lebih tinggi
dibandingkan kelompok kontrol. Perbedaan ini mengindikasikan adanya
kecenderungan peningkatan hasil belajar setelah perlakuan diberikan.
Dengan cara ini, tabel
dan narasi saling melengkapi, bukan saling mengulang.
Kesalahan 2: Membahas Hal-Hal yang Tidak Memiliki Dukungan Data
Kesalahan berikutnya jauh
lebih serius.
Beberapa penulis membuat
pembahasan yang sangat panjang, tetapi justru membahas aspek yang sama sekali
tidak diukur dalam penelitian.
Misalnya penelitian hanya
mengukur hasil belajar, tetapi dalam pembahasan penulis
menyatakan bahwa model pembelajaran juga meningkatkan kreativitas, kemampuan
komunikasi, dan kepercayaan diri peserta didik.
Masalahnya, penelitian
tersebut tidak mengumpulkan data mengenai kreativitas maupun kepercayaan diri.
Akibatnya, pembahasan
berubah menjadi spekulasi.
Reviewer sangat mudah
mengenali kesalahan seperti ini.
Mereka biasanya akan
memberikan komentar seperti:
"Pernyataan ini
tidak didukung oleh data penelitian."
Cara yang Benar
Pembahasan harus selalu
kembali pada data yang diperoleh.
Jika ingin mengaitkan
dengan teori, jelaskan bahwa kemungkinan adanya peningkatan pada aspek tertentu
merupakan interpretasi yang didukung oleh teori, bukan fakta yang telah
dibuktikan dalam penelitian.
Misalnya:
Meskipun penelitian ini
hanya mengukur hasil belajar, peningkatan tersebut dapat dijelaskan melalui
teori pembelajaran aktif yang menyatakan bahwa keterlibatan peserta didik dalam
proses belajar berpotensi meningkatkan pemahaman konsep.
Perhatikan bahwa penulis
tidak mengklaim sesuatu yang tidak diukur.
Kesalahan 3: Terlalu Subjektif atau Menggunakan Bahasa yang Emosional
Artikel ilmiah bukanlah
tulisan promosi.
Sayangnya, masih banyak
penulis yang menggunakan kalimat seperti berikut.
Model pembelajaran ini
sangat luar biasa.
Metode ini benar-benar
sempurna.
Strategi ini terbukti
paling hebat dibandingkan semua metode lainnya.
Kalimat seperti ini tidak
memiliki tempat dalam penulisan ilmiah.
Bahasa ilmiah harus
bersifat objektif, hati-hati, dan didasarkan pada bukti.
Reviewer biasanya sangat
sensitif terhadap penggunaan kata-kata yang terlalu emosional karena dapat
menunjukkan adanya bias penulis.
Cara yang Benar
Gunakan bahasa yang lebih
proporsional.
Sebagai contoh:
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa model pembelajaran tersebut memberikan peningkatan hasil
belajar yang signifikan pada konteks penelitian ini.
Atau:
Temuan penelitian
mengindikasikan bahwa strategi pembelajaran memiliki potensi untuk meningkatkan
hasil belajar peserta didik.
Kalimat seperti ini jauh
lebih ilmiah karena tidak melakukan generalisasi yang berlebihan.
Kesalahan 4: Pembahasan Hanya Mengulang Hasil tanpa Analisis
Kesalahan ini sering
terjadi ketika mahasiswa merasa kehabisan ide.
Bagian pembahasan
akhirnya hanya berisi pengulangan isi hasil penelitian.
Misalnya.
Hasil
Nilai rata-rata kelompok
eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Pembahasan
Berdasarkan hasil
penelitian, nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan
kelompok kontrol.
Tidak ada penjelasan
mengapa kondisi tersebut terjadi.
Padahal fungsi pembahasan
bukan mengulang hasil, melainkan menjelaskan maknanya.
Cara yang Benar
Gunakan pembahasan untuk
menjawab pertanyaan berikut.
- Mengapa hasil tersebut muncul?
- Bagaimana teori menjelaskan hasil
tersebut?
- Apakah hasil tersebut sesuai dengan
penelitian sebelumnya?
- Apa kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan?
Semakin banyak pertanyaan
tersebut terjawab, semakin kuat kualitas pembahasannya.
Kesalahan 5: Melupakan Implikasi Praktis Penelitian
Inilah kesalahan yang
paling sering diabaikan, terutama oleh peneliti pemula.
Mereka berhasil
menjelaskan teori dan membandingkan hasil penelitian dengan penelitian
terdahulu, tetapi lupa menjelaskan manfaat nyata dari temuannya.
Padahal reviewer sering
bertanya dalam hati:
"Lalu, apa
manfaat penelitian ini bagi dunia nyata?"
Misalnya penelitian
dilakukan di bidang pendidikan.
Setelah menunjukkan bahwa
suatu model pembelajaran efektif, pembahasan seharusnya menjelaskan implikasi
praktisnya.
Contohnya:
- Bagaimana guru dapat menerapkan model
tersebut di kelas?
- Pada kondisi seperti apa model tersebut
paling efektif?
- Apa manfaatnya bagi peserta didik?
- Apakah sekolah perlu mempertimbangkan
penggunaannya?
Tanpa penjelasan seperti
ini, penelitian terasa berhenti pada tingkat akademik dan belum memberikan
kontribusi nyata.
Cara yang Benar
Tambahkan satu atau dua
paragraf yang menjelaskan implikasi praktis.
Sebagai contoh:
Temuan penelitian ini
memberikan implikasi bahwa guru dapat memanfaatkan model pembelajaran berbasis
proyek sebagai alternatif strategi pembelajaran untuk meningkatkan keterlibatan
peserta didik. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan karakteristik
materi, waktu pembelajaran, serta kesiapan peserta didik agar hasil yang
diperoleh lebih optimal.
Dengan cara ini, pembaca
memahami bahwa penelitian memiliki manfaat yang dapat diterapkan dalam praktik.
Bonus: Kesalahan Lain yang Sering Menjadi Catatan Reviewer
Selain lima kesalahan
utama di atas, terdapat beberapa kekeliruan lain yang juga sering muncul dalam
naskah penelitian.
Tidak Menjelaskan Keterbatasan Penelitian
Penelitian yang baik
selalu mengakui keterbatasannya.
Reviewer biasanya
menghargai penulis yang mampu menjelaskan keterbatasan secara jujur sekaligus
memberikan rekomendasi penelitian lanjutan.
Menggunakan Referensi yang Sudah Terlalu
Lama
Pembahasan akan lebih
kuat apabila didukung oleh artikel jurnal yang mutakhir, terutama yang
diterbitkan dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir.
Referensi lama tetap
dapat digunakan untuk teori dasar, tetapi hasil penelitian sebaiknya
dibandingkan dengan studi yang lebih baru.
Generalisasi Berlebihan
Hindari menyimpulkan
bahwa suatu metode pasti efektif untuk semua sekolah, semua peserta didik, atau
semua mata pelajaran jika penelitian hanya dilakukan pada satu konteks
tertentu.
Gunakan kalimat yang
sesuai dengan ruang lingkup penelitian.
Tips Agar Reviewer Memberikan Penilaian Positif
Sebelum mengirimkan
artikel ke jurnal, lakukan pemeriksaan mandiri dengan beberapa pertanyaan
berikut.
- Apakah setiap tabel memberikan informasi
baru dan tidak diulang seluruhnya dalam paragraf?
- Apakah semua pembahasan benar-benar didukung
oleh data penelitian?
- Apakah bahasa yang digunakan bersifat
objektif dan bebas dari klaim emosional?
- Apakah pembahasan menjelaskan penyebab
temuan berdasarkan teori dan penelitian terdahulu?
- Apakah penelitian memiliki implikasi
praktis yang jelas bagi dunia nyata?
Jika semua pertanyaan
tersebut dapat dijawab dengan "ya", maka kualitas hasil dan
pembahasan Anda sudah berada pada jalur yang tepat.
Penutup
Bagian hasil dan
pembahasan merupakan inti dari sebuah karya ilmiah. Di sinilah peneliti
menunjukkan tidak hanya apa yang ditemukan melalui penelitian, tetapi juga
kemampuan menganalisis, menginterpretasikan, dan menjelaskan makna dari temuan
tersebut. Karena itu, tidak mengherankan jika reviewer jurnal memberikan
perhatian yang sangat besar pada dua bagian ini.
Lima kesalahan yang telah
dibahas dalam artikel ini—menulis ulang seluruh isi tabel ke dalam paragraf,
membahas hal-hal yang tidak didukung data, menggunakan bahasa yang terlalu
subjektif, mengulang hasil tanpa analisis, serta melupakan implikasi praktis
penelitian—merupakan kekeliruan yang sebenarnya dapat dihindari dengan
pemahaman yang baik mengenai fungsi masing-masing bagian.
Ingatlah bahwa tulisan
ilmiah yang berkualitas bukan diukur dari banyaknya halaman atau panjangnya
pembahasan, melainkan dari ketepatan penyajian data, kedalaman analisis,
kekuatan argumentasi, dan relevansi temuan bagi pengembangan ilmu maupun
praktik di lapangan. Oleh karena itu, sebelum mengirimkan artikel ke jurnal
atau menyerahkan skripsi kepada dosen pembimbing, luangkan waktu untuk meninjau
kembali bagian hasil dan pembahasan dengan sudut pandang seorang reviewer.
Tanyakan pada diri sendiri: Apakah setiap pernyataan memiliki dukungan
data? Apakah setiap interpretasi didasarkan pada teori? Dan apakah penelitian
ini benar-benar memberikan manfaat bagi dunia nyata?
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
tersebut adalah "ya", maka Anda telah mengambil langkah penting
menuju karya ilmiah yang lebih kuat, lebih meyakinkan, dan memiliki peluang
lebih besar untuk memperoleh apresiasi dari pembaca maupun reviewer jurnal.
Jelajahi |
DAFTAR ISI |