“Seandainya Saya Jadi Guru”: Tulisan Reflektif dari Sisi Siswa
Seandainya Saya Jadi Guru |
Sejujurnya, hampir semua siswa pernah mengucapkan kalimat ini — entah dalam hati, entah terang-terangan:
“Kalau saya jadi guru, saya tidak akan seperti itu.”
Biasanya diucapkan setelah mendapat PR terlalu banyak, ulangan mendadak,
atau teguran karena hal sepele. Saat masih menjadi siswa, posisi guru sering
terasa seperti “pihak sana” — otoritas yang punya kuasa menentukan nasib nilai,
tugas, bahkan suasana kelas.
Namun semakin bertambah usia, semakin banyak siswa yang mulai melihat dari
sudut pandang berbeda. Apalagi ketika pernah diminta presentasi di depan kelas,
memimpin kelompok, atau mengajar adik di rumah. Ternyata… tidak semudah
kelihatannya.
Tulisan ini adalah refleksi dari sisi siswa: tentang seperti apa jadinya
jika suatu hari mereka berada di posisi guru.
Guru Itu Tidak Cuma Mengajar
Dulu saya pikir tugas guru itu sederhana: menjelaskan materi, memberi tugas,
lalu pulang. Bahkan kadang muncul pikiran sinis, “Enak ya jadi guru, tiap tahun
materi sama.”
Namun persepsi itu mulai retak ketika melihat guru tetap sabar menjelaskan
hal yang sama berkali-kali — kepada puluhan siswa dengan tingkat pemahaman
berbeda.
Jika saya jadi guru, saya mungkin baru sadar bahwa:
·
Tidak semua siswa mendengarkan
·
Tidak semua siswa siap belajar
·
Tidak semua siswa punya kondisi rumah yang
mendukung
·
Tidak semua siswa punya motivasi yang sama
Mengajar bukan sekadar menyampaikan informasi. Mengajar adalah mengelola
manusia.
Tidak Semua Kelas Itu Sama
Sebagai siswa, kita hanya merasakan satu sisi: duduk, mendengar, mengerjakan
tugas. Tapi guru harus menghadapi banyak kelas dengan karakter berbeda.
Ada kelas yang aktif, ada yang pasif. Ada yang ribut, ada yang terlalu diam.
Ada yang kompetitif, ada yang santai. Bahkan dalam satu kelas, dinamika bisa
berubah dari hari ke hari.
Jika saya jadi guru, mungkin saya akan mengerti kenapa guru kadang terlihat
lelah sebelum pelajaran dimulai. Bukan karena materi sulit, tetapi karena
energi sosial yang dibutuhkan sangat besar.
Mengendalikan satu kelas saja sudah seperti memimpin rapat besar — setiap
hari.
PR Itu Bukan Balas Dendam
Salah satu teori konspirasi siswa sepanjang masa: guru memberi PR karena
ingin menyiksa.
Tapi jika saya jadi guru, saya mungkin akan melihatnya berbeda. PR bukan
sekadar pekerjaan tambahan, tetapi cara memastikan siswa benar-benar berlatih.
Masalahnya, dari sisi siswa, PR datang dari banyak guru sekaligus. Akibatnya
terasa menumpuk.
Jika saya jadi guru, saya ingin tetap memberi latihan — tapi juga
mempertimbangkan beban keseluruhan siswa. Karena kehidupan siswa tidak hanya
tentang satu mata pelajaran.
Ulangan Mendadak: Kejam atau Perlu?
Tidak ada yang membuat jantung siswa berdegup lebih cepat daripada kalimat:
“Hari ini kita ulangan.”
Dari sisi siswa, ini terasa seperti jebakan. Dari sisi guru, mungkin ini
cara melihat kemampuan nyata tanpa persiapan instan.
Jika saya jadi guru, saya ingin tetap mengevaluasi secara jujur, tetapi
tanpa membuat siswa merasa terancam. Karena belajar yang didorong ketakutan
biasanya tidak bertahan lama.
Murid Nakal Belum Tentu Jahat
Saat menjadi siswa, kita cenderung melihat teman yang sering dimarahi
sebagai “biang masalah”. Namun jika suatu hari menjadi guru, perspektif itu
bisa berubah total.
Guru melihat lebih banyak hal:
·
Anak yang ribut mungkin mencari perhatian
·
Anak yang tidur mungkin kurang istirahat di
rumah
·
Anak yang tidak mengerjakan tugas mungkin sedang
menghadapi masalah pribadi
·
Anak yang melawan mungkin sebenarnya sedang
bingung
Jika saya jadi guru, saya ingin mencoba memahami sebelum menghakimi. Karena
perilaku sering hanya gejala, bukan akar masalah.
Guru Juga Manusia
Ini mungkin pelajaran paling mengejutkan saat mulai dewasa: guru ternyata
bukan robot.
Mereka punya keluarga, masalah pribadi, kesehatan, tanggung jawab administratif,
bahkan tekanan pekerjaan yang tidak terlihat oleh siswa.
Saat siswa mengeluh guru terlihat “bad mood”, mungkin ada hal besar yang
sedang mereka hadapi.
Jika saya jadi guru, saya berharap siswa juga bisa melihat sisi manusiawi
itu — meskipun tentu tidak realistis mengharapkan semua siswa memahami.
Mengajar Bukan Hanya Soal Pintar
Banyak siswa berpikir guru pasti sangat pintar. Itu benar, tapi kecerdasan
akademik saja tidak cukup.
Guru juga harus punya:
·
Kesabaran tingkat tinggi
·
Kemampuan komunikasi
·
Empati
·
Manajemen kelas
·
Kreativitas
·
Ketahanan mental
Jika saya jadi guru, mungkin tantangan terbesar bukan menjelaskan materi,
tetapi menjaga semangat siswa tetap hidup.
Guru yang Diingat Bukan yang Paling Mudah
Sebagai siswa, kita cenderung menyukai guru yang santai dan tidak banyak
tugas. Tapi anehnya, saat mengingat kembali masa sekolah, guru yang paling
membekas justru yang menantang.
Mereka yang:
·
Memaksa kita berpikir lebih dalam
·
Tidak mudah puas
·
Memberi standar tinggi
·
Tapi tetap peduli
Jika saya jadi guru, saya ingin menjadi tegas tapi adil — tidak menakutkan,
tapi juga tidak terlalu longgar.
Pelajaran yang Tidak Ada di Buku
Siswa sering tidak sadar bahwa guru mengajarkan lebih dari materi pelajaran.
Cara berbicara, cara menyelesaikan konflik, cara menghargai waktu, cara
memperlakukan orang lain — semua itu dipelajari diam-diam melalui contoh.
Jika saya jadi guru, saya ingin ingat bahwa setiap tindakan di kelas adalah
“kurikulum tersembunyi”.
Karena siswa mungkin lupa rumus, tapi tidak lupa bagaimana mereka
diperlakukan.
Keinginan Sederhana dari Sudut Pandang Siswa
Jika benar-benar diberi kesempatan menjadi guru, banyak siswa mungkin punya
harapan sederhana:
·
Menjelaskan sampai benar-benar dipahami, bukan
sekadar selesai
·
Memberi kesempatan bertanya tanpa membuat malu
·
Tidak membandingkan siswa satu dengan yang lain
·
Menghargai usaha, bukan hanya hasil
·
Memberi ruang untuk kesalahan
·
Menciptakan kelas yang aman secara emosional
Hal-hal ini terlihat kecil, tapi dampaknya besar.
Realita yang Mungkin Baru Dipahami Nanti
Namun refleksi jujur juga harus mengakui: menjadi guru ideal seperti yang
dibayangkan siswa tidak selalu mudah diwujudkan.
Ada kurikulum, target, administrasi, jumlah siswa besar, keterbatasan waktu,
dan banyak faktor lain.
Jika saya jadi guru, mungkin saya akan memahami bahwa pendidikan adalah seni
kompromi antara idealisme dan realitas.
Mengapa Refleksi Ini Penting?
Tulisan “seandainya saya jadi guru” sebenarnya bukan tentang mengkritik
guru. Ini tentang membangun empati dua arah.
Ketika siswa mencoba melihat dari sisi guru, mereka belajar menghargai.
Ketika guru mencoba memahami perspektif siswa, mereka bisa mengajar lebih
efektif.
Pendidikan terbaik terjadi ketika kedua pihak saling melihat sebagai
manusia, bukan peran semata.
Mungkin Suatu Hari Benar-Benar Terjadi
Tidak sedikit siswa yang akhirnya benar-benar menjadi guru. Dan saat itu
tiba, mereka sering tersenyum mengingat pikiran masa lalu:
“Oh… ternyata begini rasanya.”
Mereka mulai memahami kenapa guru dulu bertindak seperti itu. Kenapa ada
aturan. Kenapa ada tugas. Kenapa ada teguran.
Dan mungkin, mereka juga berusaha memperbaiki hal-hal yang dulu terasa
kurang.
Begitulah pendidikan berkembang — generasi baru membawa pengalaman sebagai
siswa untuk menjadi guru yang lebih baik.
Penutup: Dari Siswa untuk Guru
Jika tulisan ini bisa dirangkum dalam satu kalimat, mungkin ini:
Siswa tidak selalu membutuhkan guru yang sempurna — mereka membutuhkan guru
yang memahami.
“Seandainya saya jadi guru” adalah latihan membayangkan tanggung jawab besar
yang selama ini dipikul orang lain. Latihan empati. Latihan kedewasaan.
Dan siapa tahu, di antara siswa yang membaca ini sekarang, ada calon guru
hebat di masa depan — guru yang mengajar dengan pengetahuan sekaligus ingatan
tentang bagaimana rasanya duduk di bangku siswa.
Karena guru terbaik bukan yang lupa pernah menjadi murid.
Guru terbaik adalah yang tetap mengingatnya.