Teori-Teori Belajar Orang Dewasa (Andragogi):
Belajar Sepanjang Hayat yang Berarti
Kalau kita ngomongin tentang belajar, banyak orang langsung kebayang anak
sekolah dengan seragam, guru di depan kelas, dan suasana formal. Tapi seiring
bertambahnya umur, kita mulai sadar bahwa belajar ternyata nggak berhenti di
ruang kelas. Hidup itu sendiri adalah sekolah besar yang nggak pernah kasih
ijazah, tapi selalu kasih pelajaran.
Nah, di sinilah muncul yang namanya pendidikan orang dewasa,
atau dalam istilah kerennya andragogi. Istilah ini
pertama kali dipopulerkan oleh Malcolm Knowles,
yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Orang Dewasa Modern.
Kalau pedagogi itu fokus pada bagaimana anak belajar, maka andragogi fokus pada
bagaimana orang dewasa belajar.
Dan ternyata, cara orang dewasa belajar itu beda banget. Mereka punya
pengalaman hidup, tanggung jawab, dan motivasi yang nggak sama dengan
anak-anak. Mereka belajar bukan karena disuruh, tapi karena mereka
ingin dan butuh.
Dalam artikel ini, kita bakal bahas empat teori besar yang menjelaskan
bagaimana orang dewasa belajar:
1. Prinsip-prinsip andragogi menurut Malcolm
Knowles,
2. Experiential Learning
dari David Kolb,
3. Self-Directed Learning,
dan
4. Transformative Learning.
Yuk, kita bahas satu per satu dengan gaya santai tapi tetap bermakna!
| Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing |
1. Prinsip-Prinsip Andragogi
Menurut Malcolm Knowles
Malcolm Knowles (1913–1997) adalah sosok yang mengubah cara dunia memandang
pembelajaran orang dewasa. Menurutnya, orang dewasa tidak bisa diperlakukan
seperti anak-anak dalam belajar. Mereka punya kebutuhan dan karakteristik unik
yang membuat pendekatan pengajaran harus berbeda.
Knowles mengemukakan enam prinsip utama andragogi
yang jadi pondasi dalam pendidikan orang dewasa:
1. Kebutuhan untuk tahu (The
Need to Know)
Orang dewasa butuh tahu kenapa mereka harus belajar
sesuatu sebelum benar-benar mau belajar. Kalau nggak tahu manfaatnya, mereka
cenderung malas atau nggak tertarik.
Contohnya, kalau kamu mau ngajarin pegawai tentang teknologi baru, jangan
langsung masuk ke teknisnya. Jelaskan dulu kenapa ini penting—misalnya bisa
bikin kerja lebih cepat, lebih aman, atau meningkatkan karier mereka.
2. Konsep diri
(Self-Concept)
Berbeda dengan anak-anak yang masih bergantung pada guru, orang dewasa
merasa dirinya mandiri dan bertanggung jawab atas
hidupnya sendiri. Jadi, mereka nggak suka kalau “diatur” secara
berlebihan dalam belajar.
Tugas pendidik di sini bukan memberi perintah, tapi menjadi
fasilitator—memberi ruang bagi peserta untuk mengatur ritme dan
gaya belajarnya sendiri.
3. Peran pengalaman
(Experience)
Pengalaman hidup adalah sumber belajar paling berharga bagi orang dewasa.
Setiap peserta datang ke kelas membawa “cerita hidup” yang bisa memperkaya
diskusi.
Makanya, metode belajar yang cocok biasanya berbasis diskusi, studi kasus, atau
refleksi—bukan ceramah satu arah.
4. Kesiapan untuk belajar
(Readiness to Learn)
Orang dewasa biasanya belajar karena mereka siap dan butuh
sesuatu yang relevan dengan kehidupan mereka saat itu.
Misalnya, seorang petani tertarik ikut pelatihan pupuk organik karena ingin
meningkatkan hasil panennya, bukan karena ingin nilai bagus.
5. Orientasi terhadap belajar
(Orientation to Learning)
Anak-anak belajar untuk masa depan (buat ujian, naik kelas, dan sebagainya).
Tapi orang dewasa belajar untuk memecahkan masalah
sekarang.
Jadi, pembelajaran harus kontekstual dan praktis—langsung bisa diterapkan dalam
kehidupan atau pekerjaan.
6. Motivasi untuk belajar
(Motivation)
Motivasi orang dewasa biasanya datang dari dalam diri
(intrinsik), bukan dari luar. Mereka belajar karena ingin berkembang, lebih
percaya diri, atau meningkatkan kualitas hidupnya.
Nah, keenam prinsip inilah yang membedakan pendidikan orang dewasa dari
pendidikan anak. Knowles menegaskan bahwa pengajar orang dewasa harus
menghormati otonomi peserta, menghargai pengalamannya, dan menghubungkan
pembelajaran dengan kebutuhan nyata.
2. Teori Experiential
Learning (David Kolb): Belajar Lewat Pengalaman
Kalau Malcolm Knowles bicara soal prinsip dasar orang dewasa belajar, David
Kolb menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi—yaitu
lewat pengalaman langsung.
Menurut Kolb (1984), belajar adalah proses di mana pengetahuan
diciptakan melalui transformasi pengalaman. Jadi, belajar bukan
sekadar mendengar teori, tapi benar-benar mengalami dan merefleksikannya.
Ia menggambarkan proses belajar dalam empat tahap siklus
yang saling berhubungan, disebut Kolb’s Learning Cycle:
1. Concrete Experience
(Pengalaman Konkret)
Tahap pertama adalah mengalami sesuatu secara langsung. Misalnya, seorang
wirausaha mencoba strategi pemasaran baru atau seorang guru mencoba metode
mengajar baru di kelasnya.
2. Reflective Observation
(Refleksi)
Setelah mengalami, orang mulai merenungkan
apa yang terjadi. Apa yang berhasil? Apa yang tidak? Apa yang bisa dipelajari
dari situ?
3. Abstract
Conceptualization (Konseptualisasi)
Dari refleksi, orang mulai membentuk teori atau
pemahaman baru. Mereka mulai menghubungkan pengalaman dengan
konsep atau prinsip yang lebih umum.
4. Active Experimentation
(Eksperimen Aktif)
Akhirnya, teori atau pemahaman baru itu diuji kembali dalam tindakan nyata.
Orang mencoba pendekatan baru dan melihat hasilnya.
Setelah itu, siklus berulang lagi — pengalaman baru menghasilkan
pembelajaran baru.
Contoh Nyata:
Bayangkan seorang nelayan belajar cara baru menangkap ikan menggunakan alat
ramah lingkungan.
1. Ia mencoba (pengalaman konkrit).
2. Ia refleksi, ternyata hasilnya lebih baik (reflektif).
3. Ia pahami bahwa alat ini efisien dan menjaga ekosistem
(konseptualisasi).
4. Ia lalu mengajarkan cara ini ke teman-temannya (eksperimen
aktif).
Begitulah proses belajar sejati—berawal dari pengalaman, diolah dalam
refleksi, dan kembali ke tindakan nyata.
Teori Kolb ini sangat cocok untuk pendidikan orang dewasa, karena mereka
belajar paling baik dari pengalaman hidupnya sendiri.
3. Self-Directed Learning
(Belajar Mandiri)
Nah, teori ini muncul dari kenyataan bahwa orang dewasa itu cenderung belajar
secara mandiri. Mereka nggak menunggu orang lain untuk
mengajari, tapi aktif mencari sendiri apa yang mereka butuhkan.
Self-Directed Learning (SDL) berarti proses di
mana individu mengambil inisiatif untuk mendiagnosis kebutuhan belajarnya,
menetapkan tujuan, mencari sumber belajar, memilih strategi, dan mengevaluasi
hasilnya.
Tokoh penting di bidang ini adalah Tough (1971)
dan Knowles (1975) yang menegaskan bahwa belajar
mandiri adalah ciri utama orang dewasa.
Karakteristik SDL:
1. Otonomi tinggi. Peserta
menentukan arah belajarnya sendiri.
2. Motivasi intrinsik.
Belajar karena ingin, bukan karena disuruh.
3. Sumber belajar beragam.
Bisa dari buku, internet, komunitas, mentor, atau pengalaman kerja.
4. Belajar sepanjang hayat.
Tidak terikat ruang dan waktu.
Sekarang kita bisa lihat contoh nyata SDL di mana-mana. Misalnya:
·
Seorang karyawan belajar
desain grafis lewat YouTube agar bisa promosi produknya.
·
Seorang ibu rumah tangga
belajar bisnis online lewat webinar.
·
Seorang pensiunan belajar
bercocok tanam hidroponik lewat komunitas Facebook.
Itulah bentuk nyata dari self-directed learning—belajar
dengan kesadaran, tanpa menunggu disuruh.
SDL juga sangat relevan di era digital sekarang, karena akses informasi
begitu terbuka. Siapa pun bisa belajar apa saja, kapan saja, di mana saja, asal
punya kemauan.
4. Transformative Learning:
Belajar yang Mengubah Diri
Kalau tiga teori sebelumnya bicara soal bagaimana
orang dewasa belajar, teori Transformative Learning
berbicara soal apa yang berubah setelah
belajar.
Teori ini dikembangkan oleh Jack Mezirow (1978)
yang mengatakan bahwa tujuan utama pendidikan orang dewasa adalah transformasi
cara berpikir.
Menurut Mezirow, orang dewasa sering kali membawa “kerangka berpikir lama”
(frame of reference) yang terbentuk dari pengalaman masa lalu. Tapi ketika
mereka belajar, mereka bisa mulai mempertanyakan keyakinan lama itu dan
menggantinya dengan pandangan baru yang lebih luas.
Proses Transformative
Learning biasanya terjadi lewat tiga tahap:
1. Disorienting Dilemma (Situasi yang
Mengguncang)
Orang mengalami peristiwa yang membuatnya mempertanyakan pandangan lama.
Misalnya, seorang pekerja kehilangan pekerjaan dan mulai berpikir ulang tentang
makna karier dan hidupnya.
2. Critical Reflection (Refleksi Kritis)
Orang mulai merenung: kenapa saya berpikir seperti ini? Apakah nilai-nilai saya
masih relevan?
3. New Perspective (Pandangan Baru)
Dari refleksi itu lahir kesadaran baru, yang mengubah cara berpikir dan
bertindak.
Contohnya, seseorang yang dulu menganggap pendidikan hanya soal nilai
akademik, setelah ikut pelatihan pemberdayaan masyarakat, jadi sadar bahwa
pendidikan juga soal keadilan dan empati sosial.
Itulah inti dari pembelajaran transformatif—bukan hanya menambah
pengetahuan, tapi mengubah kesadaran.
Teori ini sangat dipengaruhi oleh gagasan Paulo Freire
tentang pendidikan pembebasan, di mana belajar berarti
menyadari realitas dan berani mengubahnya.
5. Menyatukan Keempat Teori:
Belajar Sepanjang Hidup
Kalau kita lihat, keempat teori ini sebenarnya saling melengkapi:
·
Andragogi
(Knowles) memberi prinsip dasar: orang dewasa belajar karena
kebutuhan nyata, dengan cara mandiri dan berbasis pengalaman.
·
Experiential
Learning (Kolb) menjelaskan bahwa pengalaman adalah sumber
utama belajar.
·
Self-Directed
Learning menekankan kemandirian dan inisiatif pribadi.
·
Transformative
Learning menekankan perubahan cara berpikir dan kesadaran
kritis.
Semua teori ini berpijak pada satu hal: orang dewasa adalah
subjek belajar yang aktif, reflektif, dan mandiri. Mereka nggak
sekadar mencari ilmu, tapi mencari makna.
Penutup: Belajar Itu
Perjalanan, Bukan Tujuan
Pada akhirnya, teori-teori belajar orang dewasa mengingatkan kita bahwa
belajar itu nggak berhenti di usia tertentu. Ia adalah perjalanan seumur
hidup—dari pengalaman, refleksi, sampai transformasi diri.
Belajar bagi orang dewasa bukan cuma menambah pengetahuan, tapi menemukan
siapa dirinya dan bagaimana ia bisa berkontribusi.
Seperti kata pepatah,
“Manusia tidak berhenti belajar karena menua; ia menua karena berhenti
belajar.”
Jadi, mau kamu dosen, petani, pegawai, ibu rumah tangga, atau
wirausahawan—selama kamu masih punya rasa ingin tahu, kamu masih jadi murid
kehidupan.
No comments:
Post a Comment