Wednesday, November 19, 2025

Media dan Teknologi dalam Pendidikan Orang Dewasa: Belajar di Era Digital yang Tanpa Batas

 

Media dan Teknologi dalam Pendidikan Orang Dewasa: Belajar di Era Digital yang Tanpa Batas

Kalau dulu belajar itu identik dengan papan tulis, buku tebal, dan guru di depan kelas, maka sekarang semuanya berubah total.
Kita hidup di era di mana belajar bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja — cukup lewat ponsel, laptop, atau bahkan smartwatch! 😄

Nah, di tengah perubahan besar ini, pendidikan orang dewasa juga ikut bertransformasi.
Dulu, pelatihan atau kursus bagi orang dewasa mungkin hanya dilakukan di balai belajar atau ruang seminar, tapi sekarang?
Bisa lewat Zoom, YouTube, podcast, Google Classroom, bahkan TikTok edukatif!

Pertanyaannya, bagaimana sih media dan teknologi benar-benar dimanfaatkan dalam pendidikan orang dewasa?
Dan apa saja tantangan yang muncul, terutama terkait digital literacy atau kemampuan melek teknologi?

Yuk, kita bahas dengan bahasa ringan tapi penuh makna — ala Ruang Guru! 🌿

 

Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing

1. Dunia Belajar Orang Dewasa yang Semakin Digital

Sebelum masuk ke teknologi, kita perlu pahami dulu: orang dewasa punya karakteristik belajar yang unik.
Mereka bukan pelajar yang datang ke kelas karena diwajibkan, tapi karena punya motivasi sendiri — entah ingin meningkatkan karier, mencari keterampilan baru, atau sekadar memperluas wawasan.

Namun, orang dewasa juga punya keterbatasan: waktu sempit, tanggung jawab besar, dan sering kali tidak bisa mengikuti pola belajar konvensional.
Nah, di sinilah teknologi hadir sebagai penyelamat.

Dengan teknologi, proses belajar menjadi:

·         Fleksibel: bisa belajar kapan saja, di sela kerja atau waktu luang,

·         Aksesibel: bisa menjangkau peserta dari berbagai daerah,

·         Menarik: karena penuh visual, interaksi, dan variasi media.

Teknologi bahkan bisa menghapus jarak dan batas usia.
Orang tua bisa belajar digital marketing, petani bisa belajar drone pertanian, dan guru bisa mengikuti webinar pendidikan global — semua lewat gawai di tangan.

 

2. Pemanfaatan ICT dalam Pendidikan Orang Dewasa

ICT, atau Information and Communication Technology, adalah payung besar yang mencakup semua alat digital: komputer, internet, smartphone, hingga aplikasi pembelajaran.
Dalam pendidikan orang dewasa, ICT berperan bukan hanya sebagai media, tapi juga sebagai jembatan pengetahuan.

a. Platform pembelajaran daring

Saat ini ada banyak platform e-learning yang mempermudah orang dewasa untuk belajar tanpa batas.
Misalnya:

·         Google Classroom, Moodle, Edmodo: cocok untuk pelatihan terstruktur,

·         Coursera, Udemy, Ruangguru, Skill Academy: menyediakan kursus praktis berbasis video,

·         Zoom, Google Meet, Microsoft Teams: memfasilitasi interaksi langsung.

Keunggulannya?
Peserta tidak perlu datang ke lokasi pelatihan. Cukup punya koneksi internet dan niat belajar — sudah bisa ikut pelatihan dari mana saja.

ICT membuat proses belajar jadi lebih efisien dan inklusif. Bahkan, pelatihan untuk masyarakat pedesaan bisa dilakukan lewat hybrid learning, menggabungkan tatap muka dan daring.

b. Media sosial sebagai ruang belajar

Jangan salah, media sosial bukan cuma tempat gosip dan hiburan! 😄
Sekarang banyak komunitas pembelajar yang aktif di:

·         Facebook Groups untuk berbagi tips usaha,

·         LinkedIn untuk pengembangan profesional,

·         YouTube untuk tutorial praktis,

·         TikTok Edu yang menyajikan pelajaran dalam video singkat dan menarik.

Orang dewasa sering kali lebih nyaman belajar informal lewat platform seperti ini karena tidak kaku dan bisa dilakukan sambil santai.
Bahkan banyak orang bilang, “Belajar di YouTube kadang lebih cepat nyantol daripada di kelas formal.”

c. Aplikasi kolaboratif

ICT juga mempermudah kolaborasi antar peserta pelatihan.
Misalnya, menggunakan:

·         Google Docs untuk kerja kelompok,

·         Padlet atau Miro untuk brainstorming ide,

·         Canva untuk membuat materi presentasi yang keren.

Dengan cara ini, pembelajaran bukan hanya satu arah, tapi menjadi proses bersama — penuh ide, interaksi, dan pengalaman.

 

3. Multimedia: Membuat Belajar Jadi Lebih Hidup

Orang dewasa tidak terlalu tertarik dengan ceramah panjang atau teori kaku. Mereka ingin belajar yang relevan, menarik, dan aplikatif.
Nah, di sinilah multimedia berperan penting.

a. Belajar lewat video dan animasi

Video adalah media favorit dalam pendidikan orang dewasa.
Kenapa? Karena kombinasi antara visual, suara, dan cerita membuat pesan lebih mudah dipahami dan diingat.

Contohnya:

·         Video tutorial di YouTube,

·         Animasi pembelajaran di PowerPoint interaktif,

·         Dokumenter pendek yang menginspirasi,

·         Webinar atau podcast video.

Sebuah video berdurasi 5 menit sering kali lebih efektif daripada 5 halaman teks, apalagi bagi peserta yang sibuk.

b. Audio learning: podcast dan rekaman suara

Tidak semua orang punya waktu menatap layar.
Itulah kenapa podcast dan audio learning semakin populer, terutama bagi pembelajar dewasa yang multitasking.

Bayangkan:
Seseorang bisa belajar tentang kepemimpinan sambil menyetir, mendengarkan motivasi sambil mencuci piring, atau memahami konsep bisnis sambil jogging.
Inilah bentuk pembelajaran modern yang menyatu dengan gaya hidup.

c. Infografis dan e-modul interaktif

Multimedia juga bisa hadir dalam bentuk infografis dan modul interaktif.
Desain visual yang menarik membantu peserta memahami konsep rumit dengan cepat.

Misalnya, infografis tentang “Langkah-langkah membuat rencana bisnis” jauh lebih efektif daripada teks panjang penuh teori.
Begitu juga e-modul yang bisa diklik, berisi video, kuis, dan link tambahan — membuat proses belajar jauh lebih engaging.

 

4. Mobile Learning: Belajar di Genggaman Tangan

Kalau bicara tentang pendidikan orang dewasa masa kini, sulit untuk tidak menyebut mobile learning.
Ya, ini adalah pembelajaran yang dilakukan lewat perangkat seluler — terutama smartphone.

Kenapa mobile learning penting?
Karena hampir semua orang dewasa sekarang punya HP pintar, bahkan di pelosok desa.
HP bukan lagi alat komunikasi, tapi juga alat belajar.

a. Kelebihan mobile learning

1.      Fleksibel dan mudah diakses: peserta bisa belajar kapan pun — di bus, di ruang tunggu, atau di waktu istirahat kerja.

2.      Interaktif: banyak aplikasi menyediakan kuis, video singkat, dan forum diskusi.

3.      Personal: bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kecepatan belajar individu.

4.      Low cost: tidak perlu perangkat mahal, cukup ponsel dan koneksi internet.

b. Contoh penerapan mobile learning

·         Pelatihan UMKM lewat WhatsApp group dengan video pendek.

·         Kursus literasi keuangan berbasis aplikasi.

·         Kelas keterampilan digital lewat Telegram channel.

·         Pembelajaran vokasional berbasis microlearning (materi singkat berdurasi 3–5 menit).

Mobile learning memungkinkan siapa pun — dari petani, nelayan, hingga ibu rumah tangga — untuk belajar tanpa meninggalkan pekerjaan utama.

 

5. Tantangan Digital Literacy pada Peserta Dewasa

Meski teknologi memberi banyak kemudahan, kenyataannya tidak semua orang dewasa siap menghadapi dunia digital.
Di sinilah muncul tantangan besar yang disebut digital literacy — kemampuan memahami, menggunakan, dan memanfaatkan teknologi secara efektif.

a. Kesenjangan generasi dan akses

Banyak peserta dewasa, terutama yang berusia di atas 40 tahun, masih belum terbiasa menggunakan teknologi.
Ada yang takut salah klik, bingung dengan istilah digital, atau bahkan tidak punya akses internet yang memadai.

Di beberapa daerah, akses internet dan perangkat digital masih menjadi kendala utama.
Bayangkan mengikuti pelatihan online tapi sinyalnya putus-putus — pasti frustrasi, kan?

b. Kurangnya rasa percaya diri

Bagi sebagian orang, teknologi terasa “terlalu canggih.”
Ada rasa takut dianggap gaptek atau malu bertanya. Akibatnya, mereka enggan mencoba.
Padahal, kunci sukses belajar teknologi adalah berani mencoba dan tidak takut salah.

c. Beban kognitif dan waktu

Orang dewasa sering kali kesulitan fokus karena banyak tanggung jawab lain — pekerjaan, keluarga, dan urusan sosial.
Kalau materi digital terlalu rumit atau bertele-tele, mereka cepat kehilangan minat.

d. Solusi? Pendekatan yang manusiawi

Untuk mengatasi tantangan literasi digital, kita perlu:

1.      Pendampingan bertahap: mulai dari hal sederhana, misalnya cara bergabung Zoom, membuka email, atau mengirim file.

2.      Pelatihan berbasis praktik: langsung mencoba, bukan hanya teori.

3.      Lingkungan yang suportif: jangan membuat peserta merasa bodoh karena belum bisa.

4.      Konten yang ramah pengguna: tampilkan langkah-langkah jelas, visual kuat, dan bahasa sederhana.

Karena sejatinya, digital literacy bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal rasa percaya diri untuk belajar hal baru.

 

6. Masa Depan Pembelajaran Orang Dewasa: Hybrid dan Human-Centered

Ke depan, pendidikan orang dewasa akan semakin menggabungkan teknologi dengan pendekatan manusiawi.
Teknologi hanyalah alat, tapi sentuhan manusia tetap penting untuk menjaga koneksi emosional dan rasa bermakna dalam belajar.

Kita akan melihat lebih banyak:

·         Hybrid learning: kombinasi daring dan tatap muka,

·         AI tutor dan chat-based learning,

·         Microlearning berbasis aplikasi,

·         Virtual reality training untuk pelatihan praktis seperti medis atau teknik.

Namun di balik semua itu, satu hal tidak berubah:

Belajar bagi orang dewasa selalu berawal dari pengalaman, kebutuhan nyata, dan keinginan untuk berkembang.

 

7. Penutup: Belajar Digital, Tapi Tetap Manusiawi

Teknologi memang mengubah cara kita belajar, tapi tidak boleh mengubah esensi pendidikan itu sendiri.
Pendidikan orang dewasa tetap harus berpusat pada manusia — pada nilai, pengalaman, dan refleksi.

Media dan teknologi hanyalah sarana untuk membuka akses dan memperluas jangkauan.
Yang paling penting adalah bagaimana kita menggunakannya untuk memberdayakan manusia, bukan menggantikannya.

Jadi, entah kamu belajar lewat Zoom, podcast, atau video TikTok edukatif — ingatlah:

Yang paling berharga dari belajar bukan gadget-nya, tapi semangat dan rasa ingin tahunya. 🌱

 

No comments:

Post a Comment

Menyusun Target dan Indikator Kompetensi: Panduan Santai untuk Guru Hebat

  Pernah nggak sih kamu merasa bingung saat bikin rencana pembelajaran? Kadang rasanya kayak nyusun puzzle — semua harus pas: dari kompete...