Friday, November 21, 2025

Pendidikan Orang Dewasa di Dunia Kerja: Belajar Tak Berhenti Meski Sudah Bekerja

 

Pendidikan Orang Dewasa di Dunia Kerja: Belajar Tak Berhenti Meski Sudah Bekerja

Kalau dulu belajar identik dengan masa sekolah, sekarang paradigma itu sudah berubah jauh.
Di dunia modern, belajar tidak berhenti ketika seseorang lulus kuliah atau mendapat pekerjaan.
Justru sebaliknya, dunia kerja menuntut kita untuk terus belajar dan berkembang — supaya bisa mengikuti perubahan zaman yang supercepat.

Inilah yang disebut sebagai pendidikan orang dewasa di dunia kerja.

Di kantor, di pabrik, di kampus, bahkan di startup digital, pembelajaran kini menjadi bagian dari strategi besar perusahaan.
Orang tidak lagi sekadar bekerja untuk menyelesaikan tugas, tapi juga untuk meningkatkan kompetensinya.
Karena pada akhirnya, perusahaan yang hebat dibangun oleh orang-orang yang mau terus belajar.

Nah, di artikel “Ruang Guru” kali ini, kita akan ngobrol santai tentang bagaimana konsep pendidikan orang dewasa diterapkan di dunia kerja — melalui pelatihan SDM, program pengembangan diri, corporate training, hingga budaya lifelong learning.

 

Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing

1. Dunia Kerja: Kampus Kedua bagi Orang Dewasa

Kita sering menganggap kantor atau tempat kerja hanya sebagai tempat mencari nafkah.
Padahal, sebenarnya dunia kerja adalah kampus terbesar untuk orang dewasa.

Kenapa?
Karena hampir setiap hari di tempat kerja, kita belajar sesuatu — entah itu tentang manajemen waktu, komunikasi, kolaborasi, hingga cara menghadapi tekanan.

Namun, bedanya dengan sekolah, belajar di dunia kerja tidak selalu terstruktur.
Banyak orang belajar lewat pengalaman, interaksi, dan tantangan nyata.
Di sinilah konsep pendidikan orang dewasa (andragogi) menjadi sangat relevan.

Orang dewasa tidak suka disuruh belajar dengan cara menghafal.
Mereka lebih suka belajar ketika tahu manfaat langsungnya bagi pekerjaan atau kehidupannya.

Jadi, ketika perusahaan merancang program pelatihan, kuncinya bukan sekadar memberi materi — tapi memberi makna.

 

2. Pelatihan dan Pengembangan SDM: Investasi yang Tak Bisa Diabaikan

Setiap organisasi pasti ingin maju.
Tapi untuk maju, yang harus berkembang lebih dulu bukan hanya teknologinya, melainkan manusianya.
Inilah mengapa pelatihan dan pengembangan SDM menjadi kunci penting dalam dunia kerja modern.

Pelatihan SDM (Training): Belajar untuk Kompetensi

Pelatihan biasanya fokus pada pembekalan keterampilan tertentu.
Misalnya:

·         Pelatihan teknis (mengoperasikan mesin, software, alat tertentu),

·         Pelatihan layanan pelanggan,

·         Pelatihan kepemimpinan dasar,

·         Atau pelatihan keselamatan kerja.

Pelatihan ini sering bersifat jangka pendek dan terukur.
Tujuannya: agar pegawai bisa langsung menerapkan keterampilan baru dalam pekerjaannya.

Contoh sederhana:

Di sebuah pabrik, pekerja diberi pelatihan tentang sistem digital baru untuk memantau produksi. Setelah pelatihan, mereka bisa bekerja lebih efisien dan mengurangi kesalahan manual.

Atau di perusahaan jasa:

Karyawan front office dilatih cara berkomunikasi yang lebih ramah dan solutif — hasilnya, kepuasan pelanggan meningkat.

Pelatihan seperti ini bukan sekadar rutinitas, tapi investasi jangka panjang.
Karena ketika SDM berkembang, produktivitas dan inovasi perusahaan ikut naik.

Pengembangan SDM (Development): Belajar untuk Pertumbuhan

Kalau pelatihan fokus pada keterampilan teknis, pengembangan SDM lebih luas lagi — ia menyentuh pola pikir, nilai, dan kepemimpinan.

Contohnya:

·         Program mentoring bagi calon manajer,

·         Coaching untuk pengembangan karier,

·         Workshop kreativitas dan problem solving,

·         Pelatihan komunikasi lintas budaya untuk tim global.

Tujuan pengembangan SDM adalah mempersiapkan karyawan untuk tanggung jawab yang lebih besar.
Bukan hanya agar mereka bisa bekerja lebih baik hari ini, tapi juga agar siap menghadapi perubahan di masa depan.

 

3. Corporate Training: Dari Kewajiban Jadi Budaya Belajar

Kalau dulu pelatihan di kantor identik dengan “acara formal yang membosankan,” kini dunia kerja sudah berubah total.
Banyak perusahaan yang menjadikan pelatihan bukan sekadar kewajiban HRD, tapi bagian dari budaya organisasi.

Corporate training sekarang tampil lebih kreatif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan pekerja modern.
Apalagi sejak munculnya teknologi digital, pelatihan bisa dilakukan kapan saja, di mana saja.

Beberapa bentuk corporate training yang populer saat ini:

1.      In-house training: Pelatihan langsung di dalam perusahaan, sering kali difasilitasi oleh mentor internal.
Misalnya pelatihan leadership oleh direktur atau kepala divisi.

2.      Workshop tematik: Pelatihan singkat tentang topik tertentu seperti “Design Thinking” atau “Emotional Intelligence.”

3.      Online learning platform: Banyak perusahaan berlangganan platform seperti Coursera, Udemy, LinkedIn Learning, dan sejenisnya.

4.      Microlearning: Pelatihan berbasis video singkat atau modul kecil yang bisa diakses cepat — cocok untuk pekerja sibuk.

5.      Blended learning: Kombinasi pelatihan tatap muka dan online agar lebih fleksibel dan interaktif.

Yang menarik, pelatihan sekarang tidak lagi bersifat satu arah.
Karyawan juga dilibatkan untuk berbagi pengalaman dan mengajar rekan kerjanya.
Hal ini sejalan dengan prinsip andragogi: orang dewasa belajar paling efektif ketika mereka terlibat aktif dan punya otonomi.

 

4. Belajar Sepanjang Hayat (Lifelong Learning): Kunci Bertahan di Dunia yang Terus Berubah

Mari jujur: dunia kerja hari ini berubah lebih cepat dari sebelumnya.
Pekerjaan yang kita kenal 10 tahun lalu bisa jadi sudah hilang sekarang, digantikan oleh peran baru yang menuntut keterampilan berbeda.

Contohnya:

·         Dulu belum ada profesi seperti data analyst, content creator, atau UX researcher.

·         Tapi sekarang, perusahaan berlomba-lomba mencari talenta di bidang itu.

Nah, di tengah perubahan ini, satu hal yang pasti:
Yang bertahan bukan yang paling pintar, tapi yang paling mau belajar.

Itulah makna sejati dari lifelong learning — belajar sepanjang hayat.

Lifelong learning bukan tentang sekolah tanpa henti, tapi tentang rasa ingin tahu yang tidak pernah padam.
Orang yang punya semangat lifelong learning akan terus mencari cara untuk berkembang, meski tanpa disuruh.

Contohnya:

·         Seorang karyawan keuangan belajar analisis data karena ingin memahami tren bisnis,

·         Seorang guru belajar teknologi digital agar bisa mengajar lebih menarik,

·         Seorang pegawai administrasi belajar bahasa asing karena sering berkomunikasi dengan klien luar negeri.

Dan semua itu dilakukan bukan karena perintah atasan, tapi karena kesadaran diri untuk bertumbuh.

 

5. Tantangan dalam Pendidikan Orang Dewasa di Dunia Kerja

Tentu saja, mengembangkan pembelajaran di dunia kerja tidak selalu mudah.
Ada beberapa tantangan yang sering muncul:

1.      Waktu dan beban kerja.
Banyak karyawan yang merasa terlalu sibuk untuk ikut pelatihan. Padahal, belajar membutuhkan waktu dan fokus.

2.      Motivasi yang rendah.
Jika pelatihan tidak relevan dengan kebutuhan nyata, karyawan bisa merasa bosan dan tidak termotivasi.

3.      Budaya organisasi yang belum mendukung.
Di beberapa tempat kerja, belajar masih dianggap “tidak produktif” karena tidak langsung menghasilkan uang.

4.      Kurangnya fasilitas digital.
Terutama di sektor tradisional atau daerah, akses ke teknologi pembelajaran masih terbatas.

5.      Kurangnya dukungan pimpinan.
Tanpa dukungan atasan, karyawan sulit mengalokasikan waktu dan energi untuk belajar.

Namun kabar baiknya, semua tantangan itu bisa diatasi dengan perubahan paradigma.

Ketika perusahaan mulai melihat pembelajaran sebagai bagian dari strategi bisnis,
dan karyawan mulai menyadari bahwa belajar adalah investasi diri,
maka pendidikan orang dewasa di dunia kerja bisa menjadi kekuatan yang luar biasa.

 

6. Membangun Budaya Belajar di Tempat Kerja

Agar pembelajaran di dunia kerja tidak hanya berhenti di pelatihan sesaat, perusahaan perlu membangun budaya belajar — atau istilah kerennya, learning culture.

Beberapa cara untuk menumbuhkan budaya belajar:

·         Berikan ruang untuk eksperimen.
Biarkan karyawan mencoba hal baru, bahkan jika itu berarti gagal di awal.
Karena dari kegagalan, mereka belajar lebih banyak.

·         Berikan penghargaan bagi yang mau belajar.
Misalnya, sertifikat, pengakuan publik, atau bahkan kesempatan promosi.

·         Libatkan semua level.
Budaya belajar tidak akan hidup kalau hanya dijalankan oleh HRD.
Pimpinan juga harus menjadi teladan.

·         Gunakan teknologi.
Manfaatkan platform e-learning, webinar, atau grup diskusi daring untuk memperluas akses belajar.

·         Bangun komunitas belajar internal.
Misalnya, “Komunitas Pemimpin Muda,” “Forum Inovator,” atau “Ruang Belajar Digital.”

Ketika belajar menjadi bagian dari keseharian kerja, maka perusahaan bukan hanya punya karyawan yang kompeten, tapi juga karyawan yang bahagia dan produktif.

 

7. Dari Pelatihan Menuju Transformasi

Tujuan akhir dari pendidikan orang dewasa di dunia kerja bukan sekadar agar karyawan tahu lebih banyak, tapi agar mereka menjadi lebih baik.

Pelatihan dan pengembangan yang efektif akan menghasilkan perubahan nyata:

·         Dari pegawai yang hanya menunggu perintah menjadi inisiator ide baru,

·         Dari tim yang pasif menjadi kolaboratif dan kreatif,

·         Dari organisasi yang kaku menjadi organisasi pembelajar (learning organization).

Seperti kata Peter Senge, tokoh terkenal dalam manajemen organisasi:

“Organisasi yang mampu belajar lebih cepat dari pesaingnya akan menjadi pemenang sejati di masa depan.”

 

8. Penutup: Belajar Tak Kenal Kata Usia

Di dunia kerja modern, pendidikan orang dewasa bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan.
Setiap individu, apa pun profesinya, harus punya semangat untuk terus belajar dan beradaptasi.

Karena pada akhirnya, yang membedakan orang sukses dengan yang tertinggal bukanlah ijazah, tapi kemauan untuk belajar ulang dan berubah.

Jadi, kalau kamu hari ini merasa pekerjaanmu mulai berubah,
atau merasa perlu menambah keterampilan baru,
jangan ragu untuk kembali belajar.

Ingat, belajar bukan soal umur — tapi soal sikap.
Dan dunia kerja hanyalah salah satu kelas besar dalam sekolah kehidupan.

 

No comments:

Post a Comment

Menyusun Target dan Indikator Kompetensi: Panduan Santai untuk Guru Hebat

  Pernah nggak sih kamu merasa bingung saat bikin rencana pembelajaran? Kadang rasanya kayak nyusun puzzle — semua harus pas: dari kompete...