Filsafat Pendidikan Orang Dewasa: Belajar yang Membebaskan
Kalau kita ngomongin soal “filsafat pendidikan”, mungkin banyak orang
langsung mikir: duh, ini pasti berat banget bahasannya—penuh istilah asing,
teori-teori tebal, dan pemikiran para tokoh yang kayaknya jauh dari kehidupan
sehari-hari. Tapi sebenarnya, kalau kita mau menurunkannya ke konteks kehidupan
nyata, filsafat pendidikan itu dekat banget dengan kita, terutama kalau kita
bicara soal pendidikan orang dewasa.
Kenapa? Karena pendidikan orang dewasa itu bukan cuma soal ngajarin orang
baca tulis atau kasih keterampilan kerja, tapi juga tentang membentuk
cara berpikir, memaknai pengalaman, dan menemukan kebebasan dalam belajar.
Di sinilah peran filsafat jadi penting—sebagai dasar pemikiran yang menjelaskan
mengapa dan bagaimana orang dewasa belajar.
Nah, di artikel ini kita bakal ngobrol santai tapi mendalam tentang tiga
aliran besar yang mempengaruhi pendidikan orang dewasa, yaitu humanisme,
konstruktivisme, dan teori kritis, lalu kita bahas juga pendidikan
pembebasan ala Paulo Freire, dan terakhir kita simpulkan nilai-nilai
yang mendasari pendidikan orang dewasa. Yuk, kita mulai!
| Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing |
1. Humanisme: Belajar Karena
Kita Manusia
Aliran humanisme muncul sebagai reaksi terhadap pendidikan yang terlalu
mekanis dan kaku. Bagi para tokoh humanis, pendidikan seharusnya bukan soal
mengisi kepala dengan informasi, tapi soal mengembangkan potensi
manusia secara utuh.
Dalam konteks pendidikan orang dewasa, humanisme punya pengaruh besar.
Tokoh-tokoh seperti Carl Rogers dan Abraham
Maslow percaya bahwa setiap individu punya dorongan alami untuk
tumbuh dan mencapai aktualisasi diri. Artinya, orang dewasa belajar bukan karena
disuruh atau dipaksa, tapi karena mereka ingin menjadi
versi terbaik dari dirinya sendiri.
Humanisme melihat peserta didik sebagai pribadi yang otonom, punya
pengalaman hidup yang berharga, dan berhak menentukan arah belajarnya sendiri.
Jadi, peran pengajar dalam pendidikan orang dewasa bukan lagi “pemberi ilmu”,
tapi lebih ke “fasilitator pertumbuhan”.
Prinsip-prinsip humanisme
dalam pendidikan orang dewasa:
1. Belajar bersifat personal.
Setiap orang punya kebutuhan dan tujuan belajar yang berbeda, jadi pendekatannya
harus fleksibel.
2. Pengalaman hidup dihargai.
Orang dewasa membawa “bagasi” pengalaman yang bisa jadi sumber belajar
berharga.
3. Kebebasan dan tanggung jawab.
Peserta belajar diberi ruang untuk memilih dan mengatur proses belajarnya.
4. Tujuan belajar adalah perkembangan diri.
Bukan sekadar dapat sertifikat, tapi tumbuh sebagai manusia yang lebih sadar
dan bermakna.
Contohnya, bayangkan seorang petani yang ikut pelatihan pertanian organik
bukan karena ada insentif dari pemerintah, tapi karena ia ingin menjaga tanah
dan kesehatan keluarganya. Di situ, belajar jadi bentuk aktualisasi
diri—itulah roh dari humanisme.
2. Konstruktivisme: Belajar
Itu Membangun, Bukan Menghafal
Kalau humanisme bicara soal motivasi dan potensi manusia, konstruktivisme
fokus pada bagaimana manusia membangun pengetahuan.
Teori ini berangkat dari pemikiran tokoh seperti Jean
Piaget dan Lev Vygotsky yang bilang
bahwa belajar bukan proses “memindahkan” ilmu dari guru ke murid, tapi proses membangun
makna lewat pengalaman dan interaksi.
Dalam konteks orang dewasa, konstruktivisme sangat relevan. Orang dewasa
sudah punya banyak pengalaman hidup, dan mereka nggak akan menerima begitu saja
apa yang diajarkan. Mereka cenderung bertanya:
“Apakah ini sesuai dengan pengalaman saya?”
“Bagaimana saya bisa menerapkannya di dunia nyata?”
Itu sebabnya, pendekatan belajar orang dewasa jarang cocok kalau pakai model
ceramah panjang. Mereka lebih suka belajar lewat diskusi,
studi kasus, simulasi, proyek, atau berbagi pengalaman.
Misalnya, dalam pelatihan manajemen keuangan untuk pelaku UMKM, peserta akan
lebih cepat paham kalau diajak menghitung keuangan usahanya sendiri, bukan cuma
dijelasin teori akuntansi. Dengan begitu, mereka membangun sendiri
pengetahuannya berdasarkan konteks hidupnya.
Prinsip konstruktivisme
dalam pendidikan orang dewasa:
1. Belajar berbasis pengalaman nyata.
2. Peserta aktif dalam proses belajar, bukan
penerima pasif.
3. Pengetahuan dibangun lewat refleksi dan
dialog.
4. Lingkungan belajar bersifat kolaboratif
dan terbuka.
Dalam praktiknya, konstruktivisme mendorong kita untuk menciptakan suasana
belajar yang hidup, di mana setiap orang bisa saling belajar dari pengalaman
satu sama lain. Pendidikan orang dewasa bukan lagi ruang di mana “guru tahu
segalanya”, tapi tempat di mana semua orang belajar
bersama.
3. Teori Kritis: Belajar
untuk Menyadari dan Mengubah Dunia
Kalau dua teori sebelumnya lebih fokus pada individu, teori kritis melangkah
lebih jauh: ia melihat pendidikan sebagai alat untuk mengubah
masyarakat.
Teori ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Jürgen Habermas
dan tokoh-tokoh Frankfurt School yang percaya
bahwa pendidikan seharusnya membantu orang memahami struktur kekuasaan dan
ketidakadilan sosial di sekitarnya.
Dalam pendidikan orang dewasa, teori kritis menekankan pentingnya kesadaran
kritis (critical consciousness).
Artinya, orang dewasa diajak untuk tidak hanya menerima keadaan, tapi berpikir
kritis dan mencari solusi terhadap masalah sosial, ekonomi, atau politik yang
mereka hadapi.
Misalnya, pelatihan bagi buruh bukan hanya soal meningkatkan keterampilan
kerja, tapi juga membahas hak-hak pekerja, kondisi ketenagakerjaan, dan cara
memperjuangkan keadilan sosial.
Dengan cara ini, pendidikan orang dewasa menjadi lebih dari sekadar proses
belajar — ia menjadi gerakan sosial.
Tujuan utama teori kritis
dalam pendidikan orang dewasa:
1. Membuka kesadaran terhadap struktur sosial yang menindas.
2. Mengajarkan kemampuan berpikir kritis terhadap sistem.
3. Mendorong partisipasi aktif dalam perubahan sosial.
4. Menghubungkan pengetahuan dengan tindakan nyata.
Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini terasa sangat relevan, terutama
dalam pendidikan masyarakat, pemberdayaan desa, atau pelatihan bagi komunitas
marginal. Belajar bukan cuma soal keterampilan teknis, tapi soal menyadarkan
diri dan berdaya untuk mengubah kehidupan.
4. Perspektif Pendidikan
Pembebasan (Liberation Pedagogy)
Nah, kalau bicara pendidikan pembebasan, tokoh utamanya sudah pasti Paulo
Freire. Ia adalah pendidik asal Brasil yang sangat berpengaruh
di dunia pendidikan orang dewasa.
Freire hidup di masa di mana rakyat miskin Brasil banyak yang buta huruf dan
hidup tertindas oleh sistem sosial yang tidak adil. Ia melihat bahwa pendidikan
bisa menjadi alat pembebasan — asal dilakukan dengan
cara yang benar.
Menurut Freire, pendidikan tradisional sering kali bersifat “banking
system”, di mana guru dianggap sebagai “pemilik pengetahuan” dan murid cuma
“nasabah” yang menerima setoran ilmu. Dalam sistem ini, murid pasif dan tidak
diajak berpikir.
Freire menolak cara itu. Ia memperkenalkan konsep “pendidikan
dialogis”, di mana guru dan murid belajar bersama dalam suasana
saling menghormati. Mereka berdialog, menganalisis realitas sosial, dan mencari
jalan keluar bersama.
Proses ini disebut “praxis” — kombinasi
antara refleksi dan tindakan. Jadi, belajar bukan cuma mikir, tapi juga
bertindak untuk mengubah keadaan.
Prinsip utama pendidikan
pembebasan:
1. Dialog setara antara pendidik dan
peserta.
2. Refleksi terhadap realitas sosial.
3. Kesadaran kritis (conscientization).
4. Tindakan nyata untuk perubahan.
Pendidikan orang dewasa yang berlandaskan perspektif pembebasan bukan cuma
melahirkan orang yang pintar, tapi juga orang yang sadar,
kritis, dan berani memperjuangkan keadilan.
Misalnya, program pendidikan bagi perempuan di desa tidak hanya mengajarkan
keterampilan menjahit atau memasak, tapi juga mengajak mereka menyadari
hak-haknya, memahami isu kesetaraan, dan memperjuangkan partisipasi di ruang
publik. Inilah makna sejati dari pendidikan yang “membebaskan”.
5. Nilai-Nilai yang
Melandasi Pendidikan Orang Dewasa
Dari ketiga aliran dan perspektif tadi, kita bisa melihat bahwa pendidikan
orang dewasa tidak berdiri di ruang kosong. Ia dibangun di atas nilai-nilai
kemanusiaan, kebebasan, dan kesadaran sosial.
Berikut beberapa nilai dasar yang jadi fondasinya:
1. Kemandirian (Autonomy).
Orang dewasa dihargai sebagai individu yang bisa mengatur dirinya sendiri.
Mereka bukan objek belajar, tapi subjek yang aktif menentukan arah belajarnya.
2. Partisipasi dan Dialog.
Belajar bukan monolog, tapi percakapan. Orang dewasa belajar paling baik lewat
diskusi, berbagi pengalaman, dan refleksi bersama.
3. Penghargaan terhadap Pengalaman.
Setiap orang dewasa membawa sejarah hidupnya masing-masing, dan itu bukan
beban, tapi aset dalam proses belajar.
4. Kesetaraan dan Penghormatan.
Dalam pendidikan orang dewasa, tidak ada hirarki mutlak antara guru dan murid.
Semua orang bisa belajar dari siapa saja.
5. Transformasi Diri dan Sosial.
Tujuan akhir pendidikan bukan cuma tahu lebih banyak, tapi menjadi pribadi yang
lebih sadar dan masyarakat yang lebih adil.
6. Relevansi dan Kontekstualitas.
Pendidikan orang dewasa harus sesuai dengan kehidupan nyata peserta. Kalau
tidak relevan, maka belajar akan terasa kosong.
7. Kebebasan dan Tanggung Jawab.
Orang dewasa belajar karena memilih, bukan dipaksa. Tapi kebebasan itu juga
datang dengan tanggung jawab untuk terus berkembang dan memberi manfaat bagi
lingkungan.
Penutup: Belajar yang
Membebaskan dan Bermakna
Kalau kita simpulkan, filsafat pendidikan orang dewasa bukan cuma kumpulan
teori di atas kertas. Ia adalah cara pandang tentang
manusia dan kehidupan.
Humanisme mengajarkan bahwa setiap manusia punya potensi untuk tumbuh.
Konstruktivisme menunjukkan bahwa pengetahuan dibangun, bukan ditransfer.
Teori kritis mengingatkan kita bahwa belajar juga soal melawan ketidakadilan.
Dan pendidikan pembebasan menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah praktik
kebebasan.
Jadi, pendidikan orang dewasa bukan cuma soal kursus, pelatihan, atau baca
buku. Ia adalah perjalanan menjadi manusia yang lebih sadar, lebih bijak, dan
lebih bebas.
Seperti kata Paulo Freire,
“Tidak ada pendidikan yang netral. Ia selalu berpihak — pada penindasan,
atau pada pembebasan.”
Dan pendidikan orang dewasa, sejatinya, memilih berpihak pada pembebasan.
No comments:
Post a Comment