Media dan Teknologi dalam Pendidikan Orang Dewasa:
Belajar di Era Digital yang Tanpa Batas
Kalau dulu belajar itu identik dengan papan tulis, buku tebal, dan guru di
depan kelas, maka sekarang semuanya berubah total.
Kita hidup di era di mana belajar bisa dilakukan di mana saja,
kapan saja, dan dengan siapa saja — cukup lewat ponsel, laptop,
atau bahkan smartwatch! 😄
Nah, di tengah perubahan besar ini, pendidikan orang dewasa
juga ikut bertransformasi.
Dulu, pelatihan atau kursus bagi orang dewasa mungkin hanya dilakukan di balai
belajar atau ruang seminar, tapi sekarang?
Bisa lewat Zoom, YouTube, podcast, Google Classroom, bahkan TikTok edukatif!
Pertanyaannya, bagaimana sih media dan teknologi
benar-benar dimanfaatkan dalam pendidikan orang dewasa?
Dan apa saja tantangan yang muncul,
terutama terkait digital literacy atau
kemampuan melek teknologi?
Yuk, kita bahas dengan bahasa ringan tapi penuh makna — ala Ruang
Guru! 🌿
| Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing |
1. Dunia Belajar Orang
Dewasa yang Semakin Digital
Sebelum masuk ke teknologi, kita perlu pahami dulu: orang dewasa punya
karakteristik belajar yang unik.
Mereka bukan pelajar yang datang ke kelas karena diwajibkan, tapi karena punya
motivasi sendiri — entah ingin meningkatkan karier, mencari
keterampilan baru, atau sekadar memperluas wawasan.
Namun, orang dewasa juga punya keterbatasan: waktu sempit, tanggung jawab
besar, dan sering kali tidak bisa mengikuti pola belajar konvensional.
Nah, di sinilah teknologi hadir sebagai penyelamat.
Dengan teknologi, proses belajar menjadi:
·
Fleksibel:
bisa belajar kapan saja, di sela kerja atau waktu luang,
·
Aksesibel:
bisa menjangkau peserta dari berbagai daerah,
·
Menarik:
karena penuh visual, interaksi, dan variasi media.
Teknologi bahkan bisa menghapus jarak dan batas usia.
Orang tua bisa belajar digital marketing, petani bisa belajar drone pertanian,
dan guru bisa mengikuti webinar pendidikan global — semua lewat gawai di
tangan.
2. Pemanfaatan ICT dalam
Pendidikan Orang Dewasa
ICT, atau Information and Communication Technology,
adalah payung besar yang mencakup semua alat digital: komputer, internet,
smartphone, hingga aplikasi pembelajaran.
Dalam pendidikan orang dewasa, ICT berperan bukan hanya sebagai media, tapi
juga sebagai jembatan pengetahuan.
a. Platform pembelajaran
daring
Saat ini ada banyak platform e-learning yang mempermudah orang dewasa untuk
belajar tanpa batas.
Misalnya:
·
Google
Classroom, Moodle, Edmodo: cocok untuk pelatihan terstruktur,
·
Coursera,
Udemy, Ruangguru, Skill Academy: menyediakan kursus praktis
berbasis video,
·
Zoom,
Google Meet, Microsoft Teams: memfasilitasi interaksi langsung.
Keunggulannya?
Peserta tidak perlu datang ke lokasi pelatihan. Cukup punya koneksi internet
dan niat belajar — sudah bisa ikut pelatihan dari mana saja.
ICT membuat proses belajar jadi lebih efisien dan
inklusif. Bahkan, pelatihan untuk masyarakat pedesaan bisa
dilakukan lewat hybrid learning,
menggabungkan tatap muka dan daring.
b. Media sosial sebagai
ruang belajar
Jangan salah, media sosial bukan cuma tempat gosip dan hiburan! 😄
Sekarang banyak komunitas pembelajar yang aktif di:
·
Facebook
Groups untuk berbagi tips usaha,
·
LinkedIn
untuk pengembangan profesional,
·
YouTube
untuk tutorial praktis,
·
TikTok
Edu yang menyajikan pelajaran dalam video singkat dan menarik.
Orang dewasa sering kali lebih nyaman belajar informal
lewat platform seperti ini karena tidak kaku dan bisa dilakukan sambil santai.
Bahkan banyak orang bilang, “Belajar di YouTube kadang lebih cepat nyantol
daripada di kelas formal.”
c. Aplikasi kolaboratif
ICT juga mempermudah kolaborasi antar peserta pelatihan.
Misalnya, menggunakan:
·
Google
Docs untuk kerja kelompok,
·
Padlet
atau Miro untuk brainstorming ide,
·
Canva
untuk membuat materi presentasi yang keren.
Dengan cara ini, pembelajaran bukan hanya satu arah, tapi menjadi proses
bersama — penuh ide, interaksi, dan pengalaman.
3. Multimedia: Membuat
Belajar Jadi Lebih Hidup
Orang dewasa tidak terlalu tertarik dengan ceramah panjang atau teori kaku.
Mereka ingin belajar yang relevan, menarik, dan
aplikatif.
Nah, di sinilah multimedia berperan
penting.
a. Belajar lewat video dan
animasi
Video adalah media favorit dalam pendidikan orang dewasa.
Kenapa? Karena kombinasi antara visual, suara, dan cerita membuat pesan lebih
mudah dipahami dan diingat.
Contohnya:
·
Video tutorial di YouTube,
·
Animasi pembelajaran di
PowerPoint interaktif,
·
Dokumenter pendek yang
menginspirasi,
·
Webinar atau podcast video.
Sebuah video berdurasi 5 menit sering kali lebih efektif daripada
5 halaman teks, apalagi bagi peserta yang sibuk.
b. Audio learning: podcast
dan rekaman suara
Tidak semua orang punya waktu menatap layar.
Itulah kenapa podcast dan audio learning
semakin populer, terutama bagi pembelajar dewasa yang multitasking.
Bayangkan:
Seseorang bisa belajar tentang kepemimpinan sambil menyetir, mendengarkan
motivasi sambil mencuci piring, atau memahami konsep bisnis sambil jogging.
Inilah bentuk pembelajaran modern yang menyatu dengan gaya
hidup.
c. Infografis dan e-modul
interaktif
Multimedia juga bisa hadir dalam bentuk infografis dan modul
interaktif.
Desain visual yang menarik membantu peserta memahami konsep rumit dengan cepat.
Misalnya, infografis tentang “Langkah-langkah membuat rencana bisnis” jauh
lebih efektif daripada teks panjang penuh teori.
Begitu juga e-modul yang bisa diklik, berisi video, kuis, dan link tambahan —
membuat proses belajar jauh lebih engaging.
4. Mobile Learning: Belajar
di Genggaman Tangan
Kalau bicara tentang pendidikan orang dewasa masa kini, sulit untuk tidak
menyebut mobile learning.
Ya, ini adalah pembelajaran yang dilakukan lewat perangkat seluler — terutama smartphone.
Kenapa mobile learning penting?
Karena hampir semua orang dewasa sekarang punya HP pintar, bahkan di pelosok
desa.
HP bukan lagi alat komunikasi, tapi juga alat belajar.
a. Kelebihan mobile learning
1. Fleksibel dan mudah diakses:
peserta bisa belajar kapan pun — di bus, di ruang tunggu, atau di waktu
istirahat kerja.
2. Interaktif: banyak
aplikasi menyediakan kuis, video singkat, dan forum diskusi.
3. Personal: bisa
disesuaikan dengan kebutuhan dan kecepatan belajar individu.
4. Low cost: tidak perlu
perangkat mahal, cukup ponsel dan koneksi internet.
b. Contoh penerapan mobile
learning
·
Pelatihan UMKM lewat
WhatsApp group dengan video pendek.
·
Kursus literasi keuangan
berbasis aplikasi.
·
Kelas keterampilan digital
lewat Telegram channel.
·
Pembelajaran vokasional
berbasis microlearning (materi singkat berdurasi 3–5 menit).
Mobile learning memungkinkan siapa pun — dari petani, nelayan, hingga ibu
rumah tangga — untuk belajar tanpa meninggalkan pekerjaan
utama.
5. Tantangan Digital
Literacy pada Peserta Dewasa
Meski teknologi memberi banyak kemudahan, kenyataannya tidak
semua orang dewasa siap menghadapi dunia digital.
Di sinilah muncul tantangan besar yang disebut digital literacy
— kemampuan memahami, menggunakan, dan memanfaatkan teknologi secara efektif.
a. Kesenjangan generasi dan
akses
Banyak peserta dewasa, terutama yang berusia di atas 40 tahun, masih belum
terbiasa menggunakan teknologi.
Ada yang takut salah klik, bingung dengan istilah digital, atau bahkan tidak
punya akses internet yang memadai.
Di beberapa daerah, akses internet dan perangkat digital
masih menjadi kendala utama.
Bayangkan mengikuti pelatihan online tapi sinyalnya putus-putus — pasti
frustrasi, kan?
b. Kurangnya rasa percaya
diri
Bagi sebagian orang, teknologi terasa “terlalu canggih.”
Ada rasa takut dianggap gaptek atau malu bertanya. Akibatnya, mereka enggan
mencoba.
Padahal, kunci sukses belajar teknologi adalah berani mencoba dan
tidak takut salah.
c. Beban kognitif dan waktu
Orang dewasa sering kali kesulitan fokus karena banyak tanggung jawab lain —
pekerjaan, keluarga, dan urusan sosial.
Kalau materi digital terlalu rumit atau bertele-tele, mereka cepat kehilangan
minat.
d. Solusi? Pendekatan yang
manusiawi
Untuk mengatasi tantangan literasi digital, kita perlu:
1. Pendampingan bertahap:
mulai dari hal sederhana, misalnya cara bergabung Zoom, membuka email, atau
mengirim file.
2. Pelatihan berbasis praktik:
langsung mencoba, bukan hanya teori.
3. Lingkungan yang suportif:
jangan membuat peserta merasa bodoh karena belum bisa.
4. Konten yang ramah pengguna:
tampilkan langkah-langkah jelas, visual kuat, dan bahasa sederhana.
Karena sejatinya, digital literacy bukan hanya soal teknologi, tapi juga
soal rasa percaya diri untuk belajar hal baru.
6. Masa Depan Pembelajaran
Orang Dewasa: Hybrid dan Human-Centered
Ke depan, pendidikan orang dewasa akan semakin menggabungkan
teknologi dengan pendekatan manusiawi.
Teknologi hanyalah alat, tapi sentuhan manusia tetap penting untuk menjaga
koneksi emosional dan rasa bermakna dalam belajar.
Kita akan melihat lebih banyak:
·
Hybrid
learning: kombinasi daring dan tatap muka,
·
AI
tutor dan chat-based learning,
·
Microlearning
berbasis aplikasi,
·
Virtual
reality training untuk pelatihan praktis seperti medis atau
teknik.
Namun di balik semua itu, satu hal tidak berubah:
Belajar bagi orang dewasa selalu berawal dari pengalaman, kebutuhan nyata,
dan keinginan untuk berkembang.
7. Penutup: Belajar Digital,
Tapi Tetap Manusiawi
Teknologi memang mengubah cara kita belajar, tapi tidak
boleh mengubah esensi pendidikan itu sendiri.
Pendidikan orang dewasa tetap harus berpusat pada manusia — pada nilai,
pengalaman, dan refleksi.
Media dan teknologi hanyalah sarana untuk membuka akses dan memperluas
jangkauan.
Yang paling penting adalah bagaimana kita menggunakannya untuk memberdayakan
manusia, bukan menggantikannya.
Jadi, entah kamu belajar lewat Zoom, podcast, atau video TikTok edukatif —
ingatlah:
Yang paling berharga dari belajar bukan gadget-nya, tapi semangat dan rasa
ingin tahunya. 🌱
No comments:
Post a Comment