Motivasi dan Gaya Belajar Orang Dewasa: Antara
Kebutuhan, Keinginan, dan Cara Menyerap Ilmu
Pernah nggak kamu lihat orang dewasa yang semangat banget ikut pelatihan,
sampai rela pulang malam, bahkan ikut kelas online di sela-sela kerja? Tapi di
sisi lain, ada juga yang ikut pelatihan cuma “karena disuruh”, datang setengah
hati, dan akhirnya nggak banyak yang diserap.
Nah, di situlah peran motivasi dan gaya belajar
jadi penting. Dua hal ini menentukan apakah seseorang bisa benar-benar belajar
dengan bermakna atau cuma sekadar hadir.
Kalau anak-anak belajar karena disuruh, orang dewasa belajar karena mereka
ingin dan butuh. Tapi… dorongan “ingin dan butuh” itu datang
dari mana? Jawabannya ada pada teori motivasi. Dan bagaimana mereka menyerap
pembelajaran? Itu terkait dengan gaya belajar.
Yuk, kita bahas dua hal penting ini secara santai tapi mendalam:
1. Teori-teori motivasi (Maslow, Herzberg,
Deci & Ryan) yang menjelaskan kenapa orang dewasa mau
belajar,
2. Preferensi gaya belajar (visual,
auditori, kinestetik) yang menjelaskan bagaimana mereka paling
mudah memahami sesuatu.
| Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing |
1. Mengapa Orang Dewasa Mau
Belajar? Teori Motivasi yang Menjelaskannya
Setiap tindakan manusia selalu punya alasan — termasuk dalam hal belajar.
Orang dewasa nggak akan duduk berjam-jam di kelas kalau mereka nggak merasa
belajar itu ada gunanya. Nah, untuk
memahami ini, para ahli psikologi punya beberapa teori besar tentang motivasi.
a. Teori Kebutuhan Maslow:
Belajar Karena Ingin Naik Level Hidup
Abraham Maslow (1943) terkenal dengan hierarki kebutuhan
manusia — piramida yang menggambarkan lima tingkatan kebutuhan,
mulai dari yang paling dasar sampai paling tinggi.
Kalau diterapkan dalam konteks pendidikan orang dewasa, teorinya sangat
relevan.
Lima tingkat kebutuhan Maslow bisa kita lihat seperti ini:
1. Kebutuhan fisiologis (Physiological
needs)
Ini kebutuhan dasar: makan, minum, tempat tinggal.
Kalau seseorang masih berjuang memenuhi kebutuhan ini, belajar bukan prioritas
utama. Tapi begitu kebutuhan dasar terpenuhi, ia mulai berpikir tentang hal
lain.
2. Kebutuhan rasa aman (Safety needs)
Orang belajar agar punya keterampilan yang bisa menjamin keamanan pekerjaan dan
hidupnya. Misalnya, ikut pelatihan kerja agar tidak mudah kehilangan pekerjaan.
3. Kebutuhan sosial (Love and belongingness)
Banyak orang dewasa ikut kursus atau komunitas belajar karena ingin punya teman
baru, merasa diterima, atau menjadi bagian dari kelompok.
4. Kebutuhan penghargaan (Esteem needs)
Ini motivasi yang sering muncul: ingin diakui, dihargai, dan punya prestise.
Misalnya, seorang pegawai belajar S2 agar kariernya meningkat dan dihormati.
5. Kebutuhan aktualisasi diri
(Self-actualization)
Ini puncak motivasi — belajar karena ingin berkembang, bukan karena kebutuhan
luar. Misalnya, seseorang belajar seni, menulis, atau bahasa baru bukan karena
perlu, tapi karena ingin menjadi versi terbaik dari dirinya.
Jadi, menurut Maslow, semakin tinggi tingkat kebutuhan seseorang,
semakin dalam makna belajarnya.
Kalau dulu belajar itu untuk bertahan hidup, sekarang bisa jadi untuk menemukan
jati diri.
b. Teori Dua Faktor
Herzberg: Antara Kepuasan dan Ketidakpuasan
Frederick Herzberg (1959) punya teori yang dikenal sebagai Two-Factor
Theory atau teori motivasi-higienis.
Ia membedakan dua kelompok faktor yang memengaruhi motivasi seseorang:
1. Faktor higienis
(lingkungan eksternal): gaji, kondisi kerja, status sosial, keamanan, hubungan
antarindividu.
Kalau faktor ini buruk, orang akan tidak puas,
tapi kalau baik, belum tentu termotivasi.
2. Faktor motivasional
(internal): prestasi, pengakuan, tanggung jawab, dan perkembangan pribadi.
Faktor inilah yang benar-benar membuat orang termotivasi.
Nah, dalam konteks pendidikan orang dewasa, teori ini bisa dijelaskan
begini:
Orang dewasa akan semangat belajar bukan cuma
karena fasilitasnya bagus atau ruangan nyaman, tapi karena mereka
merasa belajar itu memberi makna — mengembangkan diri, meningkatkan kompetensi,
dan membuka peluang baru.
Contohnya:
Seorang guru yang ikut pelatihan teknologi pendidikan mungkin awalnya hanya
ingin memenuhi tuntutan sekolah (faktor higienis), tapi kemudian merasa
tertantang dan bangga karena bisa membuat media ajar digital sendiri (faktor
motivasional).
Nah, di sinilah semangat belajar sejati
tumbuh.
c. Teori Motivasi Intrinsik
& Ekstrinsik (Deci & Ryan): Self-Determination Theory
Edward Deci dan Richard Ryan (1985) mengembangkan Self-Determination
Theory (SDT) — teori yang menekankan bahwa motivasi sejati
muncul kalau seseorang punya kebebasan, kompetensi, dan keterhubungan.
Ada tiga kebutuhan psikologis utama menurut SDT:
1. Autonomy (Kemandirian)
Orang dewasa ingin punya kontrol atas proses belajarnya. Mereka ingin memilih
topik, waktu, dan cara belajar sendiri.
Makanya, metode yang terlalu mengatur justru membuat mereka cepat bosan.
2. Competence (Kompetensi)
Mereka ingin merasa mampu dan berhasil.
Setiap pencapaian kecil, seperti menguasai aplikasi baru atau menyelesaikan
proyek, bisa jadi sumber motivasi besar.
3. Relatedness (Keterhubungan)
Orang dewasa juga ingin merasa terhubung dengan orang lain.
Belajar jadi lebih bermakna kalau dilakukan dalam suasana saling mendukung —
misalnya lewat diskusi, kolaborasi, atau komunitas belajar.
Jadi, motivasi orang dewasa akan kuat kalau pembelajaran:
·
Memberi ruang untuk memilih
(autonomy),
·
Memberi tantangan yang bisa
dicapai (competence),
·
Dan membangun kebersamaan
(relatedness).
2. Gaya Belajar Orang
Dewasa: Cara Unik Menyerap Pengetahuan
Kalau motivasi menjelaskan “mengapa” seseorang belajar, gaya
belajar menjelaskan “bagaimana” mereka belajar.
Setiap orang punya cara berbeda untuk memahami informasi — ada yang cepat paham
kalau melihat gambar, ada yang harus mendengar penjelasan, ada juga yang baru
mengerti setelah mencoba langsung.
Secara umum, ada tiga tipe gaya belajar yang paling dikenal: visual,
auditori, dan kinestetik (VAK).
a. Gaya Belajar Visual:
Belajar Lewat Mata
Orang dengan gaya belajar visual lebih mudah
memahami informasi lewat gambar, warna, diagram, atau video.
Mereka suka melihat sesuatu secara konkret dan visualisasi membantu mereka
mengingat lebih lama.
Ciri-cirinya:
·
Suka mencatat dengan
warna-warni,
·
Suka peta konsep, grafik,
dan slide presentasi,
·
Sulit fokus kalau hanya
mendengar tanpa melihat,
·
Mudah memahami ilustrasi
dibanding teks panjang.
Contohnya, seorang karyawan yang belajar strategi marketing akan lebih cepat
paham kalau melihat bagan alur penjualan atau infografis daripada membaca
laporan teks 20 halaman.
Bagi pendidik, metode yang cocok untuk tipe ini adalah:
·
Gunakan presentasi
visual (PowerPoint, video, gambar),
·
Buat mind
map atau bagan ide,
·
Gunakan warna dan simbol
dalam catatan.
b. Gaya Belajar Auditori:
Belajar Lewat Pendengaran
Kalau kamu lebih mudah mengingat sesuatu yang kamu dengar, berarti kamu
termasuk tipe auditori.
Orang auditori menyerap informasi lewat suara — baik dari ceramah, diskusi,
atau bahkan musik.
Ciri-cirinya:
·
Suka berdiskusi atau
mendengarkan penjelasan,
·
Mudah mengingat percakapan
atau nada bicara,
·
Kurang suka membaca teks panjang
tanpa penjelasan verbal,
·
Sering mengulang kata atau
berbicara sendiri untuk mengingat.
Contoh nyata:
Seorang sopir ojek online belajar bahasa Inggris lewat podcast atau YouTube,
karena lebih mudah didengar saat bekerja.
Metode yang cocok untuk tipe ini:
·
Gunakan ceramah
interaktif atau diskusi kelompok,
·
Rekam materi dalam bentuk audio
learning,
·
Dorong peserta untuk
menjelaskan ulang apa yang mereka pelajari (teknik learning by talking).
c. Gaya Belajar Kinestetik:
Belajar Lewat Tindakan
Nah, kalau tipe ini nggak bisa duduk diam lama-lama!
Mereka baru paham setelah melakukan langsung.
Gaya belajar kinestetik cocok dengan
pendekatan praktis, eksperimen, dan simulasi.
Ciri-cirinya:
·
Belajar lewat praktik
langsung (hands-on),
·
Suka bergerak atau memegang
benda saat belajar,
·
Kurang fokus kalau hanya
membaca atau mendengar,
·
Lebih cepat mengingat hal
yang pernah dilakukan daripada yang hanya dilihat.
Contohnya:
Seorang montir belajar teknik mesin baru bukan dari buku, tapi dari membongkar
dan merakit mesin itu sendiri.
Metode yang cocok untuk tipe ini:
·
Simulasi
dan praktek lapangan,
·
Permainan
peran (role play),
·
Belajar
berbasis proyek.
3. Tidak Ada Gaya yang
Paling Benar, yang Ada Hanya yang Paling Cocok
Menariknya, banyak orang tidak hanya punya satu gaya belajar.
Kebanyakan kombinasi dari dua atau tiga tipe, tergantung situasi dan materi.
Misalnya, seseorang bisa visual saat belajar teori, tapi kinestetik saat
praktik.
Atau auditori saat berdiskusi, tapi visual saat membuat laporan.
Tugas pendidik orang dewasa bukan menilai mana yang paling baik, tapi mengenali
dan menyesuaikan.
Kalau semua gaya belajar diakomodasi — misalnya dengan kombinasi video,
diskusi, dan praktik — maka proses belajar akan lebih inklusif dan efektif.
4. Menggabungkan Motivasi
dan Gaya Belajar: Kunci Sukses Pendidikan Dewasa
Sekarang coba kita hubungkan antara motivasi dan gaya belajar.
Kalau motivasi adalah bahan bakar, maka gaya
belajar adalah mesin yang mengolahnya.
Bahan bakar tanpa mesin tidak menghasilkan gerak, mesin tanpa bahan bakar tidak
berjalan.
Orang dewasa yang termotivasi tapi metode belajarnya tidak sesuai gaya
mereka, akan cepat bosan.
Sebaliknya, gaya belajar yang menarik tapi tanpa motivasi juga tidak akan
bertahan lama.
Maka, pembelajaran yang efektif untuk orang dewasa harus:
·
Menggugah
motivasi intrinsik, bukan sekadar formalitas.
·
Menyesuaikan
gaya belajar peserta, bukan memaksakan satu metode.
·
Menghubungkan
dengan pengalaman hidup nyata, karena di sanalah makna belajar
sesungguhnya.
5. Penutup: Belajar dengan
Cara dan Alasan yang Tepat
Pada akhirnya, belajar di usia dewasa itu bukan soal kemampuan, tapi soal kesadaran
dan kebermaknaan.
Ketika seseorang tahu kenapa ia belajar (motivasi),
dan tahu bagaimana ia belajar paling efektif (gaya belajar),
maka proses itu akan terasa ringan dan menyenangkan.
Belajar bukan lagi beban, tapi bagian dari perjalanan menjadi manusia yang
terus bertumbuh.
Seperti kata pepatah,
“Yang membedakan orang sukses dan tidak bukan seberapa banyak ia tahu, tapi
seberapa kuat ia ingin terus belajar.”
No comments:
Post a Comment