Karakteristik Belajar Orang Dewasa: Dari Motivasi,
Pengalaman, hingga Hambatan yang Tak Terduga
Kalau kita pikir-pikir, belajar itu sebenarnya nggak pernah berhenti. Dari
kecil kita belajar jalan, belajar bicara, belajar berhitung, lalu setelah
dewasa kita belajar kerja, belajar sabar, bahkan belajar ikhlas. Tapi ada satu
hal yang sering diabaikan: belajar di usia dewasa itu punya karakter
yang sangat berbeda dari belajar di masa anak-anak.
Nah, di dunia pendidikan, hal ini dikenal sebagai pendidikan
orang dewasa atau andragogi —
sebuah konsep yang menempatkan orang dewasa bukan sebagai murid pasif, tapi
sebagai pembelajar aktif yang
sudah punya pengalaman, tanggung jawab, dan cara pandang sendiri.
Belajar bagi orang dewasa itu bukan sekadar menambah ilmu, tapi sering kali
jadi bagian dari perjalanan hidup — untuk memperbaiki
diri, meningkatkan keterampilan, atau menghadapi perubahan zaman. Tapi, tentu
aja, prosesnya nggak selalu mulus. Ada motivasi yang mendorong, pengalaman yang
memengaruhi, dan juga hambatan yang bisa menghambat.
Yuk, kita bahas satu per satu tentang karakteristik belajar
orang dewasa: mulai dari motivasi, pengalaman,
dan orientasi belajar, sampai hambatan psikologis,
sosial, dan kultural yang sering mereka hadapi.
| Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing |
1. Motivasi Belajar Orang
Dewasa: Belajar Karena Butuh, Bukan Karena Disuruh
Kalau anak-anak biasanya belajar karena disuruh guru atau orang tua, orang
dewasa belajar karena mereka merasa perlu.
Motivasi mereka cenderung datang dari dalam diri (intrinsik)
— bukan karena nilai, bukan karena hadiah, tapi karena ada kebutuhan nyata.
Misalnya, seorang petani belajar teknologi pertanian organik karena ingin
meningkatkan hasil panen. Seorang ibu rumah tangga belajar pemasaran digital
agar bisa jualan online. Atau seorang pegawai belajar bahasa Inggris supaya
bisa naik jabatan.
Menurut Malcolm Knowles, orang
dewasa itu punya kesadaran tinggi tentang tanggung jawab terhadap hidupnya
sendiri. Mereka nggak butuh “disuruh”, cukup diberi alasan yang jelas mengapa
belajar ini penting.
Beberapa faktor yang biasanya memotivasi orang dewasa untuk belajar antara
lain:
·
Kebutuhan
praktis. Belajar karena ingin memecahkan masalah nyata.
·
Pengembangan
diri. Ingin jadi pribadi yang lebih baik dan percaya diri.
·
Kebutuhan
sosial. Ingin diakui, dihargai, atau merasa berguna dalam
komunitas.
·
Dorongan
spiritual atau emosional. Kadang orang belajar untuk
menenangkan batin, memperluas wawasan, atau menemukan makna hidup.
Tapi, ada juga motivasi ekstrinsik, misalnya
karena tuntutan pekerjaan, sertifikasi, atau keharusan dalam organisasi.
Bedanya, kalau motivasi ini tidak disertai kesadaran internal, hasil belajarnya
sering tidak bertahan lama.
Jadi, kuncinya adalah relevansi. Orang dewasa
akan bersemangat belajar kalau mereka tahu bahwa apa yang dipelajari itu bermanfaat
langsung dalam hidupnya.
2. Pengalaman: Sumber
Belajar yang Tak Ternilai
Salah satu hal paling menonjol dari pembelajar dewasa adalah: mereka
datang dengan segudang pengalaman.
Bayangkan, setiap orang punya latar belakang hidup, nilai-nilai, kebiasaan, dan
cerita yang berbeda. Itu semua bisa jadi sumber belajar yang
sangat kaya.
Dalam pendekatan andragogi, pengalaman bukan
cuma pelengkap, tapi justru inti dari proses belajar.
Menurut Knowles, pengalaman hidup orang dewasa:
·
Membentuk cara mereka
memahami sesuatu,
·
Mempengaruhi bagaimana
mereka menerima pengetahuan baru,
·
Dan menjadi bahan refleksi
untuk menemukan makna baru.
Misalnya, seorang guru dengan pengalaman 20 tahun pasti punya perspektif
berbeda saat belajar teori pendidikan dibandingkan mahasiswa baru.
Atau seorang pengusaha kecil yang ikut pelatihan keuangan akan mengaitkan
setiap konsep dengan pengalamannya mengelola usaha sehari-hari.
Metode pembelajaran yang cocok untuk orang dewasa biasanya yang berbasis pengalaman
langsung, seperti:
·
Diskusi kelompok (sharing
pengalaman),
·
Studi kasus (menganalisis
situasi nyata),
·
Simulasi atau permainan
peran,
·
Refleksi dan penulisan
jurnal pribadi.
Belajar dari pengalaman membuat pengetahuan terasa lebih nyata
dan bermakna.
David Kolb dalam experiential learning theory
bahkan mengatakan bahwa “pengalaman adalah bahan baku utama dari pembelajaran.”
Artinya, setiap pengalaman—baik sukses maupun gagal—adalah guru yang berharga.
3. Orientasi Belajar: Fokus
pada Kehidupan Nyata
Berbeda dengan anak-anak yang belajar demi nilai atau masa depan, orang
dewasa punya orientasi belajar yang praktis dan langsung ke
tujuan.
Mereka lebih suka belajar hal-hal yang bisa diterapkan
sekarang juga, bukan teori panjang yang tidak relevan.
Contohnya, kursus komputer untuk karyawan akan lebih efektif kalau langsung
berfokus pada keterampilan yang dibutuhkan di tempat kerja, seperti mengolah
data atau membuat presentasi, daripada sekadar mempelajari teori sistem
operasi.
Orientasi belajar orang dewasa juga sangat berpusat pada masalah
(problem-centered), bukan pada isi pelajaran.
Mereka belajar karena ada masalah yang ingin dipecahkan, bukan karena ingin
menyelesaikan kurikulum.
Selain itu, orang dewasa juga selektif dalam belajar.
Mereka tidak akan menyerap semua informasi, hanya yang relevan dengan kehidupan
atau pekerjaan mereka.
Makanya, metode pengajaran yang cocok biasanya berbentuk diskusi,
proyek, atau pelatihan berbasis kebutuhan (need-based learning).
4. Hambatan dalam Belajar
Orang Dewasa
Nah, meskipun motivasi tinggi dan pengalaman banyak, bukan berarti proses
belajar orang dewasa selalu lancar.
Faktanya, ada banyak hambatan yang bisa
mengganggu, baik dari segi psikologis, sosial,
maupun kultural.
a. Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis sering kali datang dari dalam diri pembelajar itu
sendiri.
Beberapa yang paling umum antara lain:
·
Rasa
takut gagal. Banyak orang dewasa merasa minder untuk belajar
lagi, apalagi kalau sudah lama “berhenti sekolah”.
·
Kurangnya
kepercayaan diri. Mereka takut dianggap bodoh, terutama di
hadapan peserta yang lebih muda atau lebih melek teknologi.
·
Stres
dan kelelahan. Tanggung jawab pekerjaan, keluarga, dan ekonomi
sering kali membuat fokus belajar berkurang.
·
Kebiasaan
lama. Kadang pola pikir yang sudah terbentuk sulit diubah,
membuat seseorang sulit menerima ide baru.
Untuk mengatasinya, pendidik perlu menciptakan suasana belajar yang aman,
saling menghargai, dan tidak menghakimi.
Prinsipnya: belajar adalah proses, bukan kompetisi.
b. Hambatan Sosial
Selain faktor internal, ada juga hambatan yang bersifat sosial.
Banyak orang dewasa harus membagi waktu antara bekerja, mengurus keluarga, dan
belajar.
Akibatnya, jadwal yang padat sering membuat mereka tidak bisa fokus atau bahkan
berhenti di tengah jalan.
Beberapa contoh hambatan sosial lainnya:
·
Kurangnya dukungan dari
lingkungan (misalnya pasangan atau rekan kerja tidak mendukung),
·
Akses terbatas ke fasilitas
belajar (tidak ada waktu atau tempat yang memadai),
·
Beban ekonomi yang membuat
biaya kursus terasa berat.
Makanya, program pendidikan untuk orang dewasa sebaiknya fleksibel
dan adaptif, misalnya dengan pembelajaran daring, jadwal malam,
atau sistem modular yang bisa diikuti sesuai waktu peserta.
c. Hambatan Kultural
Nah, ini menarik. Kadang hambatan terbesar bukan berasal dari diri sendiri
atau lingkungan sosial, tapi dari budaya dan cara pandang
masyarakat.
Di beberapa tempat, masih ada anggapan bahwa belajar itu “urusan anak muda”.
Orang dewasa dianggap sudah terlambat atau tidak perlu lagi belajar.
Budaya seperti ini bisa membuat orang merasa malu atau ragu untuk ikut
pelatihan.
Padahal, belajar itu tidak mengenal usia.
Selain itu, nilai-nilai budaya juga bisa memengaruhi cara belajar.
Misalnya:
·
Dalam budaya yang
menghormati hierarki, peserta bisa sungkan bertanya kepada instruktur.
·
Dalam masyarakat yang
patriarkal, perempuan dewasa bisa kesulitan mengakses pendidikan karena peran
domestik.
·
Dalam budaya kolektif,
orang lebih suka belajar secara kelompok ketimbang individual.
Pendidik orang dewasa perlu memahami konteks budaya ini agar metode
pengajaran bisa disesuaikan. Tujuannya bukan mengubah budaya, tapi memasukkan
pembelajaran ke dalam nilai-nilai lokal yang ada.
5. Bagaimana Menghadapi
Hambatan-Hambatan Itu?
Setiap hambatan sebenarnya bisa jadi peluang kalau didekati dengan cara yang
tepat.
Berikut beberapa strategi yang bisa dilakukan pendidik (dan pembelajar
sendiri):
·
Bangun
suasana saling percaya. Orang dewasa butuh merasa dihargai,
bukan dihakimi.
·
Gunakan
pengalaman peserta sebagai bahan diskusi.
·
Berikan
fleksibilitas waktu dan metode. Bisa lewat blended learning,
kursus malam, atau belajar berbasis komunitas.
·
Fokus
pada hasil nyata. Setiap pembelajaran harus terasa manfaatnya
dalam kehidupan peserta.
·
Dukung
motivasi intrinsik. Beri ruang bagi peserta untuk menentukan
tujuan belajarnya sendiri.
Ketika pembelajaran dirancang dengan prinsip andragogi,
hambatan-hambatan itu bisa diubah menjadi bahan refleksi dan pertumbuhan.
6. Belajar Dewasa: Lebih
dari Sekadar Ilmu
Kalau dirangkum, karakteristik belajar orang dewasa bisa disimpulkan begini:
·
Mereka belajar
karena kebutuhan nyata, bukan sekadar kewajiban.
·
Mereka membawa
pengalaman hidup yang jadi sumber belajar berharga.
·
Mereka berorientasi
pada penerapan langsung, bukan hafalan.
·
Tapi mereka juga menghadapi
hambatan psikologis, sosial, dan kultural yang
harus dipahami dan dihargai.
Belajar di usia dewasa itu seperti menanam pohon setelah lama hidup di
padang tandus. Tidak mudah, tapi hasilnya bisa luar biasa—karena pohon itu
tumbuh dengan kesadaran, bukan sekadar kebiasaan.
Penutup: Belajar Itu Hak,
Bukan Umur
Akhirnya, pendidikan orang dewasa mengingatkan kita bahwa tidak
ada kata terlambat untuk belajar.
Mau usia 30, 50, bahkan 70 tahun—selama masih ada rasa ingin tahu, semangat, dan
keberanian untuk berkembang, maka seseorang tetap pembelajar sejati.
Karena sejatinya, belajar bukan soal umur, tapi soal niat
dan makna.
“Hidup adalah belajar tanpa henti. Saat berhenti belajar, saat itulah kita
benar-benar tua.”
No comments:
Post a Comment