Pendidikan Orang Dewasa di Dunia Kerja: Belajar Tak
Berhenti Meski Sudah Bekerja
Kalau dulu belajar identik dengan masa sekolah, sekarang paradigma itu sudah
berubah jauh.
Di dunia modern, belajar tidak berhenti ketika seseorang
lulus kuliah atau mendapat pekerjaan.
Justru sebaliknya, dunia kerja menuntut kita untuk terus
belajar dan berkembang — supaya bisa mengikuti perubahan zaman
yang supercepat.
Inilah yang disebut sebagai pendidikan orang dewasa
di dunia kerja.
Di kantor, di pabrik, di kampus, bahkan di startup digital, pembelajaran
kini menjadi bagian dari strategi besar perusahaan.
Orang tidak lagi sekadar bekerja untuk menyelesaikan tugas, tapi juga untuk meningkatkan
kompetensinya.
Karena pada akhirnya, perusahaan yang hebat dibangun oleh orang-orang
yang mau terus belajar.
Nah, di artikel “Ruang Guru” kali ini, kita akan ngobrol santai tentang
bagaimana konsep pendidikan orang dewasa
diterapkan di dunia kerja — melalui pelatihan SDM, program pengembangan diri,
corporate training, hingga budaya lifelong learning.
| Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing |
1. Dunia Kerja: Kampus Kedua
bagi Orang Dewasa
Kita sering menganggap kantor atau tempat kerja hanya sebagai tempat mencari
nafkah.
Padahal, sebenarnya dunia kerja adalah kampus terbesar untuk
orang dewasa.
Kenapa?
Karena hampir setiap hari di tempat kerja, kita belajar sesuatu — entah itu
tentang manajemen waktu, komunikasi, kolaborasi, hingga cara menghadapi
tekanan.
Namun, bedanya dengan sekolah, belajar di dunia kerja
tidak selalu terstruktur.
Banyak orang belajar lewat pengalaman, interaksi, dan tantangan nyata.
Di sinilah konsep pendidikan orang dewasa (andragogi)
menjadi sangat relevan.
Orang dewasa tidak suka disuruh belajar dengan cara menghafal.
Mereka lebih suka belajar ketika tahu manfaat langsungnya
bagi pekerjaan atau kehidupannya.
Jadi, ketika perusahaan merancang program pelatihan, kuncinya bukan sekadar
memberi materi — tapi memberi makna.
2. Pelatihan dan
Pengembangan SDM: Investasi yang Tak Bisa Diabaikan
Setiap organisasi pasti ingin maju.
Tapi untuk maju, yang harus berkembang lebih dulu bukan hanya teknologinya,
melainkan manusianya.
Inilah mengapa pelatihan dan pengembangan SDM menjadi kunci penting dalam dunia
kerja modern.
Pelatihan SDM (Training):
Belajar untuk Kompetensi
Pelatihan biasanya fokus pada pembekalan keterampilan
tertentu.
Misalnya:
·
Pelatihan teknis
(mengoperasikan mesin, software, alat tertentu),
·
Pelatihan layanan
pelanggan,
·
Pelatihan kepemimpinan
dasar,
·
Atau pelatihan keselamatan
kerja.
Pelatihan ini sering bersifat jangka pendek dan terukur.
Tujuannya: agar pegawai bisa langsung menerapkan keterampilan baru
dalam pekerjaannya.
Contoh sederhana:
Di sebuah pabrik, pekerja diberi pelatihan tentang sistem digital baru untuk
memantau produksi. Setelah pelatihan, mereka bisa bekerja lebih efisien dan
mengurangi kesalahan manual.
Atau di perusahaan jasa:
Karyawan front office dilatih cara berkomunikasi yang lebih ramah dan
solutif — hasilnya, kepuasan pelanggan meningkat.
Pelatihan seperti ini bukan sekadar rutinitas, tapi investasi
jangka panjang.
Karena ketika SDM berkembang, produktivitas dan inovasi perusahaan ikut naik.
Pengembangan SDM
(Development): Belajar untuk Pertumbuhan
Kalau pelatihan fokus pada keterampilan teknis, pengembangan
SDM lebih luas lagi — ia menyentuh pola
pikir, nilai, dan kepemimpinan.
Contohnya:
·
Program mentoring bagi
calon manajer,
·
Coaching untuk pengembangan
karier,
·
Workshop kreativitas dan
problem solving,
·
Pelatihan komunikasi lintas
budaya untuk tim global.
Tujuan pengembangan SDM adalah mempersiapkan karyawan
untuk tanggung jawab yang lebih besar.
Bukan hanya agar mereka bisa bekerja lebih baik hari ini, tapi juga agar siap
menghadapi perubahan di masa depan.
3. Corporate Training: Dari
Kewajiban Jadi Budaya Belajar
Kalau dulu pelatihan di kantor identik dengan “acara formal yang
membosankan,” kini dunia kerja sudah berubah total.
Banyak perusahaan yang menjadikan pelatihan bukan sekadar kewajiban HRD, tapi bagian
dari budaya organisasi.
Corporate training sekarang tampil lebih kreatif, interaktif, dan relevan
dengan kebutuhan pekerja modern.
Apalagi sejak munculnya teknologi digital, pelatihan bisa dilakukan kapan saja,
di mana saja.
Beberapa bentuk corporate
training yang populer saat ini:
1. In-house training:
Pelatihan langsung di dalam perusahaan, sering kali difasilitasi oleh mentor
internal.
Misalnya pelatihan leadership oleh direktur atau kepala divisi.
2. Workshop tematik:
Pelatihan singkat tentang topik tertentu seperti “Design Thinking” atau
“Emotional Intelligence.”
3. Online learning platform:
Banyak perusahaan berlangganan platform seperti Coursera, Udemy, LinkedIn
Learning, dan sejenisnya.
4. Microlearning: Pelatihan
berbasis video singkat atau modul kecil yang bisa diakses cepat — cocok untuk
pekerja sibuk.
5. Blended learning:
Kombinasi pelatihan tatap muka dan online agar lebih fleksibel dan interaktif.
Yang menarik, pelatihan sekarang tidak lagi bersifat satu arah.
Karyawan juga dilibatkan untuk berbagi pengalaman dan
mengajar rekan kerjanya.
Hal ini sejalan dengan prinsip andragogi: orang dewasa belajar paling efektif
ketika mereka terlibat aktif dan punya otonomi.
4. Belajar Sepanjang Hayat
(Lifelong Learning): Kunci Bertahan di Dunia yang Terus Berubah
Mari jujur: dunia kerja hari ini berubah lebih cepat dari sebelumnya.
Pekerjaan yang kita kenal 10 tahun lalu bisa jadi sudah hilang sekarang,
digantikan oleh peran baru yang menuntut keterampilan berbeda.
Contohnya:
·
Dulu belum ada profesi
seperti data analyst, content creator, atau UX
researcher.
·
Tapi sekarang, perusahaan
berlomba-lomba mencari talenta di bidang itu.
Nah, di tengah perubahan ini, satu hal yang pasti:
Yang bertahan bukan yang paling pintar, tapi yang paling mau
belajar.
Itulah makna sejati dari lifelong learning —
belajar sepanjang hayat.
Lifelong learning bukan tentang sekolah tanpa henti, tapi tentang rasa
ingin tahu yang tidak pernah padam.
Orang yang punya semangat lifelong learning akan terus mencari cara untuk
berkembang, meski tanpa disuruh.
Contohnya:
·
Seorang karyawan keuangan
belajar analisis data karena ingin memahami tren bisnis,
·
Seorang guru belajar
teknologi digital agar bisa mengajar lebih menarik,
·
Seorang pegawai
administrasi belajar bahasa asing karena sering berkomunikasi dengan klien luar
negeri.
Dan semua itu dilakukan bukan karena perintah atasan, tapi karena kesadaran
diri untuk bertumbuh.
5. Tantangan dalam
Pendidikan Orang Dewasa di Dunia Kerja
Tentu saja, mengembangkan pembelajaran di dunia kerja tidak selalu mudah.
Ada beberapa tantangan yang sering muncul:
1. Waktu dan beban kerja.
Banyak karyawan yang merasa terlalu sibuk untuk ikut pelatihan. Padahal,
belajar membutuhkan waktu dan fokus.
2. Motivasi yang rendah.
Jika pelatihan tidak relevan dengan kebutuhan nyata, karyawan bisa merasa bosan
dan tidak termotivasi.
3. Budaya organisasi yang belum mendukung.
Di beberapa tempat kerja, belajar masih dianggap “tidak produktif” karena tidak
langsung menghasilkan uang.
4. Kurangnya fasilitas digital.
Terutama di sektor tradisional atau daerah, akses ke teknologi pembelajaran
masih terbatas.
5. Kurangnya dukungan pimpinan.
Tanpa dukungan atasan, karyawan sulit mengalokasikan waktu dan energi untuk
belajar.
Namun kabar baiknya, semua tantangan itu bisa diatasi dengan perubahan
paradigma.
Ketika perusahaan mulai melihat pembelajaran sebagai bagian dari strategi
bisnis,
dan karyawan mulai menyadari bahwa belajar adalah investasi diri,
maka pendidikan orang dewasa di dunia kerja bisa menjadi kekuatan yang luar
biasa.
6. Membangun Budaya Belajar
di Tempat Kerja
Agar pembelajaran di dunia kerja tidak hanya berhenti di pelatihan sesaat,
perusahaan perlu membangun budaya belajar — atau
istilah kerennya, learning culture.
Beberapa cara untuk
menumbuhkan budaya belajar:
·
Berikan
ruang untuk eksperimen.
Biarkan karyawan mencoba hal baru, bahkan jika itu berarti gagal di awal.
Karena dari kegagalan, mereka belajar lebih banyak.
·
Berikan
penghargaan bagi yang mau belajar.
Misalnya, sertifikat, pengakuan publik, atau bahkan kesempatan promosi.
·
Libatkan
semua level.
Budaya belajar tidak akan hidup kalau hanya dijalankan oleh HRD.
Pimpinan juga harus menjadi teladan.
·
Gunakan
teknologi.
Manfaatkan platform e-learning, webinar, atau grup diskusi daring untuk
memperluas akses belajar.
·
Bangun
komunitas belajar internal.
Misalnya, “Komunitas Pemimpin Muda,” “Forum Inovator,” atau “Ruang Belajar
Digital.”
Ketika belajar menjadi bagian dari keseharian kerja, maka perusahaan bukan
hanya punya karyawan yang kompeten, tapi juga karyawan yang bahagia
dan produktif.
7. Dari Pelatihan Menuju
Transformasi
Tujuan akhir dari pendidikan orang dewasa di dunia kerja bukan sekadar agar
karyawan tahu lebih banyak, tapi agar mereka menjadi lebih baik.
Pelatihan dan pengembangan yang efektif akan menghasilkan perubahan nyata:
·
Dari pegawai yang hanya
menunggu perintah menjadi inisiator ide baru,
·
Dari tim yang pasif menjadi
kolaboratif dan kreatif,
·
Dari organisasi yang kaku
menjadi organisasi pembelajar (learning
organization).
Seperti kata Peter Senge, tokoh terkenal dalam manajemen organisasi:
“Organisasi yang mampu belajar lebih cepat dari pesaingnya akan menjadi
pemenang sejati di masa depan.”
8. Penutup: Belajar Tak
Kenal Kata Usia
Di dunia kerja modern, pendidikan orang dewasa bukan lagi
pilihan, tapi kebutuhan.
Setiap individu, apa pun profesinya, harus punya semangat untuk terus belajar
dan beradaptasi.
Karena pada akhirnya, yang membedakan orang sukses dengan yang tertinggal
bukanlah ijazah, tapi kemauan untuk belajar ulang dan berubah.
Jadi, kalau kamu hari ini merasa pekerjaanmu mulai berubah,
atau merasa perlu menambah keterampilan baru,
jangan ragu untuk kembali belajar.
Ingat, belajar bukan soal umur — tapi soal sikap.
Dan dunia kerja hanyalah salah satu kelas besar dalam sekolah kehidupan.
No comments:
Post a Comment