Kalau kita bicara tentang pendidikan orang
dewasa, sering kali yang muncul di kepala adalah pelatihan kerja, kursus, atau
program keterampilan.
Tapi sebenarnya, pendidikan orang dewasa itu jauh lebih luas dan dalam dari
sekadar belajar “cara kerja baru.”
Ia adalah proses manusia untuk tumbuh,
memahami diri, dan beradaptasi dengan kehidupan yang terus berubah
— baik di tempat kerja, di keluarga, maupun di masyarakat.
Nah, di balik semua itu, ada dua hal besar yang
menjadi dasar: teori dan praktik.
Keduanya ibarat dua sisi mata uang. Teori memberi arah dan makna, sementara
praktik memberi bukti dan kehidupan nyata.
Tapi sayangnya, di dunia nyata, keduanya sering jalan sendiri-sendiri. Ada yang
terlalu sibuk membahas teori, tapi lupa konteksnya di lapangan. Ada pula yang
rajin praktik, tapi tanpa fondasi teori yang kuat.
Artikel kali ini di “Ruang Guru” akan mengajak
kita merenung — bukan sekadar belajar — tentang bagaimana teori dan praktik bisa saling terhubung
dalam pendidikan orang dewasa, serta seperti apa arah masa depan pendidikan ini di tengah
perubahan dunia yang luar biasa cepat.
| Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing |
1. Antara Teori dan Praktik:
Dua Dunia yang Harusnya Bersatu
Teori dalam pendidikan orang dewasa bisa
diibaratkan sebagai peta.
Ia membantu kita memahami arah, prinsip, dan tujuan. Sementara praktik adalah
perjalanan nyata di jalanan — penuh rintangan, kejutan, dan pengalaman.
Para tokoh besar seperti Malcolm Knowles, Paulo Freire, dan David Kolb sebenarnya
sudah lama menekankan bahwa pendidikan orang dewasa tidak bisa dilepaskan dari pengalaman hidup nyata.
Knowles dengan andragogi-nya mengajarkan
bahwa orang dewasa belajar karena kebutuhan dan pengalaman.
Freire mengingatkan pentingnya pembelajaran yang membebaskan dan dialogis —
bukan sekadar menjejalkan teori.
Sementara Kolb mengajarkan bahwa belajar sejati terjadi melalui siklus pengalaman-refleksi-konseptualisasi-tindakan.
Namun dalam praktik, masih banyak program
pelatihan atau pendidikan nonformal yang terjebak dalam pola lama — terlalu
banyak ceramah, minim refleksi, apalagi pengalaman langsung.
Padahal, orang dewasa tidak suka diperlakukan seperti anak-anak yang hanya
menerima perintah.
Mereka ingin dihargai sebagai
individu yang punya pengalaman, pandangan, dan kebijaksanaan sendiri.
Jadi, tantangan utamanya adalah bagaimana mengintegrasikan teori ke dalam
praktik yang nyata dan bermakna.
2. Menghidupkan Teori dalam
Praktik
Kunci integrasi teori dan praktik bukan
terletak pada tumpukan buku, tapi pada cara
kita memaknai teori dalam konteks kehidupan nyata.
Mari kita ambil contoh:
·
Teori andragogi mengajarkan bahwa orang dewasa belajar karena
motivasi internal — misalnya keinginan untuk berkembang, memperbaiki diri, atau
meningkatkan kualitas hidup.
→ Dalam praktik, ini bisa diwujudkan dengan cara memberi peserta ruang untuk menentukan
sendiri tujuan belajar mereka. Jadi, bukan hanya “belajar
karena disuruh,” tapi karena mereka merasa butuh.
·
Teori experiential learning dari Kolb menekankan pentingnya
pengalaman dan refleksi.
→ Dalam praktik, pelatih atau fasilitator bisa menggunakan simulasi, studi kasus, atau proyek nyata
agar peserta bisa belajar dari pengalaman langsung.
·
Sementara teori transformative learning dari Jack Mezirow
mengingatkan bahwa belajar bisa mengubah cara pandang hidup seseorang.
→ Dalam praktik, pendidik bisa mendorong diskusi kritis dan refleksi mendalam
agar peserta berani mempertanyakan asumsi lama dan membangun pemahaman baru.
Dengan kata lain, teori bukan untuk dihafal,
tapi untuk dihidupkan.
Teori menjadi seperti kompas: tidak harus diikuti secara kaku, tapi selalu jadi
panduan agar langkah kita tetap di jalur yang benar.
3. Refleksi sebagai Jembatan
Antara Teori dan Praktik
Satu hal yang sering dilupakan dalam
pembelajaran orang dewasa adalah refleksi.
Padahal, refleksi adalah jembatan yang menghubungkan teori dan praktik.
Ketika seseorang mengalami sesuatu di lapangan
— misalnya menghadapi konflik dalam kerja tim, gagal dalam proyek, atau
berhasil menjalankan ide baru — di situlah peluang belajar sebenarnya muncul.
Tapi pengalaman saja belum cukup. Harus ada proses merenung dan memaknai.
Dengan refleksi, seseorang bisa bertanya pada
dirinya sendiri:
·
“Kenapa hal itu bisa
terjadi?”
·
“Apa yang bisa saya
pelajari dari pengalaman ini?”
·
“Bagaimana teori yang saya
pelajari bisa membantu saya memahami hal ini lebih baik?”
·
“Apa yang akan saya lakukan
berbeda ke depannya?”
Refleksi seperti ini membuat pembelajaran
orang dewasa menjadi bermakna,
kontekstual, dan berkelanjutan.
Bahkan di dunia kerja, refleksi kini diakui
sebagai bagian penting dari pembelajaran
organisasi.
Banyak perusahaan besar menerapkan sesi after-action
review setelah proyek selesai — bukan untuk mencari siapa yang salah, tapi
untuk belajar dari proses.
Itu bentuk nyata integrasi teori dan praktik dalam konteks profesional.
4. Tantangan Nyata di
Lapangan
Meski konsep integrasi teori dan praktik
terdengar ideal, dalam kenyataannya masih banyak hambatan yang harus dihadapi,
khususnya di Indonesia.
a. Kurikulum yang Kaku
Banyak program pendidikan nonformal masih
menggunakan pendekatan satu arah — teori dulu, praktik belakangan.
Padahal, orang dewasa belajar lebih efektif kalau langsung mencoba dan
mengalami.
b. Kurangnya Fasilitator
yang Kompeten
Pendidik orang dewasa bukan hanya pengajar,
tapi fasilitator
pembelajaran.
Namun, banyak pelatih atau tutor belum memahami pendekatan andragogis yang
menekankan pada dialog, partisipasi, dan refleksi.
c. Sistem Evaluasi yang
Terlalu Formal
Evaluasi sering kali hanya fokus pada hasil,
bukan proses.
Padahal, bagi orang dewasa, proses
berpikir dan perubahan sikap jauh lebih penting daripada
sekadar nilai akhir.
d. Minimnya Dukungan
Kebijakan
Masih sedikit kebijakan yang secara serius
mendorong pendidikan orang dewasa sebagai bagian integral dari pembangunan
manusia.
Banyak program berjalan parsial, tanpa kesinambungan jangka panjang.
5. Arah Masa Depan
Pendidikan Orang Dewasa
Kalau melihat perkembangan zaman, masa depan
pendidikan orang dewasa tampaknya akan bergerak ke arah yang lebih personal, fleksibel, dan berbasis
teknologi.
Tapi tidak hanya itu — juga lebih humanistik
dan reflektif.
Berikut beberapa arah penting yang bisa
menjadi fokus ke depan:
a. Pembelajaran Fleksibel
dan Digital
Teknologi akan terus jadi teman baik
pendidikan orang dewasa.
Platform e-learning, video pembelajaran, dan mobile apps memungkinkan siapa pun
belajar kapan pun, di mana pun.
Namun, tantangannya adalah bagaimana membuat teknologi tetap bermakna secara manusiawi.
Jangan sampai digitalisasi membuat pembelajaran kehilangan sentuhan personal
dan nilai kemanusiaan.
b. Penguatan Pembelajaran
Berbasis Pengalaman
Masa depan pendidikan orang dewasa akan lebih
banyak mengandalkan learning by doing.
Proyek sosial, kerja lapangan, magang, hingga praktik komunitas akan menjadi
metode utama, bukan sekadar pelengkap.
c. Pengakuan Terhadap
Pembelajaran Nonformal
Negara dan lembaga pendidikan perlu mulai
serius mengakui hasil belajar yang diperoleh dari pengalaman hidup atau
pekerjaan.
Sertifikasi berbasis kompetensi dan Recognition
of Prior Learning (RPL) harus diperkuat, agar orang dewasa yang belajar di
luar sistem formal tetap mendapat pengakuan.
d. Kolaborasi Multi-Sektor
Pendidikan orang dewasa di masa depan tidak
bisa berdiri sendiri.
Ia butuh kolaborasi antara pemerintah, industri, komunitas, dan universitas.
Misalnya, perusahaan menyediakan pelatihan keterampilan, pemerintah mendukung
kebijakan, dan kampus menjadi pusat inovasi pembelajaran.
e. Pembelajaran yang
Berorientasi pada Transformasi Diri
Lebih dari sekadar keterampilan teknis,
pendidikan orang dewasa harus membantu seseorang menemukan makna hidup, nilai, dan arah
pribadi.
Dengan begitu, pembelajaran tidak hanya mengubah kemampuan, tapi juga mengubah
cara berpikir dan merasa.
6. Pendidikan Orang Dewasa
Sebagai Gerakan Sosial
Di titik ini, kita bisa melihat bahwa
pendidikan orang dewasa bukan sekadar urusan belajar keterampilan, tapi gerakan sosial untuk membebaskan manusia
dari ketidaktahuan dan ketidakberdayaan.
Paulo Freire pernah berkata,
“Pendidikan sejati adalah praktik kebebasan.”
Maksudnya, melalui pendidikan, orang dewasa
bisa menyadari realitas hidupnya, memahami struktur sosial yang memengaruhinya,
dan bertindak untuk memperbaikinya.
Inilah esensi dari pendidikan pembebasan yang relevan hingga kini.
Dalam konteks Indonesia, pendidikan orang
dewasa berperan besar dalam:
·
Meningkatkan literasi
masyarakat,
·
Memberdayakan perempuan di
desa,
·
Mendorong kewirausahaan
lokal,
·
Dan menciptakan masyarakat
yang lebih kritis, kreatif, serta mandiri.
7. Penutup: Belajar,
Merefleksi, dan Terus Bertumbuh
Kalau kita mau jujur, belajar itu bukan hanya
soal isi kepala, tapi juga soal hati dan pengalaman hidup.
Orang dewasa belajar bukan untuk mencari nilai, tapi untuk memahami kehidupan.
Integrasi teori dan praktik bukanlah tujuan
akhir, tapi proses panjang yang terus berkembang seiring waktu.
Ia membutuhkan keberanian untuk mencoba, kesediaan untuk merefleksi, dan
kerendahan hati untuk terus belajar.
Masa depan pendidikan orang dewasa tidak
hanya terletak pada teknologi atau kurikulum baru,
tapi pada kesadaran manusia
bahwa belajar itu adalah bagian dari hidup itu sendiri.
Jadi, selama kita masih punya rasa ingin
tahu, selama kita mau tumbuh dan memperbaiki diri,
pendidikan orang dewasa akan selalu hidup —
di ruang kelas, di tempat kerja, di rumah, bahkan di setiap percakapan dan
refleksi diri kita.