Saturday, November 15, 2025

Motivasi dan Gaya Belajar Orang Dewasa: Antara Kebutuhan, Keinginan, dan Cara Menyerap Ilmu

 

Motivasi dan Gaya Belajar Orang Dewasa: Antara Kebutuhan, Keinginan, dan Cara Menyerap Ilmu

Pernah nggak kamu lihat orang dewasa yang semangat banget ikut pelatihan, sampai rela pulang malam, bahkan ikut kelas online di sela-sela kerja? Tapi di sisi lain, ada juga yang ikut pelatihan cuma “karena disuruh”, datang setengah hati, dan akhirnya nggak banyak yang diserap.

Nah, di situlah peran motivasi dan gaya belajar jadi penting. Dua hal ini menentukan apakah seseorang bisa benar-benar belajar dengan bermakna atau cuma sekadar hadir.

Kalau anak-anak belajar karena disuruh, orang dewasa belajar karena mereka ingin dan butuh. Tapi… dorongan “ingin dan butuh” itu datang dari mana? Jawabannya ada pada teori motivasi. Dan bagaimana mereka menyerap pembelajaran? Itu terkait dengan gaya belajar.

Yuk, kita bahas dua hal penting ini secara santai tapi mendalam:

1.      Teori-teori motivasi (Maslow, Herzberg, Deci & Ryan) yang menjelaskan kenapa orang dewasa mau belajar,

2.      Preferensi gaya belajar (visual, auditori, kinestetik) yang menjelaskan bagaimana mereka paling mudah memahami sesuatu.

 

Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing

1. Mengapa Orang Dewasa Mau Belajar? Teori Motivasi yang Menjelaskannya

Setiap tindakan manusia selalu punya alasan — termasuk dalam hal belajar.
Orang dewasa nggak akan duduk berjam-jam di kelas kalau mereka nggak merasa belajar itu ada gunanya. Nah, untuk memahami ini, para ahli psikologi punya beberapa teori besar tentang motivasi.

 

a. Teori Kebutuhan Maslow: Belajar Karena Ingin Naik Level Hidup

Abraham Maslow (1943) terkenal dengan hierarki kebutuhan manusia — piramida yang menggambarkan lima tingkatan kebutuhan, mulai dari yang paling dasar sampai paling tinggi.
Kalau diterapkan dalam konteks pendidikan orang dewasa, teorinya sangat relevan.

Lima tingkat kebutuhan Maslow bisa kita lihat seperti ini:

1.      Kebutuhan fisiologis (Physiological needs)
Ini kebutuhan dasar: makan, minum, tempat tinggal.
Kalau seseorang masih berjuang memenuhi kebutuhan ini, belajar bukan prioritas utama. Tapi begitu kebutuhan dasar terpenuhi, ia mulai berpikir tentang hal lain.

2.      Kebutuhan rasa aman (Safety needs)
Orang belajar agar punya keterampilan yang bisa menjamin keamanan pekerjaan dan hidupnya. Misalnya, ikut pelatihan kerja agar tidak mudah kehilangan pekerjaan.

3.      Kebutuhan sosial (Love and belongingness)
Banyak orang dewasa ikut kursus atau komunitas belajar karena ingin punya teman baru, merasa diterima, atau menjadi bagian dari kelompok.

4.      Kebutuhan penghargaan (Esteem needs)
Ini motivasi yang sering muncul: ingin diakui, dihargai, dan punya prestise. Misalnya, seorang pegawai belajar S2 agar kariernya meningkat dan dihormati.

5.      Kebutuhan aktualisasi diri (Self-actualization)
Ini puncak motivasi — belajar karena ingin berkembang, bukan karena kebutuhan luar. Misalnya, seseorang belajar seni, menulis, atau bahasa baru bukan karena perlu, tapi karena ingin menjadi versi terbaik dari dirinya.

Jadi, menurut Maslow, semakin tinggi tingkat kebutuhan seseorang, semakin dalam makna belajarnya.
Kalau dulu belajar itu untuk bertahan hidup, sekarang bisa jadi untuk menemukan jati diri.

 

b. Teori Dua Faktor Herzberg: Antara Kepuasan dan Ketidakpuasan

Frederick Herzberg (1959) punya teori yang dikenal sebagai Two-Factor Theory atau teori motivasi-higienis.
Ia membedakan dua kelompok faktor yang memengaruhi motivasi seseorang:

1.      Faktor higienis (lingkungan eksternal): gaji, kondisi kerja, status sosial, keamanan, hubungan antarindividu.
Kalau faktor ini buruk, orang akan tidak puas, tapi kalau baik, belum tentu termotivasi.

2.      Faktor motivasional (internal): prestasi, pengakuan, tanggung jawab, dan perkembangan pribadi.
Faktor inilah yang benar-benar membuat orang termotivasi.

Nah, dalam konteks pendidikan orang dewasa, teori ini bisa dijelaskan begini:
Orang dewasa akan semangat belajar bukan cuma karena fasilitasnya bagus atau ruangan nyaman, tapi karena mereka merasa belajar itu memberi makna — mengembangkan diri, meningkatkan kompetensi, dan membuka peluang baru.

Contohnya:
Seorang guru yang ikut pelatihan teknologi pendidikan mungkin awalnya hanya ingin memenuhi tuntutan sekolah (faktor higienis), tapi kemudian merasa tertantang dan bangga karena bisa membuat media ajar digital sendiri (faktor motivasional).
Nah, di sinilah semangat belajar sejati tumbuh.

 

c. Teori Motivasi Intrinsik & Ekstrinsik (Deci & Ryan): Self-Determination Theory

Edward Deci dan Richard Ryan (1985) mengembangkan Self-Determination Theory (SDT) — teori yang menekankan bahwa motivasi sejati muncul kalau seseorang punya kebebasan, kompetensi, dan keterhubungan.

Ada tiga kebutuhan psikologis utama menurut SDT:

1.      Autonomy (Kemandirian)
Orang dewasa ingin punya kontrol atas proses belajarnya. Mereka ingin memilih topik, waktu, dan cara belajar sendiri.
Makanya, metode yang terlalu mengatur justru membuat mereka cepat bosan.

2.      Competence (Kompetensi)
Mereka ingin merasa mampu dan berhasil. Setiap pencapaian kecil, seperti menguasai aplikasi baru atau menyelesaikan proyek, bisa jadi sumber motivasi besar.

3.      Relatedness (Keterhubungan)
Orang dewasa juga ingin merasa terhubung dengan orang lain. Belajar jadi lebih bermakna kalau dilakukan dalam suasana saling mendukung — misalnya lewat diskusi, kolaborasi, atau komunitas belajar.

Jadi, motivasi orang dewasa akan kuat kalau pembelajaran:

·         Memberi ruang untuk memilih (autonomy),

·         Memberi tantangan yang bisa dicapai (competence),

·         Dan membangun kebersamaan (relatedness).

 

2. Gaya Belajar Orang Dewasa: Cara Unik Menyerap Pengetahuan

Kalau motivasi menjelaskan “mengapa” seseorang belajar, gaya belajar menjelaskan “bagaimana” mereka belajar.
Setiap orang punya cara berbeda untuk memahami informasi — ada yang cepat paham kalau melihat gambar, ada yang harus mendengar penjelasan, ada juga yang baru mengerti setelah mencoba langsung.

Secara umum, ada tiga tipe gaya belajar yang paling dikenal: visual, auditori, dan kinestetik (VAK).

 

a. Gaya Belajar Visual: Belajar Lewat Mata

Orang dengan gaya belajar visual lebih mudah memahami informasi lewat gambar, warna, diagram, atau video.
Mereka suka melihat sesuatu secara konkret dan visualisasi membantu mereka mengingat lebih lama.

Ciri-cirinya:

·         Suka mencatat dengan warna-warni,

·         Suka peta konsep, grafik, dan slide presentasi,

·         Sulit fokus kalau hanya mendengar tanpa melihat,

·         Mudah memahami ilustrasi dibanding teks panjang.

Contohnya, seorang karyawan yang belajar strategi marketing akan lebih cepat paham kalau melihat bagan alur penjualan atau infografis daripada membaca laporan teks 20 halaman.

Bagi pendidik, metode yang cocok untuk tipe ini adalah:

·         Gunakan presentasi visual (PowerPoint, video, gambar),

·         Buat mind map atau bagan ide,

·         Gunakan warna dan simbol dalam catatan.

 

b. Gaya Belajar Auditori: Belajar Lewat Pendengaran

Kalau kamu lebih mudah mengingat sesuatu yang kamu dengar, berarti kamu termasuk tipe auditori.
Orang auditori menyerap informasi lewat suara — baik dari ceramah, diskusi, atau bahkan musik.

Ciri-cirinya:

·         Suka berdiskusi atau mendengarkan penjelasan,

·         Mudah mengingat percakapan atau nada bicara,

·         Kurang suka membaca teks panjang tanpa penjelasan verbal,

·         Sering mengulang kata atau berbicara sendiri untuk mengingat.

Contoh nyata:
Seorang sopir ojek online belajar bahasa Inggris lewat podcast atau YouTube, karena lebih mudah didengar saat bekerja.

Metode yang cocok untuk tipe ini:

·         Gunakan ceramah interaktif atau diskusi kelompok,

·         Rekam materi dalam bentuk audio learning,

·         Dorong peserta untuk menjelaskan ulang apa yang mereka pelajari (teknik learning by talking).

 

c. Gaya Belajar Kinestetik: Belajar Lewat Tindakan

Nah, kalau tipe ini nggak bisa duduk diam lama-lama!
Mereka baru paham setelah melakukan langsung.
Gaya belajar kinestetik cocok dengan pendekatan praktis, eksperimen, dan simulasi.

Ciri-cirinya:

·         Belajar lewat praktik langsung (hands-on),

·         Suka bergerak atau memegang benda saat belajar,

·         Kurang fokus kalau hanya membaca atau mendengar,

·         Lebih cepat mengingat hal yang pernah dilakukan daripada yang hanya dilihat.

Contohnya:
Seorang montir belajar teknik mesin baru bukan dari buku, tapi dari membongkar dan merakit mesin itu sendiri.

Metode yang cocok untuk tipe ini:

·         Simulasi dan praktek lapangan,

·         Permainan peran (role play),

·         Belajar berbasis proyek.

 

3. Tidak Ada Gaya yang Paling Benar, yang Ada Hanya yang Paling Cocok

Menariknya, banyak orang tidak hanya punya satu gaya belajar.
Kebanyakan kombinasi dari dua atau tiga tipe, tergantung situasi dan materi.

Misalnya, seseorang bisa visual saat belajar teori, tapi kinestetik saat praktik.
Atau auditori saat berdiskusi, tapi visual saat membuat laporan.

Tugas pendidik orang dewasa bukan menilai mana yang paling baik, tapi mengenali dan menyesuaikan.
Kalau semua gaya belajar diakomodasi — misalnya dengan kombinasi video, diskusi, dan praktik — maka proses belajar akan lebih inklusif dan efektif.

 

4. Menggabungkan Motivasi dan Gaya Belajar: Kunci Sukses Pendidikan Dewasa

Sekarang coba kita hubungkan antara motivasi dan gaya belajar.
Kalau motivasi adalah bahan bakar, maka gaya belajar adalah mesin yang mengolahnya.
Bahan bakar tanpa mesin tidak menghasilkan gerak, mesin tanpa bahan bakar tidak berjalan.

Orang dewasa yang termotivasi tapi metode belajarnya tidak sesuai gaya mereka, akan cepat bosan.
Sebaliknya, gaya belajar yang menarik tapi tanpa motivasi juga tidak akan bertahan lama.

Maka, pembelajaran yang efektif untuk orang dewasa harus:

·         Menggugah motivasi intrinsik, bukan sekadar formalitas.

·         Menyesuaikan gaya belajar peserta, bukan memaksakan satu metode.

·         Menghubungkan dengan pengalaman hidup nyata, karena di sanalah makna belajar sesungguhnya.

 

5. Penutup: Belajar dengan Cara dan Alasan yang Tepat

Pada akhirnya, belajar di usia dewasa itu bukan soal kemampuan, tapi soal kesadaran dan kebermaknaan.
Ketika seseorang tahu kenapa ia belajar (motivasi), dan tahu bagaimana ia belajar paling efektif (gaya belajar), maka proses itu akan terasa ringan dan menyenangkan.

Belajar bukan lagi beban, tapi bagian dari perjalanan menjadi manusia yang terus bertumbuh.

Seperti kata pepatah,

“Yang membedakan orang sukses dan tidak bukan seberapa banyak ia tahu, tapi seberapa kuat ia ingin terus belajar.”

No comments:

Post a Comment

Menyusun Target dan Indikator Kompetensi: Panduan Santai untuk Guru Hebat

  Pernah nggak sih kamu merasa bingung saat bikin rencana pembelajaran? Kadang rasanya kayak nyusun puzzle — semua harus pas: dari kompete...