Thursday, November 13, 2025

Teori-Teori Belajar Orang Dewasa (Andragogi): Belajar Sepanjang Hayat yang Berarti

 

Teori-Teori Belajar Orang Dewasa (Andragogi): Belajar Sepanjang Hayat yang Berarti

Kalau kita ngomongin tentang belajar, banyak orang langsung kebayang anak sekolah dengan seragam, guru di depan kelas, dan suasana formal. Tapi seiring bertambahnya umur, kita mulai sadar bahwa belajar ternyata nggak berhenti di ruang kelas. Hidup itu sendiri adalah sekolah besar yang nggak pernah kasih ijazah, tapi selalu kasih pelajaran.

Nah, di sinilah muncul yang namanya pendidikan orang dewasa, atau dalam istilah kerennya andragogi. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Malcolm Knowles, yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Orang Dewasa Modern. Kalau pedagogi itu fokus pada bagaimana anak belajar, maka andragogi fokus pada bagaimana orang dewasa belajar.

Dan ternyata, cara orang dewasa belajar itu beda banget. Mereka punya pengalaman hidup, tanggung jawab, dan motivasi yang nggak sama dengan anak-anak. Mereka belajar bukan karena disuruh, tapi karena mereka ingin dan butuh.

Dalam artikel ini, kita bakal bahas empat teori besar yang menjelaskan bagaimana orang dewasa belajar:

1.      Prinsip-prinsip andragogi menurut Malcolm Knowles,

2.      Experiential Learning dari David Kolb,

3.      Self-Directed Learning, dan

4.      Transformative Learning.

Yuk, kita bahas satu per satu dengan gaya santai tapi tetap bermakna!

 

Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing

1. Prinsip-Prinsip Andragogi Menurut Malcolm Knowles

Malcolm Knowles (1913–1997) adalah sosok yang mengubah cara dunia memandang pembelajaran orang dewasa. Menurutnya, orang dewasa tidak bisa diperlakukan seperti anak-anak dalam belajar. Mereka punya kebutuhan dan karakteristik unik yang membuat pendekatan pengajaran harus berbeda.

Knowles mengemukakan enam prinsip utama andragogi yang jadi pondasi dalam pendidikan orang dewasa:

1. Kebutuhan untuk tahu (The Need to Know)

Orang dewasa butuh tahu kenapa mereka harus belajar sesuatu sebelum benar-benar mau belajar. Kalau nggak tahu manfaatnya, mereka cenderung malas atau nggak tertarik.
Contohnya, kalau kamu mau ngajarin pegawai tentang teknologi baru, jangan langsung masuk ke teknisnya. Jelaskan dulu kenapa ini penting—misalnya bisa bikin kerja lebih cepat, lebih aman, atau meningkatkan karier mereka.

2. Konsep diri (Self-Concept)

Berbeda dengan anak-anak yang masih bergantung pada guru, orang dewasa merasa dirinya mandiri dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Jadi, mereka nggak suka kalau “diatur” secara berlebihan dalam belajar.
Tugas pendidik di sini bukan memberi perintah, tapi menjadi fasilitator—memberi ruang bagi peserta untuk mengatur ritme dan gaya belajarnya sendiri.

3. Peran pengalaman (Experience)

Pengalaman hidup adalah sumber belajar paling berharga bagi orang dewasa. Setiap peserta datang ke kelas membawa “cerita hidup” yang bisa memperkaya diskusi.
Makanya, metode belajar yang cocok biasanya berbasis diskusi, studi kasus, atau refleksi—bukan ceramah satu arah.

4. Kesiapan untuk belajar (Readiness to Learn)

Orang dewasa biasanya belajar karena mereka siap dan butuh sesuatu yang relevan dengan kehidupan mereka saat itu.
Misalnya, seorang petani tertarik ikut pelatihan pupuk organik karena ingin meningkatkan hasil panennya, bukan karena ingin nilai bagus.

5. Orientasi terhadap belajar (Orientation to Learning)

Anak-anak belajar untuk masa depan (buat ujian, naik kelas, dan sebagainya). Tapi orang dewasa belajar untuk memecahkan masalah sekarang.
Jadi, pembelajaran harus kontekstual dan praktis—langsung bisa diterapkan dalam kehidupan atau pekerjaan.

6. Motivasi untuk belajar (Motivation)

Motivasi orang dewasa biasanya datang dari dalam diri (intrinsik), bukan dari luar. Mereka belajar karena ingin berkembang, lebih percaya diri, atau meningkatkan kualitas hidupnya.

Nah, keenam prinsip inilah yang membedakan pendidikan orang dewasa dari pendidikan anak. Knowles menegaskan bahwa pengajar orang dewasa harus menghormati otonomi peserta, menghargai pengalamannya, dan menghubungkan pembelajaran dengan kebutuhan nyata.

 

2. Teori Experiential Learning (David Kolb): Belajar Lewat Pengalaman

Kalau Malcolm Knowles bicara soal prinsip dasar orang dewasa belajar, David Kolb menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi—yaitu lewat pengalaman langsung.

Menurut Kolb (1984), belajar adalah proses di mana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman. Jadi, belajar bukan sekadar mendengar teori, tapi benar-benar mengalami dan merefleksikannya.

Ia menggambarkan proses belajar dalam empat tahap siklus yang saling berhubungan, disebut Kolb’s Learning Cycle:

1. Concrete Experience (Pengalaman Konkret)

Tahap pertama adalah mengalami sesuatu secara langsung. Misalnya, seorang wirausaha mencoba strategi pemasaran baru atau seorang guru mencoba metode mengajar baru di kelasnya.

2. Reflective Observation (Refleksi)

Setelah mengalami, orang mulai merenungkan apa yang terjadi. Apa yang berhasil? Apa yang tidak? Apa yang bisa dipelajari dari situ?

3. Abstract Conceptualization (Konseptualisasi)

Dari refleksi, orang mulai membentuk teori atau pemahaman baru. Mereka mulai menghubungkan pengalaman dengan konsep atau prinsip yang lebih umum.

4. Active Experimentation (Eksperimen Aktif)

Akhirnya, teori atau pemahaman baru itu diuji kembali dalam tindakan nyata. Orang mencoba pendekatan baru dan melihat hasilnya.

Setelah itu, siklus berulang lagi — pengalaman baru menghasilkan pembelajaran baru.

Contoh Nyata:

Bayangkan seorang nelayan belajar cara baru menangkap ikan menggunakan alat ramah lingkungan.

1.      Ia mencoba (pengalaman konkrit).

2.      Ia refleksi, ternyata hasilnya lebih baik (reflektif).

3.      Ia pahami bahwa alat ini efisien dan menjaga ekosistem (konseptualisasi).

4.      Ia lalu mengajarkan cara ini ke teman-temannya (eksperimen aktif).

Begitulah proses belajar sejati—berawal dari pengalaman, diolah dalam refleksi, dan kembali ke tindakan nyata.

Teori Kolb ini sangat cocok untuk pendidikan orang dewasa, karena mereka belajar paling baik dari pengalaman hidupnya sendiri.

 

3. Self-Directed Learning (Belajar Mandiri)

Nah, teori ini muncul dari kenyataan bahwa orang dewasa itu cenderung belajar secara mandiri. Mereka nggak menunggu orang lain untuk mengajari, tapi aktif mencari sendiri apa yang mereka butuhkan.

Self-Directed Learning (SDL) berarti proses di mana individu mengambil inisiatif untuk mendiagnosis kebutuhan belajarnya, menetapkan tujuan, mencari sumber belajar, memilih strategi, dan mengevaluasi hasilnya.

Tokoh penting di bidang ini adalah Tough (1971) dan Knowles (1975) yang menegaskan bahwa belajar mandiri adalah ciri utama orang dewasa.

Karakteristik SDL:

1.      Otonomi tinggi. Peserta menentukan arah belajarnya sendiri.

2.      Motivasi intrinsik. Belajar karena ingin, bukan karena disuruh.

3.      Sumber belajar beragam. Bisa dari buku, internet, komunitas, mentor, atau pengalaman kerja.

4.      Belajar sepanjang hayat. Tidak terikat ruang dan waktu.

Sekarang kita bisa lihat contoh nyata SDL di mana-mana. Misalnya:

·         Seorang karyawan belajar desain grafis lewat YouTube agar bisa promosi produknya.

·         Seorang ibu rumah tangga belajar bisnis online lewat webinar.

·         Seorang pensiunan belajar bercocok tanam hidroponik lewat komunitas Facebook.

Itulah bentuk nyata dari self-directed learning—belajar dengan kesadaran, tanpa menunggu disuruh.

SDL juga sangat relevan di era digital sekarang, karena akses informasi begitu terbuka. Siapa pun bisa belajar apa saja, kapan saja, di mana saja, asal punya kemauan.

 

4. Transformative Learning: Belajar yang Mengubah Diri

Kalau tiga teori sebelumnya bicara soal bagaimana orang dewasa belajar, teori Transformative Learning berbicara soal apa yang berubah setelah belajar.

Teori ini dikembangkan oleh Jack Mezirow (1978) yang mengatakan bahwa tujuan utama pendidikan orang dewasa adalah transformasi cara berpikir.

Menurut Mezirow, orang dewasa sering kali membawa “kerangka berpikir lama” (frame of reference) yang terbentuk dari pengalaman masa lalu. Tapi ketika mereka belajar, mereka bisa mulai mempertanyakan keyakinan lama itu dan menggantinya dengan pandangan baru yang lebih luas.

Proses Transformative Learning biasanya terjadi lewat tiga tahap:

1.      Disorienting Dilemma (Situasi yang Mengguncang)
Orang mengalami peristiwa yang membuatnya mempertanyakan pandangan lama. Misalnya, seorang pekerja kehilangan pekerjaan dan mulai berpikir ulang tentang makna karier dan hidupnya.

2.      Critical Reflection (Refleksi Kritis)
Orang mulai merenung: kenapa saya berpikir seperti ini? Apakah nilai-nilai saya masih relevan?

3.      New Perspective (Pandangan Baru)
Dari refleksi itu lahir kesadaran baru, yang mengubah cara berpikir dan bertindak.

Contohnya, seseorang yang dulu menganggap pendidikan hanya soal nilai akademik, setelah ikut pelatihan pemberdayaan masyarakat, jadi sadar bahwa pendidikan juga soal keadilan dan empati sosial.

Itulah inti dari pembelajaran transformatif—bukan hanya menambah pengetahuan, tapi mengubah kesadaran.

Teori ini sangat dipengaruhi oleh gagasan Paulo Freire tentang pendidikan pembebasan, di mana belajar berarti menyadari realitas dan berani mengubahnya.

 

5. Menyatukan Keempat Teori: Belajar Sepanjang Hidup

Kalau kita lihat, keempat teori ini sebenarnya saling melengkapi:

·         Andragogi (Knowles) memberi prinsip dasar: orang dewasa belajar karena kebutuhan nyata, dengan cara mandiri dan berbasis pengalaman.

·         Experiential Learning (Kolb) menjelaskan bahwa pengalaman adalah sumber utama belajar.

·         Self-Directed Learning menekankan kemandirian dan inisiatif pribadi.

·         Transformative Learning menekankan perubahan cara berpikir dan kesadaran kritis.

Semua teori ini berpijak pada satu hal: orang dewasa adalah subjek belajar yang aktif, reflektif, dan mandiri. Mereka nggak sekadar mencari ilmu, tapi mencari makna.

 

Penutup: Belajar Itu Perjalanan, Bukan Tujuan

Pada akhirnya, teori-teori belajar orang dewasa mengingatkan kita bahwa belajar itu nggak berhenti di usia tertentu. Ia adalah perjalanan seumur hidup—dari pengalaman, refleksi, sampai transformasi diri.

Belajar bagi orang dewasa bukan cuma menambah pengetahuan, tapi menemukan siapa dirinya dan bagaimana ia bisa berkontribusi.

Seperti kata pepatah,

“Manusia tidak berhenti belajar karena menua; ia menua karena berhenti belajar.”

Jadi, mau kamu dosen, petani, pegawai, ibu rumah tangga, atau wirausahawan—selama kamu masih punya rasa ingin tahu, kamu masih jadi murid kehidupan.

No comments:

Post a Comment

Menyusun Target dan Indikator Kompetensi: Panduan Santai untuk Guru Hebat

  Pernah nggak sih kamu merasa bingung saat bikin rencana pembelajaran? Kadang rasanya kayak nyusun puzzle — semua harus pas: dari kompete...