Friday, November 14, 2025

Karakteristik Belajar Orang Dewasa: Dari Motivasi, Pengalaman, hingga Hambatan yang Tak Terduga

 

Karakteristik Belajar Orang Dewasa: Dari Motivasi, Pengalaman, hingga Hambatan yang Tak Terduga

Kalau kita pikir-pikir, belajar itu sebenarnya nggak pernah berhenti. Dari kecil kita belajar jalan, belajar bicara, belajar berhitung, lalu setelah dewasa kita belajar kerja, belajar sabar, bahkan belajar ikhlas. Tapi ada satu hal yang sering diabaikan: belajar di usia dewasa itu punya karakter yang sangat berbeda dari belajar di masa anak-anak.

Nah, di dunia pendidikan, hal ini dikenal sebagai pendidikan orang dewasa atau andragogi — sebuah konsep yang menempatkan orang dewasa bukan sebagai murid pasif, tapi sebagai pembelajar aktif yang sudah punya pengalaman, tanggung jawab, dan cara pandang sendiri.

Belajar bagi orang dewasa itu bukan sekadar menambah ilmu, tapi sering kali jadi bagian dari perjalanan hidup — untuk memperbaiki diri, meningkatkan keterampilan, atau menghadapi perubahan zaman. Tapi, tentu aja, prosesnya nggak selalu mulus. Ada motivasi yang mendorong, pengalaman yang memengaruhi, dan juga hambatan yang bisa menghambat.

Yuk, kita bahas satu per satu tentang karakteristik belajar orang dewasa: mulai dari motivasi, pengalaman, dan orientasi belajar, sampai hambatan psikologis, sosial, dan kultural yang sering mereka hadapi.

 

Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing

1. Motivasi Belajar Orang Dewasa: Belajar Karena Butuh, Bukan Karena Disuruh

Kalau anak-anak biasanya belajar karena disuruh guru atau orang tua, orang dewasa belajar karena mereka merasa perlu.
Motivasi mereka cenderung datang dari dalam diri (intrinsik) — bukan karena nilai, bukan karena hadiah, tapi karena ada kebutuhan nyata.

Misalnya, seorang petani belajar teknologi pertanian organik karena ingin meningkatkan hasil panen. Seorang ibu rumah tangga belajar pemasaran digital agar bisa jualan online. Atau seorang pegawai belajar bahasa Inggris supaya bisa naik jabatan.

Menurut Malcolm Knowles, orang dewasa itu punya kesadaran tinggi tentang tanggung jawab terhadap hidupnya sendiri. Mereka nggak butuh “disuruh”, cukup diberi alasan yang jelas mengapa belajar ini penting.

Beberapa faktor yang biasanya memotivasi orang dewasa untuk belajar antara lain:

·         Kebutuhan praktis. Belajar karena ingin memecahkan masalah nyata.

·         Pengembangan diri. Ingin jadi pribadi yang lebih baik dan percaya diri.

·         Kebutuhan sosial. Ingin diakui, dihargai, atau merasa berguna dalam komunitas.

·         Dorongan spiritual atau emosional. Kadang orang belajar untuk menenangkan batin, memperluas wawasan, atau menemukan makna hidup.

Tapi, ada juga motivasi ekstrinsik, misalnya karena tuntutan pekerjaan, sertifikasi, atau keharusan dalam organisasi. Bedanya, kalau motivasi ini tidak disertai kesadaran internal, hasil belajarnya sering tidak bertahan lama.

Jadi, kuncinya adalah relevansi. Orang dewasa akan bersemangat belajar kalau mereka tahu bahwa apa yang dipelajari itu bermanfaat langsung dalam hidupnya.

 

2. Pengalaman: Sumber Belajar yang Tak Ternilai

Salah satu hal paling menonjol dari pembelajar dewasa adalah: mereka datang dengan segudang pengalaman.
Bayangkan, setiap orang punya latar belakang hidup, nilai-nilai, kebiasaan, dan cerita yang berbeda. Itu semua bisa jadi sumber belajar yang sangat kaya.

Dalam pendekatan andragogi, pengalaman bukan cuma pelengkap, tapi justru inti dari proses belajar.
Menurut Knowles, pengalaman hidup orang dewasa:

·         Membentuk cara mereka memahami sesuatu,

·         Mempengaruhi bagaimana mereka menerima pengetahuan baru,

·         Dan menjadi bahan refleksi untuk menemukan makna baru.

Misalnya, seorang guru dengan pengalaman 20 tahun pasti punya perspektif berbeda saat belajar teori pendidikan dibandingkan mahasiswa baru.
Atau seorang pengusaha kecil yang ikut pelatihan keuangan akan mengaitkan setiap konsep dengan pengalamannya mengelola usaha sehari-hari.

Metode pembelajaran yang cocok untuk orang dewasa biasanya yang berbasis pengalaman langsung, seperti:

·         Diskusi kelompok (sharing pengalaman),

·         Studi kasus (menganalisis situasi nyata),

·         Simulasi atau permainan peran,

·         Refleksi dan penulisan jurnal pribadi.

Belajar dari pengalaman membuat pengetahuan terasa lebih nyata dan bermakna.
David Kolb dalam experiential learning theory bahkan mengatakan bahwa “pengalaman adalah bahan baku utama dari pembelajaran.” Artinya, setiap pengalaman—baik sukses maupun gagal—adalah guru yang berharga.

 

3. Orientasi Belajar: Fokus pada Kehidupan Nyata

Berbeda dengan anak-anak yang belajar demi nilai atau masa depan, orang dewasa punya orientasi belajar yang praktis dan langsung ke tujuan.
Mereka lebih suka belajar hal-hal yang bisa diterapkan sekarang juga, bukan teori panjang yang tidak relevan.

Contohnya, kursus komputer untuk karyawan akan lebih efektif kalau langsung berfokus pada keterampilan yang dibutuhkan di tempat kerja, seperti mengolah data atau membuat presentasi, daripada sekadar mempelajari teori sistem operasi.

Orientasi belajar orang dewasa juga sangat berpusat pada masalah (problem-centered), bukan pada isi pelajaran.
Mereka belajar karena ada masalah yang ingin dipecahkan, bukan karena ingin menyelesaikan kurikulum.

Selain itu, orang dewasa juga selektif dalam belajar. Mereka tidak akan menyerap semua informasi, hanya yang relevan dengan kehidupan atau pekerjaan mereka.
Makanya, metode pengajaran yang cocok biasanya berbentuk diskusi, proyek, atau pelatihan berbasis kebutuhan (need-based learning).

 

4. Hambatan dalam Belajar Orang Dewasa

Nah, meskipun motivasi tinggi dan pengalaman banyak, bukan berarti proses belajar orang dewasa selalu lancar.
Faktanya, ada banyak hambatan yang bisa mengganggu, baik dari segi psikologis, sosial, maupun kultural.

a. Hambatan Psikologis

Hambatan psikologis sering kali datang dari dalam diri pembelajar itu sendiri.
Beberapa yang paling umum antara lain:

·         Rasa takut gagal. Banyak orang dewasa merasa minder untuk belajar lagi, apalagi kalau sudah lama “berhenti sekolah”.

·         Kurangnya kepercayaan diri. Mereka takut dianggap bodoh, terutama di hadapan peserta yang lebih muda atau lebih melek teknologi.

·         Stres dan kelelahan. Tanggung jawab pekerjaan, keluarga, dan ekonomi sering kali membuat fokus belajar berkurang.

·         Kebiasaan lama. Kadang pola pikir yang sudah terbentuk sulit diubah, membuat seseorang sulit menerima ide baru.

Untuk mengatasinya, pendidik perlu menciptakan suasana belajar yang aman, saling menghargai, dan tidak menghakimi.
Prinsipnya: belajar adalah proses, bukan kompetisi.

 

b. Hambatan Sosial

Selain faktor internal, ada juga hambatan yang bersifat sosial.
Banyak orang dewasa harus membagi waktu antara bekerja, mengurus keluarga, dan belajar.
Akibatnya, jadwal yang padat sering membuat mereka tidak bisa fokus atau bahkan berhenti di tengah jalan.

Beberapa contoh hambatan sosial lainnya:

·         Kurangnya dukungan dari lingkungan (misalnya pasangan atau rekan kerja tidak mendukung),

·         Akses terbatas ke fasilitas belajar (tidak ada waktu atau tempat yang memadai),

·         Beban ekonomi yang membuat biaya kursus terasa berat.

Makanya, program pendidikan untuk orang dewasa sebaiknya fleksibel dan adaptif, misalnya dengan pembelajaran daring, jadwal malam, atau sistem modular yang bisa diikuti sesuai waktu peserta.

 

c. Hambatan Kultural

Nah, ini menarik. Kadang hambatan terbesar bukan berasal dari diri sendiri atau lingkungan sosial, tapi dari budaya dan cara pandang masyarakat.
Di beberapa tempat, masih ada anggapan bahwa belajar itu “urusan anak muda”. Orang dewasa dianggap sudah terlambat atau tidak perlu lagi belajar.

Budaya seperti ini bisa membuat orang merasa malu atau ragu untuk ikut pelatihan.
Padahal, belajar itu tidak mengenal usia.

Selain itu, nilai-nilai budaya juga bisa memengaruhi cara belajar.
Misalnya:

·         Dalam budaya yang menghormati hierarki, peserta bisa sungkan bertanya kepada instruktur.

·         Dalam masyarakat yang patriarkal, perempuan dewasa bisa kesulitan mengakses pendidikan karena peran domestik.

·         Dalam budaya kolektif, orang lebih suka belajar secara kelompok ketimbang individual.

Pendidik orang dewasa perlu memahami konteks budaya ini agar metode pengajaran bisa disesuaikan. Tujuannya bukan mengubah budaya, tapi memasukkan pembelajaran ke dalam nilai-nilai lokal yang ada.

 

5. Bagaimana Menghadapi Hambatan-Hambatan Itu?

Setiap hambatan sebenarnya bisa jadi peluang kalau didekati dengan cara yang tepat.
Berikut beberapa strategi yang bisa dilakukan pendidik (dan pembelajar sendiri):

·         Bangun suasana saling percaya. Orang dewasa butuh merasa dihargai, bukan dihakimi.

·         Gunakan pengalaman peserta sebagai bahan diskusi.

·         Berikan fleksibilitas waktu dan metode. Bisa lewat blended learning, kursus malam, atau belajar berbasis komunitas.

·         Fokus pada hasil nyata. Setiap pembelajaran harus terasa manfaatnya dalam kehidupan peserta.

·         Dukung motivasi intrinsik. Beri ruang bagi peserta untuk menentukan tujuan belajarnya sendiri.

Ketika pembelajaran dirancang dengan prinsip andragogi, hambatan-hambatan itu bisa diubah menjadi bahan refleksi dan pertumbuhan.

 

6. Belajar Dewasa: Lebih dari Sekadar Ilmu

Kalau dirangkum, karakteristik belajar orang dewasa bisa disimpulkan begini:

·         Mereka belajar karena kebutuhan nyata, bukan sekadar kewajiban.

·         Mereka membawa pengalaman hidup yang jadi sumber belajar berharga.

·         Mereka berorientasi pada penerapan langsung, bukan hafalan.

·         Tapi mereka juga menghadapi hambatan psikologis, sosial, dan kultural yang harus dipahami dan dihargai.

Belajar di usia dewasa itu seperti menanam pohon setelah lama hidup di padang tandus. Tidak mudah, tapi hasilnya bisa luar biasa—karena pohon itu tumbuh dengan kesadaran, bukan sekadar kebiasaan.

 

Penutup: Belajar Itu Hak, Bukan Umur

Akhirnya, pendidikan orang dewasa mengingatkan kita bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar.
Mau usia 30, 50, bahkan 70 tahun—selama masih ada rasa ingin tahu, semangat, dan keberanian untuk berkembang, maka seseorang tetap pembelajar sejati.

Karena sejatinya, belajar bukan soal umur, tapi soal niat dan makna.

“Hidup adalah belajar tanpa henti. Saat berhenti belajar, saat itulah kita benar-benar tua.”

 

No comments:

Post a Comment

Menyusun Target dan Indikator Kompetensi: Panduan Santai untuk Guru Hebat

  Pernah nggak sih kamu merasa bingung saat bikin rencana pembelajaran? Kadang rasanya kayak nyusun puzzle — semua harus pas: dari kompete...