Wednesday, November 12, 2025

Filsafat Pendidikan Orang Dewasa: Belajar yang Membebaskan


 

Filsafat Pendidikan Orang Dewasa: Belajar yang Membebaskan

Kalau kita ngomongin soal “filsafat pendidikan”, mungkin banyak orang langsung mikir: duh, ini pasti berat banget bahasannya—penuh istilah asing, teori-teori tebal, dan pemikiran para tokoh yang kayaknya jauh dari kehidupan sehari-hari. Tapi sebenarnya, kalau kita mau menurunkannya ke konteks kehidupan nyata, filsafat pendidikan itu dekat banget dengan kita, terutama kalau kita bicara soal pendidikan orang dewasa.

Kenapa? Karena pendidikan orang dewasa itu bukan cuma soal ngajarin orang baca tulis atau kasih keterampilan kerja, tapi juga tentang membentuk cara berpikir, memaknai pengalaman, dan menemukan kebebasan dalam belajar. Di sinilah peran filsafat jadi penting—sebagai dasar pemikiran yang menjelaskan mengapa dan bagaimana orang dewasa belajar.

Nah, di artikel ini kita bakal ngobrol santai tapi mendalam tentang tiga aliran besar yang mempengaruhi pendidikan orang dewasa, yaitu humanisme, konstruktivisme, dan teori kritis, lalu kita bahas juga pendidikan pembebasan ala Paulo Freire, dan terakhir kita simpulkan nilai-nilai yang mendasari pendidikan orang dewasa. Yuk, kita mulai!

 

Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing

1. Humanisme: Belajar Karena Kita Manusia

Aliran humanisme muncul sebagai reaksi terhadap pendidikan yang terlalu mekanis dan kaku. Bagi para tokoh humanis, pendidikan seharusnya bukan soal mengisi kepala dengan informasi, tapi soal mengembangkan potensi manusia secara utuh.

Dalam konteks pendidikan orang dewasa, humanisme punya pengaruh besar. Tokoh-tokoh seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow percaya bahwa setiap individu punya dorongan alami untuk tumbuh dan mencapai aktualisasi diri. Artinya, orang dewasa belajar bukan karena disuruh atau dipaksa, tapi karena mereka ingin menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Humanisme melihat peserta didik sebagai pribadi yang otonom, punya pengalaman hidup yang berharga, dan berhak menentukan arah belajarnya sendiri. Jadi, peran pengajar dalam pendidikan orang dewasa bukan lagi “pemberi ilmu”, tapi lebih ke “fasilitator pertumbuhan”.

Prinsip-prinsip humanisme dalam pendidikan orang dewasa:

1.      Belajar bersifat personal. Setiap orang punya kebutuhan dan tujuan belajar yang berbeda, jadi pendekatannya harus fleksibel.

2.      Pengalaman hidup dihargai. Orang dewasa membawa “bagasi” pengalaman yang bisa jadi sumber belajar berharga.

3.      Kebebasan dan tanggung jawab. Peserta belajar diberi ruang untuk memilih dan mengatur proses belajarnya.

4.      Tujuan belajar adalah perkembangan diri. Bukan sekadar dapat sertifikat, tapi tumbuh sebagai manusia yang lebih sadar dan bermakna.

Contohnya, bayangkan seorang petani yang ikut pelatihan pertanian organik bukan karena ada insentif dari pemerintah, tapi karena ia ingin menjaga tanah dan kesehatan keluarganya. Di situ, belajar jadi bentuk aktualisasi diri—itulah roh dari humanisme.

 

2. Konstruktivisme: Belajar Itu Membangun, Bukan Menghafal

Kalau humanisme bicara soal motivasi dan potensi manusia, konstruktivisme fokus pada bagaimana manusia membangun pengetahuan.

Teori ini berangkat dari pemikiran tokoh seperti Jean Piaget dan Lev Vygotsky yang bilang bahwa belajar bukan proses “memindahkan” ilmu dari guru ke murid, tapi proses membangun makna lewat pengalaman dan interaksi.

Dalam konteks orang dewasa, konstruktivisme sangat relevan. Orang dewasa sudah punya banyak pengalaman hidup, dan mereka nggak akan menerima begitu saja apa yang diajarkan. Mereka cenderung bertanya:

“Apakah ini sesuai dengan pengalaman saya?”
“Bagaimana saya bisa menerapkannya di dunia nyata?”

Itu sebabnya, pendekatan belajar orang dewasa jarang cocok kalau pakai model ceramah panjang. Mereka lebih suka belajar lewat diskusi, studi kasus, simulasi, proyek, atau berbagi pengalaman.

Misalnya, dalam pelatihan manajemen keuangan untuk pelaku UMKM, peserta akan lebih cepat paham kalau diajak menghitung keuangan usahanya sendiri, bukan cuma dijelasin teori akuntansi. Dengan begitu, mereka membangun sendiri pengetahuannya berdasarkan konteks hidupnya.

Prinsip konstruktivisme dalam pendidikan orang dewasa:

1.      Belajar berbasis pengalaman nyata.

2.      Peserta aktif dalam proses belajar, bukan penerima pasif.

3.      Pengetahuan dibangun lewat refleksi dan dialog.

4.      Lingkungan belajar bersifat kolaboratif dan terbuka.

Dalam praktiknya, konstruktivisme mendorong kita untuk menciptakan suasana belajar yang hidup, di mana setiap orang bisa saling belajar dari pengalaman satu sama lain. Pendidikan orang dewasa bukan lagi ruang di mana “guru tahu segalanya”, tapi tempat di mana semua orang belajar bersama.

 

3. Teori Kritis: Belajar untuk Menyadari dan Mengubah Dunia

Kalau dua teori sebelumnya lebih fokus pada individu, teori kritis melangkah lebih jauh: ia melihat pendidikan sebagai alat untuk mengubah masyarakat.

Teori ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Jürgen Habermas dan tokoh-tokoh Frankfurt School yang percaya bahwa pendidikan seharusnya membantu orang memahami struktur kekuasaan dan ketidakadilan sosial di sekitarnya.

Dalam pendidikan orang dewasa, teori kritis menekankan pentingnya kesadaran kritis (critical consciousness). Artinya, orang dewasa diajak untuk tidak hanya menerima keadaan, tapi berpikir kritis dan mencari solusi terhadap masalah sosial, ekonomi, atau politik yang mereka hadapi.

Misalnya, pelatihan bagi buruh bukan hanya soal meningkatkan keterampilan kerja, tapi juga membahas hak-hak pekerja, kondisi ketenagakerjaan, dan cara memperjuangkan keadilan sosial.

Dengan cara ini, pendidikan orang dewasa menjadi lebih dari sekadar proses belajar — ia menjadi gerakan sosial.

Tujuan utama teori kritis dalam pendidikan orang dewasa:

1.      Membuka kesadaran terhadap struktur sosial yang menindas.

2.      Mengajarkan kemampuan berpikir kritis terhadap sistem.

3.      Mendorong partisipasi aktif dalam perubahan sosial.

4.      Menghubungkan pengetahuan dengan tindakan nyata.

Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini terasa sangat relevan, terutama dalam pendidikan masyarakat, pemberdayaan desa, atau pelatihan bagi komunitas marginal. Belajar bukan cuma soal keterampilan teknis, tapi soal menyadarkan diri dan berdaya untuk mengubah kehidupan.

 

4. Perspektif Pendidikan Pembebasan (Liberation Pedagogy)

Nah, kalau bicara pendidikan pembebasan, tokoh utamanya sudah pasti Paulo Freire. Ia adalah pendidik asal Brasil yang sangat berpengaruh di dunia pendidikan orang dewasa.

Freire hidup di masa di mana rakyat miskin Brasil banyak yang buta huruf dan hidup tertindas oleh sistem sosial yang tidak adil. Ia melihat bahwa pendidikan bisa menjadi alat pembebasan — asal dilakukan dengan cara yang benar.

Menurut Freire, pendidikan tradisional sering kali bersifat “banking system”, di mana guru dianggap sebagai “pemilik pengetahuan” dan murid cuma “nasabah” yang menerima setoran ilmu. Dalam sistem ini, murid pasif dan tidak diajak berpikir.

Freire menolak cara itu. Ia memperkenalkan konsep “pendidikan dialogis”, di mana guru dan murid belajar bersama dalam suasana saling menghormati. Mereka berdialog, menganalisis realitas sosial, dan mencari jalan keluar bersama.

Proses ini disebut “praxis” — kombinasi antara refleksi dan tindakan. Jadi, belajar bukan cuma mikir, tapi juga bertindak untuk mengubah keadaan.

Prinsip utama pendidikan pembebasan:

1.      Dialog setara antara pendidik dan peserta.

2.      Refleksi terhadap realitas sosial.

3.      Kesadaran kritis (conscientization).

4.      Tindakan nyata untuk perubahan.

Pendidikan orang dewasa yang berlandaskan perspektif pembebasan bukan cuma melahirkan orang yang pintar, tapi juga orang yang sadar, kritis, dan berani memperjuangkan keadilan.

Misalnya, program pendidikan bagi perempuan di desa tidak hanya mengajarkan keterampilan menjahit atau memasak, tapi juga mengajak mereka menyadari hak-haknya, memahami isu kesetaraan, dan memperjuangkan partisipasi di ruang publik. Inilah makna sejati dari pendidikan yang “membebaskan”.

 

5. Nilai-Nilai yang Melandasi Pendidikan Orang Dewasa

Dari ketiga aliran dan perspektif tadi, kita bisa melihat bahwa pendidikan orang dewasa tidak berdiri di ruang kosong. Ia dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan, dan kesadaran sosial.

Berikut beberapa nilai dasar yang jadi fondasinya:

1.      Kemandirian (Autonomy).
Orang dewasa dihargai sebagai individu yang bisa mengatur dirinya sendiri. Mereka bukan objek belajar, tapi subjek yang aktif menentukan arah belajarnya.

2.      Partisipasi dan Dialog.
Belajar bukan monolog, tapi percakapan. Orang dewasa belajar paling baik lewat diskusi, berbagi pengalaman, dan refleksi bersama.

3.      Penghargaan terhadap Pengalaman.
Setiap orang dewasa membawa sejarah hidupnya masing-masing, dan itu bukan beban, tapi aset dalam proses belajar.

4.      Kesetaraan dan Penghormatan.
Dalam pendidikan orang dewasa, tidak ada hirarki mutlak antara guru dan murid. Semua orang bisa belajar dari siapa saja.

5.      Transformasi Diri dan Sosial.
Tujuan akhir pendidikan bukan cuma tahu lebih banyak, tapi menjadi pribadi yang lebih sadar dan masyarakat yang lebih adil.

6.      Relevansi dan Kontekstualitas.
Pendidikan orang dewasa harus sesuai dengan kehidupan nyata peserta. Kalau tidak relevan, maka belajar akan terasa kosong.

7.      Kebebasan dan Tanggung Jawab.
Orang dewasa belajar karena memilih, bukan dipaksa. Tapi kebebasan itu juga datang dengan tanggung jawab untuk terus berkembang dan memberi manfaat bagi lingkungan.

 

Penutup: Belajar yang Membebaskan dan Bermakna

Kalau kita simpulkan, filsafat pendidikan orang dewasa bukan cuma kumpulan teori di atas kertas. Ia adalah cara pandang tentang manusia dan kehidupan.

Humanisme mengajarkan bahwa setiap manusia punya potensi untuk tumbuh.
Konstruktivisme menunjukkan bahwa pengetahuan dibangun, bukan ditransfer.
Teori kritis mengingatkan kita bahwa belajar juga soal melawan ketidakadilan.
Dan pendidikan pembebasan menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah praktik kebebasan.

Jadi, pendidikan orang dewasa bukan cuma soal kursus, pelatihan, atau baca buku. Ia adalah perjalanan menjadi manusia yang lebih sadar, lebih bijak, dan lebih bebas.

Seperti kata Paulo Freire,

“Tidak ada pendidikan yang netral. Ia selalu berpihak — pada penindasan, atau pada pembebasan.”

Dan pendidikan orang dewasa, sejatinya, memilih berpihak pada pembebasan.

No comments:

Post a Comment

Menyusun Target dan Indikator Kompetensi: Panduan Santai untuk Guru Hebat

  Pernah nggak sih kamu merasa bingung saat bikin rencana pembelajaran? Kadang rasanya kayak nyusun puzzle — semua harus pas: dari kompete...