Sejarah dan Perkembangan Pendidikan Orang Dewasa
Kalau ngomongin soal “pendidikan orang dewasa”, banyak orang mungkin
langsung mikir: “Lho, emangnya orang dewasa masih perlu sekolah lagi?” Nah,
justru itu menariknya. Pendidikan orang dewasa itu bukan sekadar soal sekolah
atau kuliah, tapi soal bagaimana manusia terus belajar sepanjang hidupnya —
meskipun rambut sudah mulai memutih.
Belajar itu nggak berhenti di meja sekolah, dan sejarah membuktikan bahwa
keinginan manusia untuk belajar seumur hidup sudah ada sejak dulu banget. Dari
zaman ketika manusia belajar lewat pengalaman hidup, sampai sekarang di mana
orang belajar lewat YouTube atau webinar, semuanya adalah bagian dari
perjalanan panjang yang disebut pendidikan orang dewasa.
Mari kita bahas bareng-bareng dari awal: bagaimana sejarahnya, siapa saja
tokoh-tokoh penting yang mempengaruhi konsep ini, dan gimana perkembangannya di
Indonesia sampai sekarang.
| Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing |
1. Jejak Historis Global
Pendidikan Orang Dewasa
Kalau kita tarik ke masa lampau, pendidikan orang dewasa sebenarnya sudah
ada jauh sebelum istilah andragogi muncul. Pada zaman
kuno, masyarakat belajar lewat pengalaman langsung — berburu, bercocok tanam,
berdagang, atau membuat peralatan. Orang tua mengajarkan keterampilan hidup
kepada generasi berikutnya, dan itu sudah bisa dibilang bentuk awal pendidikan
orang dewasa.
Zaman Yunani dan Romawi Kuno
Di Yunani kuno, filsuf-filsuf seperti Socrates dan Plato sudah mempraktikkan
metode belajar berbasis dialog — the Socratic method. Meskipun
awalnya diterapkan untuk kaum muda, banyak orang dewasa juga ikut berdiskusi
dan memperluas wawasan mereka. Belajar saat itu dianggap sebagai cara untuk
mengembangkan kebijaksanaan, bukan sekadar mengumpulkan fakta.
Abad Pertengahan
Pada abad pertengahan, pendidikan lebih banyak dikuasai oleh lembaga
keagamaan. Tapi di luar biara, masyarakat juga punya cara belajar sendiri. Misalnya,
para tukang dan pedagang belajar lewat sistem magang (apprenticeship).
Ini bisa disebut cikal bakal pendidikan vokasional bagi orang dewasa.
Era Revolusi Industri
Nah, pendidikan orang dewasa mulai berkembang pesat saat Revolusi Industri
(abad ke-18 dan 19). Ketika mesin-mesin mulai menggantikan tenaga manusia,
banyak pekerja yang harus menyesuaikan diri dengan teknologi baru.
Negara-negara seperti Inggris dan Jerman mulai menyelenggarakan kelas malam
atau kursus bagi buruh pabrik agar mereka bisa meningkatkan keterampilan.
Di sinilah konsep “pendidikan sepanjang hayat” mulai terasa penting. Orang
dewasa yang dulunya hanya bekerja, kini harus terus belajar agar bisa bertahan
di dunia kerja yang berubah cepat.
Abad ke-20: Lahirnya
Andragogi
Masuk abad ke-20, istilah andragogi mulai dikenal luas.
Kata ini berasal dari bahasa Yunani: aner (orang
dewasa) dan agogos (membimbing). Tokoh
yang mempopulerkannya adalah Malcolm Knowles, seorang
pendidik asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai “Bapak Pendidikan Orang
Dewasa Modern”.
Di masa ini, banyak lembaga mulai fokus mengembangkan metode belajar yang
sesuai dengan karakteristik orang dewasa — yang mandiri, punya pengalaman
hidup, dan belajar berdasarkan kebutuhan praktis.
2. Jejak Sejarah Pendidikan
Orang Dewasa di Indonesia
Sekarang, kita geser ke Indonesia. Ternyata, semangat pendidikan orang
dewasa di Indonesia sudah ada sejak masa perjuangan kemerdekaan, bahkan sebelum
itu.
Masa Pra-Kemerdekaan
Sebelum Indonesia merdeka, pendidikan formal sangat terbatas, apalagi untuk
rakyat biasa. Tapi semangat belajar tetap ada. Banyak tokoh pergerakan nasional
yang mengadakan kegiatan pendidikan nonformal untuk rakyat. Misalnya:
·
Taman
Siswa yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara (1922), meskipun
berfokus pada anak muda, juga membuka ruang belajar bagi masyarakat umum.
·
Kursus
dan pengajian rakyat, yang jadi wadah bagi orang dewasa untuk
belajar baca tulis, berdiskusi politik, atau membahas kebangsaan.
·
Sekolah
rakyat mandiri, yang sering diadakan oleh organisasi pergerakan
untuk mencerdaskan masyarakat.
Jadi, sejak awal, pendidikan orang dewasa di Indonesia sudah erat kaitannya
dengan semangat kemerdekaan dan pemberdayaan rakyat.
Masa Pasca-Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah menyadari bahwa banyak orang dewasa
masih buta huruf. Maka lahirlah berbagai program pemberantasan buta huruf
(PBH).
Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pemerintah mulai mendirikan Balai
Pendidikan Masyarakat (BPM) dan menyelenggarakan kursus
keterampilan untuk masyarakat dewasa. Program ini bukan cuma soal baca tulis,
tapi juga keterampilan hidup seperti pertanian, kerajinan, dan kewirausahaan.
Kemudian, pada era Orde Baru, muncul istilah Pendidikan Luar Sekolah
(PLS) yang mencakup berbagai bentuk pendidikan nonformal untuk
anak muda dan orang dewasa. Ada Kejar Paket A, B, dan C; ada pelatihan kerja,
kursus keterampilan, sampai pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).
Dengan kata lain, pendidikan orang dewasa di Indonesia berkembang dari
kebutuhan dasar — memberantas buta huruf — menjadi gerakan besar untuk
meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Era Reformasi hingga
Sekarang
Memasuki abad ke-21, pendidikan orang dewasa di Indonesia makin beragam
bentuknya. Sekarang, orang bisa belajar lewat pelatihan online, kursus digital,
komunitas belajar, bahkan lewat media sosial.
Pemerintah juga menyesuaikan kebijakan dengan era digital. Misalnya, lewat
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan
Masyarakat (Ditjen PAUD Dikdasmen), banyak program pemberdayaan masyarakat
berbasis teknologi diluncurkan.
Kini, pendidikan orang dewasa tidak lagi dilihat sebagai “pelengkap”, tapi
sebagai bagian penting dari sistem pendidikan nasional.
3. Tokoh-Tokoh Penting dalam
Pendidikan Orang Dewasa
Nah, sekarang kita bahas beberapa tokoh dunia yang berpengaruh besar dalam
pengembangan pendidikan orang dewasa.
a. Paulo Freire (1921–1997)
Kalau bicara pendidikan orang dewasa, nama Paulo Freire nggak boleh
dilewatkan. Beliau seorang pendidik asal Brasil yang terkenal lewat bukunya Pedagogy
of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas).
Freire percaya bahwa pendidikan bukan cuma soal mentransfer ilmu, tapi soal
membebaskan manusia dari penindasan — baik sosial, ekonomi, maupun politik.
Menurutnya, orang dewasa bisa menjadi agen perubahan lewat pendidikan yang
kritis.
Freire memperkenalkan konsep “konsientisasi”
atau conscientization, yaitu kesadaran kritis untuk
memahami realitas sosial dan berani mengubahnya. Jadi, pendidikan orang dewasa
bukan cuma belajar keterampilan, tapi juga belajar berpikir kritis dan sadar
terhadap ketidakadilan di sekitarnya.
b. Malcolm Knowles
(1913–1997)
Seperti disebut tadi, Knowles dikenal sebagai “Bapak Pendidikan Orang Dewasa
Modern”. Ia memperkenalkan teori andragogi
yang menjadi dasar utama pendidikan orang dewasa sampai sekarang.
Knowles mengemukakan beberapa prinsip utama dalam belajar orang dewasa:
1. Orang dewasa belajar karena kebutuhan nyata.
2. Mereka punya pengalaman hidup yang menjadi sumber belajar.
3. Mereka ingin terlibat aktif dalam proses belajar.
4. Pembelajaran harus relevan dengan kehidupan mereka.
5. Mereka cenderung belajar secara mandiri.
Konsep Knowles ini sangat berpengaruh di seluruh dunia, termasuk dalam
pelatihan-pelatihan profesional dan pendidikan masyarakat.
c. Ivan Illich (1926–2002)
Tokoh ini agak “rebel” dalam dunia pendidikan. Lewat bukunya Deschooling
Society (1971), Illich mengkritik sistem pendidikan formal yang
dianggap terlalu birokratis dan membatasi kebebasan belajar.
Menurut Illich, belajar seharusnya bisa terjadi di mana saja dan oleh siapa
saja, tanpa harus bergantung pada lembaga formal. Ia mengusulkan ide tentang “learning
webs”, semacam jaringan belajar sosial di mana orang bisa
saling berbagi ilmu tanpa struktur sekolah yang kaku.
Kalau dipikir-pikir, gagasan Illich mirip banget dengan konsep belajar
digital masa kini — seperti kursus online, komunitas belajar daring, atau
bahkan belajar lewat YouTube. Visioner banget, kan?
4. Perkembangan Kebijakan
Pendidikan Nonformal
Dalam konteks kebijakan, pendidikan orang dewasa di Indonesia masuk dalam
payung besar pendidikan nonformal.
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan
formal yang bisa dilakukan secara terstruktur dan berjenjang. Tujuannya untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki keterampilan dan kepribadian
yang berguna bagi masyarakat.
Program pendidikan nonformal di Indonesia mencakup:
·
Pendidikan
Keaksaraan dan Kesetaraan (Paket A, B, C)
·
Kursus
dan pelatihan kerja
·
Pusat
Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
·
Pendidikan
keluarga dan pemberdayaan perempuan
·
Pelatihan
berbasis masyarakat dan kewirausahaan
Pemerintah, lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, juga menjalin kerja
sama dengan berbagai pihak — mulai dari lembaga swadaya masyarakat sampai
sektor swasta — untuk memperluas akses belajar bagi masyarakat dewasa.
Belakangan, fokusnya tidak hanya pada keaksaraan, tapi juga pada digital
literacy, entrepreneurship, dan
pelatihan berbasis kebutuhan lokal.
Selain itu, kebijakan terbaru juga mulai menekankan pada transformasi
digital pendidikan masyarakat. Artinya, pembelajaran untuk
orang dewasa sekarang diarahkan agar lebih adaptif dengan teknologi.
Penutup
Kalau dilihat dari sejarahnya, pendidikan orang dewasa memang punya
perjalanan panjang — dari tradisi lisan, kelas malam di era industri, sampai
kursus online di era digital sekarang. Tapi satu hal yang nggak berubah:
semangat untuk terus belajar.
Pendidikan orang dewasa bukan cuma tentang menambah ilmu, tapi tentang menjaga
manusia tetap relevan, berdaya, dan bermartabat. Seperti kata Paulo Freire,
“Pendidikan sejati adalah praktik kebebasan.” Artinya, lewat pendidikan,
manusia bisa menemukan dirinya dan membebaskan pikirannya.
Jadi, nggak peduli umur berapa kamu sekarang, kalau masih punya rasa ingin
tahu dan semangat belajar, kamu sudah bagian dari gerakan besar bernama pendidikan
orang dewasa — perjalanan belajar tanpa akhir, sepanjang hidup.
No comments:
Post a Comment