Dulu, belajar itu identik dengan duduk di kelas,
mencatat pelajaran, lalu menunggu ujian.
Tapi sekarang, dunia berubah begitu cepat hingga pola pikir seperti itu sudah
ketinggalan zaman.
Di era globalisasi dan revolusi industri 4.0 bahkan menuju 5.0 ini, belajar bukan lagi sekadar aktivitas anak
sekolah, tapi kebutuhan sepanjang hayat — terutama bagi orang dewasa.
Ya, pendidikan
orang dewasa kini bukan sekadar pelengkap, tapi menjadi kunci utama agar manusia
bisa bertahan dan berkembang di tengah perubahan besar yang sedang melanda
dunia.
Kita hidup di masa di mana teknologi, pekerjaan, dan keterampilan berubah lebih
cepat dari jadwal gajian.
Jadi kalau tidak mau tertinggal, satu-satunya jalan adalah: terus belajar, terus beradaptasi.
Nah, di artikel “Ruang Guru” kali ini, kita
akan ngobrol santai tapi mendalam tentang bagaimana tantangan dan inovasi
pendidikan orang dewasa berkembang di era globalisasi dan revolusi digital.
Kita juga akan menyinggung pentingnya lifelong
learning, serta tantangan
kebijakan dan praktik di Indonesia yang membuat topik ini
semakin menarik.
| Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing |
1. Globalisasi dan Revolusi
Industri: Dunia Tanpa Batas
Globalisasi telah mengubah cara kita bekerja,
berkomunikasi, dan belajar.
Dulu, kompetisi hanya antar-kabupaten atau antar-provinsi. Sekarang?
Kita bersaing dengan orang dari Jepang, India, bahkan Eropa — tanpa harus
keluar rumah.
Cukup lewat internet.
Sementara itu, revolusi industri 4.0 —
yang ditandai dengan otomatisasi, kecerdasan buatan (AI), big data, dan
internet of things (IoT) — telah mengubah wajah dunia kerja.
Banyak pekerjaan lama hilang, tapi muncul pula pekerjaan baru yang butuh
keterampilan yang sama sekali berbeda.
Misalnya, profesi seperti content creator, data analyst, digital
marketer, atau UI/UX designer,
semuanya lahir dari kemajuan teknologi.
Masalahnya, kebanyakan orang dewasa yang dulu belajar dengan sistem pendidikan
lama tidak dipersiapkan
untuk dunia kerja seperti ini.
Nah, di sinilah pendidikan orang dewasa
memainkan peran penting.
Ia menjadi jembatan antara “apa yang dulu kita pelajari” dan “apa yang sekarang
dunia butuhkan.”
2. Dari Revolusi Industri
4.0 Menuju 5.0: Saat Teknologi dan Kemanusiaan Menyatu
Kalau revolusi industri 4.0 fokus pada
digitalisasi dan otomatisasi,
maka revolusi industri 5.0
membawa pesan baru: menyeimbangkan
teknologi dan kemanusiaan.
Artinya, bukan hanya tentang robot dan mesin
pintar,
tapi bagaimana manusia bisa bekerja berdampingan dengan teknologi untuk
menciptakan nilai yang lebih bermakna.
Konsep ini sering disebut sebagai human-centered
society.
Dalam konteks pendidikan orang dewasa, hal ini
berarti pembelajaran tidak cukup hanya mengajarkan hard skills seperti
coding, desain, atau analisis data.
Kita juga perlu mengembangkan soft
skills seperti empati, kolaborasi, komunikasi, dan berpikir kritis.
Bayangkan, percuma seseorang ahli teknologi
tapi tidak bisa bekerja sama atau beradaptasi dengan perubahan sosial.
Revolusi 5.0 mengingatkan kita bahwa teknologi hanyalah alat — yang terpenting
tetap manusia.
3. Lifelong Learning:
Belajar Sepanjang Hayat Adalah Keharusan, Bukan Pilihan
Di masa lalu, banyak orang berpikir bahwa
belajar itu berhenti setelah lulus kuliah atau dapat gelar.
Tapi sekarang, logika itu sudah tidak berlaku lagi.
Justru belajar sepanjang hayat
(lifelong learning) menjadi kunci bertahan di dunia yang terus
berubah.
Konsep ini sebenarnya sederhana:
Belajar tidak boleh berhenti hanya karena umur bertambah.
Kita harus terus memperbarui pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan
menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Ada pepatah terkenal dari Alvin Toffler,
seorang futurolog:
“Orang buta huruf di abad ke-21 bukanlah
mereka yang tidak bisa membaca atau menulis, tetapi mereka yang tidak bisa
belajar, melupakan, dan belajar kembali.”
Maknanya dalam banget, kan?
Karena memang di dunia kerja saat ini, yang paling berharga bukan hanya
pengetahuan yang kita punya, tapi kemampuan
untuk terus belajar hal baru.
Banyak perusahaan global sekarang menilai
karyawannya bukan hanya dari pengalaman, tapi juga dari kemauan belajar.
Makanya muncul budaya seperti reskilling
dan upskilling — yaitu memperbarui
keterampilan agar tetap relevan.
Contohnya:
·
Seorang pegawai
administrasi belajar dasar-dasar data
analysis supaya bisa membaca laporan dengan lebih baik.
·
Seorang guru belajar
teknologi digital supaya bisa mengajar lewat platform online.
·
Seorang petani belajar
sistem smart farming agar hasil panennya
meningkat.
Semua itu adalah bentuk nyata pendidikan orang dewasa dalam praktik
lifelong learning.
4. Inovasi dalam Pendidikan
Orang Dewasa
Kalau bicara inovasi, dunia pendidikan orang
dewasa sebenarnya sedang sangat dinamis.
Teknologi digital membuat pembelajaran jadi lebih fleksibel, mudah diakses, dan
personal.
a. E-Learning dan Mobile
Learning
Sekarang, siapa pun bisa belajar dari mana
saja.
Kita tidak perlu datang ke ruang kelas fisik untuk belajar keterampilan baru.
Cukup lewat gawai, kita bisa mengakses kursus dari universitas luar negeri,
menonton video tutorial, atau mengikuti webinar profesional.
Platform seperti Coursera, Udemy, Ruangguru,
hingga Google Skillshop menyediakan ribuan pelatihan dengan sertifikat resmi.
Jadi, pembelajaran tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu.
Bahkan banyak perusahaan mulai memanfaatkan mobile learning —
pembelajaran berbasis ponsel — agar karyawan bisa belajar saat istirahat makan
siang atau di perjalanan.
b. Microlearning
Inovasi lain yang menarik adalah microlearning, yaitu
pembelajaran dalam format pendek dan ringkas.
Misalnya, video 5 menit yang menjelaskan satu topik spesifik seperti “cara
mengatur waktu efektif” atau “dasar Excel untuk pemula.”
Model ini cocok untuk orang dewasa yang sibuk tapi tetap ingin berkembang.
c. Pembelajaran Berbasis
Pengalaman (Experiential Learning)
Banyak program pelatihan kini tidak hanya
mengandalkan teori, tapi juga pengalaman
langsung.
Peserta diajak untuk melakukan simulasi, studi kasus, atau project nyata.
Tujuannya agar mereka tidak hanya tahu, tapi juga bisa.
d. Komunitas Belajar
(Learning Community)
Selain teknologi, kekuatan komunitas juga
sangat berperan.
Banyak kelompok belajar informal muncul di berbagai bidang: dari komunitas UMKM
digital, kelompok literasi, sampai forum pengajar daring.
Di sana, orang dewasa bisa saling berbagi pengalaman dan tumbuh bersama.
5. Tantangan Pendidikan
Orang Dewasa di Indonesia
Meski banyak inovasi, pendidikan orang dewasa
di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius.
a. Akses dan Kesenjangan
Digital
Masalah utama adalah kesenjangan akses
teknologi.
Masih banyak masyarakat, terutama di daerah pedesaan, yang kesulitan mengakses
internet stabil atau perangkat digital.
Padahal, pembelajaran modern banyak berbasis teknologi.
b. Kesadaran dan Motivasi
Tidak semua orang dewasa sadar pentingnya
belajar ulang.
Sebagian berpikir bahwa “usia sudah lewat” atau “belajar itu urusan anak muda.”
Padahal justru di usia produktif, belajar menjadi sangat penting agar tidak
tergilas perubahan.
c. Kurikulum yang Kurang
Fleksibel
Banyak lembaga pendidikan nonformal masih
terjebak dalam pola lama yang kaku dan kurang relevan dengan kebutuhan industri.
Idealnya, kurikulum pendidikan orang dewasa harus adaptif dan kontekstual —
sesuai dengan kebutuhan lokal dan perkembangan global.
d. Kebijakan yang Belum
Terintegrasi
Pendidikan orang dewasa di Indonesia sering
tersebar di berbagai lembaga: kementerian, dinas, hingga komunitas lokal.
Sayangnya, koordinasinya belum optimal.
Padahal, kalau bisa disatukan dalam kerangka kebijakan nasional yang kuat,
dampaknya akan jauh lebih besar.
6. Harapan dan Arah ke Depan
Untuk menjawab tantangan itu, ada beberapa
langkah inovatif yang bisa terus dikembangkan di Indonesia:
1.
Mendorong kolaborasi antara pemerintah,
industri, dan lembaga pendidikan.
Misalnya, perusahaan ikut merancang kurikulum pelatihan sesuai kebutuhan dunia
kerja.
2.
Menguatkan pendidikan vokasional dan
nonformal.
Supaya masyarakat bisa belajar keterampilan yang langsung bisa diterapkan.
3.
Mengembangkan platform nasional
pembelajaran digital.
Seperti “Merdeka Belajar” versi orang dewasa — tempat siapa pun bisa mengakses
pelatihan berkualitas secara gratis atau terjangkau.
4.
Menghargai pembelajaran nonformal.
Banyak orang belajar dari pengalaman kerja, tapi tidak punya sertifikat.
Indonesia bisa memperkuat sistem Recognition
of Prior Learning (RPL) untuk mengakui pengalaman itu secara resmi.
5.
Membangun budaya belajar sepanjang hayat.
Ini yang paling penting.
Karena tanpa kesadaran dari individu, semua kebijakan akan sulit berjalan.
7. Penutup: Dunia Berubah,
Maka Belajarlah Terus
Kita hidup di masa di mana perubahan bukan
lagi sesuatu yang datang lima tahun sekali,
tapi setiap bulan, bahkan setiap minggu.
Teknologi berkembang, gaya hidup bergeser,
cara bekerja berubah — dan semua itu menuntut kita untuk selalu siap belajar hal baru.
Pendidikan orang dewasa adalah solusi untuk
menghadapi dunia yang terus bergerak ini.
Ia bukan sekadar program pelatihan, tapi sebuah gerakan kesadaran kolektif
bahwa manusia tidak boleh berhenti berkembang.
Jadi, mau di kantor, di ladang, di dapur,
atau di pabrik — selama ada keinginan belajar, di situlah pendidikan orang
dewasa hidup.
Karena belajar bukan soal umur, tapi soal semangat untuk terus tumbuh.
No comments:
Post a Comment