Sunday, November 23, 2025

Pendidikan Orang Dewasa dalam Konteks Sosial-Budaya: Belajar dari Hidup, untuk Hidup

 

Pendidikan Orang Dewasa dalam Konteks Sosial-Budaya: Belajar dari Hidup, untuk Hidup

Ketika kita berbicara tentang pendidikan, pikiran banyak orang langsung tertuju pada sekolah: ruang kelas, papan tulis, guru, dan murid-murid berseragam.
Padahal, ada dunia pendidikan lain yang jauh lebih luas dan dinamis — dunia pendidikan orang dewasa.
Dan menariknya, pendidikan orang dewasa sering kali tidak berlangsung di ruang kelas, tapi di tengah masyarakat.

Pendidikan orang dewasa adalah tentang bagaimana orang belajar dari pengalaman hidupnya, dari interaksi sosial, budaya, bahkan tantangan sehari-hari.
Ia adalah proses pembelajaran yang terus berjalan, bahkan ketika ijazah sudah lama disimpan di laci.

Di artikel kali ini, kita akan membahas bagaimana pendidikan orang dewasa tumbuh dan berperan di dalam konteks sosial-budaya — terutama dalam hal:

·         Pendidikan masyarakat,

·         Gerakan literasi,

·         Pemberdayaan perempuan, dan

·         Pendidikan kewirausahaan.

Karena dalam dunia nyata, belajar bukan soal teori semata, tapi soal bagaimana pengetahuan bisa mengubah kehidupan.

 

Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing

1. Pendidikan Orang Dewasa Itu Cermin Budaya Masyarakat

Sebelum kita masuk ke contoh-contohnya, penting untuk memahami satu hal:
Pendidikan orang dewasa tidak pernah lepas dari budaya dan kehidupan sosial.

Setiap masyarakat punya nilai, kebiasaan, dan cara belajar yang khas.
Misalnya:

·         Di masyarakat agraris, pembelajaran sering terjadi lewat praktik langsung di sawah atau kebun.

·         Di komunitas pesisir, pendidikan bisa muncul dari tradisi nelayan — seperti membaca arah angin, memahami musim, atau mengelola hasil laut.

·         Di perkotaan, orang belajar lewat komunitas, pelatihan, bahkan media sosial.

Artinya, pendidikan orang dewasa tidak seragam.
Ia menyesuaikan diri dengan konteks sosial-budaya tempat ia tumbuh.
Inilah yang membuatnya hidup, fleksibel, dan sangat relevan.

 

2. Pendidikan Masyarakat: Belajar Bersama untuk Kemajuan Bersama

Istilah “pendidikan masyarakat” sering kita dengar, tapi maknanya kadang masih samar.
Sederhananya, pendidikan masyarakat adalah usaha sadar untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap warga agar lebih mandiri dan berdaya.

Dan yang menarik, pendidikan masyarakat tidak selalu dilakukan oleh lembaga formal.
Bisa melalui:

·         Kelompok belajar warga,

·         PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat),

·         Majelis taklim,

·         Komunitas lingkungan,

·         Atau program-program pemberdayaan di desa.

Pendidikan masyarakat menempatkan pengalaman hidup sebagai sumber belajar utama.
Contohnya, ibu rumah tangga belajar membuat kerajinan tangan untuk dijual; petani belajar teknik organik lewat demonstrasi; pemuda desa belajar mengelola wisata lokal.

Mereka tidak duduk mendengarkan ceramah panjang — mereka belajar dengan melakukan.

Seperti kata Ki Hajar Dewantara, “Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru.”
Dan itulah esensi pendidikan masyarakat: belajar di mana pun, bersama siapa pun, untuk tujuan yang nyata.

Tujuan utama pendidikan masyarakat antara lain:

·         Meningkatkan kualitas hidup,

·         Mengurangi ketimpangan sosial,

·         Menumbuhkan kesadaran kritis warga,

·         Dan mendorong partisipasi dalam pembangunan.

Kalau pendidikan formal membentuk intelek, maka pendidikan masyarakat membentuk kemandirian dan kesetiakawanan sosial.

 

3. Literasi: Gerbang Utama Pendidikan Orang Dewasa

Kita sering menganggap literasi hanya berarti “mampu membaca dan menulis.”
Padahal, literasi dewasa jauh lebih luas dari itu.
Ia mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan menggunakannya untuk memecahkan masalah kehidupan.

Bagi orang dewasa, literasi bukan soal bisa baca buku, tapi bisa membaca dunia.

Contohnya:

·         Seorang pedagang perlu literasi finansial untuk mengatur keuangannya.

·         Seorang ibu perlu literasi kesehatan untuk menjaga keluarganya.

·         Seorang petani butuh literasi digital agar bisa menjual hasil panen lewat internet.

Di sinilah literasi menjadi kunci perubahan sosial.
Ketika orang dewasa melek informasi, mereka bisa mengambil keputusan yang lebih baik — baik untuk diri sendiri maupun komunitasnya.

Sayangnya, di beberapa daerah di Indonesia, butuh perjuangan besar untuk meningkatkan literasi orang dewasa.
Masih ada banyak warga yang belum terbiasa membaca atau memanfaatkan teknologi digital.

Karena itu, gerakan literasi masyarakat tidak boleh berhenti di perpustakaan.
Harus turun ke lapangan: ke warung kopi, posyandu, masjid, atau balai desa — tempat di mana orang-orang berkumpul dan bisa saling belajar.

Beberapa contoh program literasi yang efektif di masyarakat:

·         Taman Bacaan Masyarakat (TBM): menyediakan ruang baca dan diskusi santai.

·         Pelatihan literasi digital: mengajarkan cara menggunakan internet dengan bijak.

·         Kelas keuangan keluarga: membantu warga mengelola penghasilan.

·         Forum warga: tempat berbagi cerita dan ide dalam suasana egaliter.

Literasi bukan sekadar kegiatan membaca buku, tapi proses menyadarkan masyarakat agar mampu membaca realitas hidupnya.

 

4. Pemberdayaan Perempuan: Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan

Kalau ada satu kelompok yang paling banyak merasakan dampak positif dari pendidikan orang dewasa, itu adalah perempuan.

Di banyak masyarakat, perempuan sering menghadapi keterbatasan: waktu, akses, bahkan kesempatan untuk belajar.
Padahal, ketika perempuan terdidik dan berdaya, seluruh komunitas ikut maju.

Pendidikan orang dewasa memberi ruang bagi perempuan untuk belajar tanpa batas usia.
Mereka bisa belajar menjahit, berbisnis, mengelola keuangan, bahkan belajar kepemimpinan.

Contohnya:

·         Di berbagai daerah, program pemberdayaan ekonomi perempuan telah berhasil membantu ibu-ibu rumah tangga memulai usaha kecil dari rumah.

·         Ada juga kelas literasi perempuan di desa yang mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung dasar — yang dulu mungkin tidak mereka dapatkan.

·         Bahkan, di kota-kota besar, banyak komunitas perempuan profesional saling berbagi pengalaman lewat workshop online dan mentoring.

Semua ini menunjukkan bahwa pendidikan orang dewasa adalah jembatan pembebasan.
Ia membantu perempuan keluar dari keterbatasan dan menemukan kepercayaan diri untuk menentukan masa depan sendiri.

Seperti yang pernah dikatakan tokoh pendidikan Brasil, Paulo Freire, pendidikan sejati adalah proses pembebasan dari penindasan — dan perempuan adalah bukti nyata betapa kuatnya kekuatan itu.

 

5. Pendidikan Kewirausahaan: Membangun Kemandirian dari Belajar Nyata

Di tengah perubahan ekonomi yang cepat, banyak orang dewasa tidak lagi mencari pekerjaan — mereka menciptakan pekerjaan.

Dan di sinilah pentingnya pendidikan kewirausahaan.

Pendidikan kewirausahaan bagi orang dewasa tidak hanya mengajarkan cara membuat bisnis, tapi juga cara berpikir kreatif, adaptif, dan mandiri.
Karena wirausaha bukan hanya tentang uang, tapi tentang kemampuan mengubah tantangan menjadi peluang.

Contohnya:

·         Di desa, pelatihan wirausaha bisa berupa pengolahan hasil pertanian atau produk lokal kreatif.

·         Di kota, bisa berupa pelatihan digital marketing atau pembuatan konten.

·         Bahkan banyak komunitas sekarang mengadakan pelatihan daring untuk wirausaha rumahan.

Yang menarik, pendidikan kewirausahaan sering kali menggabungkan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning).
Peserta tidak hanya mendengar teori bisnis, tapi langsung praktik — membuat produk, mengelola penjualan, hingga belajar dari kegagalan.

Kunci keberhasilan pendidikan kewirausahaan untuk orang dewasa adalah pendekatan kontekstual.
Program yang sukses selalu dimulai dari analisis kebutuhan masyarakat — apa yang benar-benar mereka butuhkan dan minati.

 

6. Tantangan Sosial-Budaya dalam Pendidikan Orang Dewasa

Tentu saja, perjalanan ini tidak selalu mulus.
Masih banyak tantangan sosial dan kultural yang dihadapi pendidikan orang dewasa di Indonesia.

Beberapa di antaranya:

·         Pandangan tradisional yang menganggap belajar hanya untuk anak-anak.

·         Keterbatasan waktu, karena banyak orang dewasa sudah bekerja atau mengurus keluarga.

·         Kendala ekonomi, yang membuat pelatihan sulit diakses.

·         Ketimpangan digital, terutama di daerah pedesaan.

·         Budaya malu atau minder untuk belajar di usia dewasa.

Namun, semua tantangan itu bukan penghalang, melainkan peluang untuk berinovasi.
Dengan pendekatan yang humanis, partisipatif, dan berbasis budaya lokal, pendidikan orang dewasa bisa menjadi kekuatan besar untuk mengubah masyarakat dari dalam.

 

7. Belajar untuk Hidup, Bukan Sekadar Lulus

Kalimat ini mungkin klise, tapi sangat benar:

Pendidikan orang dewasa bukan soal mengejar ijazah, tapi tentang bagaimana hidup menjadi lebih bermakna.

Setiap orang dewasa punya kisah dan kebutuhannya sendiri.
Ada yang belajar karena ingin memperbaiki ekonomi,
ada yang belajar karena ingin menjadi panutan bagi anak-anaknya,
dan ada yang belajar karena ingin memahami dunia yang terus berubah.

Pendidikan orang dewasa dalam konteks sosial-budaya adalah tentang membangun kesadaran, solidaritas, dan kemandirian.
Ia membuat masyarakat lebih tangguh, lebih adaptif, dan lebih berdaya.

 

Penutup: Pendidikan Orang Dewasa Adalah Pendidikan Kehidupan

Kalau kita renungkan, inti dari semua bentuk pendidikan orang dewasa — entah itu literasi, pemberdayaan, atau wirausaha — adalah satu hal: membantu manusia belajar dari hidupnya sendiri.

Masyarakat yang sadar akan pentingnya belajar adalah masyarakat yang tidak mudah menyerah.
Dan setiap orang dewasa yang terus belajar, sekecil apa pun langkahnya, sedang ikut membangun peradaban.

Jadi, kalau kamu melihat ibu-ibu yang belajar membaca di usia 50 tahun, atau bapak-bapak yang ikut pelatihan daring tentang keuangan digital, jangan anggap itu hal kecil.
Itulah wajah sejati pendidikan — yang hidup, nyata, dan membebaskan.

 

No comments:

Post a Comment

Menyusun Target dan Indikator Kompetensi: Panduan Santai untuk Guru Hebat

  Pernah nggak sih kamu merasa bingung saat bikin rencana pembelajaran? Kadang rasanya kayak nyusun puzzle — semua harus pas: dari kompete...