Tuesday, December 30, 2025

Seandainya Saya Jadi Guru”: Tulisan Reflektif dari Sisi Siswa

“Seandainya Saya Jadi Guru”: Tulisan Reflektif dari Sisi Siswa

Seandainya Saya Jadi Guru


Sejujurnya, hampir semua siswa pernah mengucapkan kalimat ini — entah dalam hati, entah terang-terangan:

“Kalau saya jadi guru, saya tidak akan seperti itu.”

Biasanya diucapkan setelah mendapat PR terlalu banyak, ulangan mendadak, atau teguran karena hal sepele. Saat masih menjadi siswa, posisi guru sering terasa seperti “pihak sana” — otoritas yang punya kuasa menentukan nasib nilai, tugas, bahkan suasana kelas.

Namun semakin bertambah usia, semakin banyak siswa yang mulai melihat dari sudut pandang berbeda. Apalagi ketika pernah diminta presentasi di depan kelas, memimpin kelompok, atau mengajar adik di rumah. Ternyata… tidak semudah kelihatannya.

Tulisan ini adalah refleksi dari sisi siswa: tentang seperti apa jadinya jika suatu hari mereka berada di posisi guru.

 

Guru Itu Tidak Cuma Mengajar

Dulu saya pikir tugas guru itu sederhana: menjelaskan materi, memberi tugas, lalu pulang. Bahkan kadang muncul pikiran sinis, “Enak ya jadi guru, tiap tahun materi sama.”

Namun persepsi itu mulai retak ketika melihat guru tetap sabar menjelaskan hal yang sama berkali-kali — kepada puluhan siswa dengan tingkat pemahaman berbeda.

Jika saya jadi guru, saya mungkin baru sadar bahwa:

·         Tidak semua siswa mendengarkan

·         Tidak semua siswa siap belajar

·         Tidak semua siswa punya kondisi rumah yang mendukung

·         Tidak semua siswa punya motivasi yang sama

Mengajar bukan sekadar menyampaikan informasi. Mengajar adalah mengelola manusia.

 

Tidak Semua Kelas Itu Sama

Sebagai siswa, kita hanya merasakan satu sisi: duduk, mendengar, mengerjakan tugas. Tapi guru harus menghadapi banyak kelas dengan karakter berbeda.

Ada kelas yang aktif, ada yang pasif. Ada yang ribut, ada yang terlalu diam. Ada yang kompetitif, ada yang santai. Bahkan dalam satu kelas, dinamika bisa berubah dari hari ke hari.

Jika saya jadi guru, mungkin saya akan mengerti kenapa guru kadang terlihat lelah sebelum pelajaran dimulai. Bukan karena materi sulit, tetapi karena energi sosial yang dibutuhkan sangat besar.

Mengendalikan satu kelas saja sudah seperti memimpin rapat besar — setiap hari.

 

PR Itu Bukan Balas Dendam

Salah satu teori konspirasi siswa sepanjang masa: guru memberi PR karena ingin menyiksa.

Tapi jika saya jadi guru, saya mungkin akan melihatnya berbeda. PR bukan sekadar pekerjaan tambahan, tetapi cara memastikan siswa benar-benar berlatih.

Masalahnya, dari sisi siswa, PR datang dari banyak guru sekaligus. Akibatnya terasa menumpuk.

Jika saya jadi guru, saya ingin tetap memberi latihan — tapi juga mempertimbangkan beban keseluruhan siswa. Karena kehidupan siswa tidak hanya tentang satu mata pelajaran.

 

Ulangan Mendadak: Kejam atau Perlu?

Tidak ada yang membuat jantung siswa berdegup lebih cepat daripada kalimat:

“Hari ini kita ulangan.”

Dari sisi siswa, ini terasa seperti jebakan. Dari sisi guru, mungkin ini cara melihat kemampuan nyata tanpa persiapan instan.

Jika saya jadi guru, saya ingin tetap mengevaluasi secara jujur, tetapi tanpa membuat siswa merasa terancam. Karena belajar yang didorong ketakutan biasanya tidak bertahan lama.

 

Murid Nakal Belum Tentu Jahat

Saat menjadi siswa, kita cenderung melihat teman yang sering dimarahi sebagai “biang masalah”. Namun jika suatu hari menjadi guru, perspektif itu bisa berubah total.

Guru melihat lebih banyak hal:

·         Anak yang ribut mungkin mencari perhatian

·         Anak yang tidur mungkin kurang istirahat di rumah

·         Anak yang tidak mengerjakan tugas mungkin sedang menghadapi masalah pribadi

·         Anak yang melawan mungkin sebenarnya sedang bingung

Jika saya jadi guru, saya ingin mencoba memahami sebelum menghakimi. Karena perilaku sering hanya gejala, bukan akar masalah.

 

Guru Juga Manusia

Ini mungkin pelajaran paling mengejutkan saat mulai dewasa: guru ternyata bukan robot.

Mereka punya keluarga, masalah pribadi, kesehatan, tanggung jawab administratif, bahkan tekanan pekerjaan yang tidak terlihat oleh siswa.

Saat siswa mengeluh guru terlihat “bad mood”, mungkin ada hal besar yang sedang mereka hadapi.

Jika saya jadi guru, saya berharap siswa juga bisa melihat sisi manusiawi itu — meskipun tentu tidak realistis mengharapkan semua siswa memahami.

 

Mengajar Bukan Hanya Soal Pintar

Banyak siswa berpikir guru pasti sangat pintar. Itu benar, tapi kecerdasan akademik saja tidak cukup.

Guru juga harus punya:

·         Kesabaran tingkat tinggi

·         Kemampuan komunikasi

·         Empati

·         Manajemen kelas

·         Kreativitas

·         Ketahanan mental

Jika saya jadi guru, mungkin tantangan terbesar bukan menjelaskan materi, tetapi menjaga semangat siswa tetap hidup.

 

Guru yang Diingat Bukan yang Paling Mudah

Sebagai siswa, kita cenderung menyukai guru yang santai dan tidak banyak tugas. Tapi anehnya, saat mengingat kembali masa sekolah, guru yang paling membekas justru yang menantang.

Mereka yang:

·         Memaksa kita berpikir lebih dalam

·         Tidak mudah puas

·         Memberi standar tinggi

·         Tapi tetap peduli

Jika saya jadi guru, saya ingin menjadi tegas tapi adil — tidak menakutkan, tapi juga tidak terlalu longgar.

 

Pelajaran yang Tidak Ada di Buku

Siswa sering tidak sadar bahwa guru mengajarkan lebih dari materi pelajaran.

Cara berbicara, cara menyelesaikan konflik, cara menghargai waktu, cara memperlakukan orang lain — semua itu dipelajari diam-diam melalui contoh.

Jika saya jadi guru, saya ingin ingat bahwa setiap tindakan di kelas adalah “kurikulum tersembunyi”.

Karena siswa mungkin lupa rumus, tapi tidak lupa bagaimana mereka diperlakukan.

 

Keinginan Sederhana dari Sudut Pandang Siswa

Jika benar-benar diberi kesempatan menjadi guru, banyak siswa mungkin punya harapan sederhana:

·         Menjelaskan sampai benar-benar dipahami, bukan sekadar selesai

·         Memberi kesempatan bertanya tanpa membuat malu

·         Tidak membandingkan siswa satu dengan yang lain

·         Menghargai usaha, bukan hanya hasil

·         Memberi ruang untuk kesalahan

·         Menciptakan kelas yang aman secara emosional

Hal-hal ini terlihat kecil, tapi dampaknya besar.

 

Realita yang Mungkin Baru Dipahami Nanti

Namun refleksi jujur juga harus mengakui: menjadi guru ideal seperti yang dibayangkan siswa tidak selalu mudah diwujudkan.

Ada kurikulum, target, administrasi, jumlah siswa besar, keterbatasan waktu, dan banyak faktor lain.

Jika saya jadi guru, mungkin saya akan memahami bahwa pendidikan adalah seni kompromi antara idealisme dan realitas.

 

Mengapa Refleksi Ini Penting?

Tulisan “seandainya saya jadi guru” sebenarnya bukan tentang mengkritik guru. Ini tentang membangun empati dua arah.

Ketika siswa mencoba melihat dari sisi guru, mereka belajar menghargai. Ketika guru mencoba memahami perspektif siswa, mereka bisa mengajar lebih efektif.

Pendidikan terbaik terjadi ketika kedua pihak saling melihat sebagai manusia, bukan peran semata.

 

Mungkin Suatu Hari Benar-Benar Terjadi

Tidak sedikit siswa yang akhirnya benar-benar menjadi guru. Dan saat itu tiba, mereka sering tersenyum mengingat pikiran masa lalu:

“Oh… ternyata begini rasanya.”

Mereka mulai memahami kenapa guru dulu bertindak seperti itu. Kenapa ada aturan. Kenapa ada tugas. Kenapa ada teguran.

Dan mungkin, mereka juga berusaha memperbaiki hal-hal yang dulu terasa kurang.

Begitulah pendidikan berkembang — generasi baru membawa pengalaman sebagai siswa untuk menjadi guru yang lebih baik.

 

Penutup: Dari Siswa untuk Guru

Jika tulisan ini bisa dirangkum dalam satu kalimat, mungkin ini:

Siswa tidak selalu membutuhkan guru yang sempurna — mereka membutuhkan guru yang memahami.

“Seandainya saya jadi guru” adalah latihan membayangkan tanggung jawab besar yang selama ini dipikul orang lain. Latihan empati. Latihan kedewasaan.

Dan siapa tahu, di antara siswa yang membaca ini sekarang, ada calon guru hebat di masa depan — guru yang mengajar dengan pengetahuan sekaligus ingatan tentang bagaimana rasanya duduk di bangku siswa.

Karena guru terbaik bukan yang lupa pernah menjadi murid.

Guru terbaik adalah yang tetap mengingatnya.

 

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment

Seandainya Saya Jadi Guru”: Tulisan Reflektif dari Sisi Siswa

“Seandainya Saya Jadi Guru”: Tulisan Reflektif dari Sisi Siswa Seandainya Saya Jadi Guru Sejujurnya, hampir semua siswa pernah mengucapkan...