Tuesday, November 11, 2025

Sejarah dan Perkembangan Pendidikan Orang Dewasa


Sejarah dan Perkembangan Pendidikan Orang Dewasa

Kalau ngomongin soal “pendidikan orang dewasa”, banyak orang mungkin langsung mikir: “Lho, emangnya orang dewasa masih perlu sekolah lagi?” Nah, justru itu menariknya. Pendidikan orang dewasa itu bukan sekadar soal sekolah atau kuliah, tapi soal bagaimana manusia terus belajar sepanjang hidupnya — meskipun rambut sudah mulai memutih.

Belajar itu nggak berhenti di meja sekolah, dan sejarah membuktikan bahwa keinginan manusia untuk belajar seumur hidup sudah ada sejak dulu banget. Dari zaman ketika manusia belajar lewat pengalaman hidup, sampai sekarang di mana orang belajar lewat YouTube atau webinar, semuanya adalah bagian dari perjalanan panjang yang disebut pendidikan orang dewasa.

Mari kita bahas bareng-bareng dari awal: bagaimana sejarahnya, siapa saja tokoh-tokoh penting yang mempengaruhi konsep ini, dan gimana perkembangannya di Indonesia sampai sekarang.

 

Teori dan Praktik Pendidikan Orang Dewasa | CV. Cemerlang Publishing

1. Jejak Historis Global Pendidikan Orang Dewasa

Kalau kita tarik ke masa lampau, pendidikan orang dewasa sebenarnya sudah ada jauh sebelum istilah andragogi muncul. Pada zaman kuno, masyarakat belajar lewat pengalaman langsung — berburu, bercocok tanam, berdagang, atau membuat peralatan. Orang tua mengajarkan keterampilan hidup kepada generasi berikutnya, dan itu sudah bisa dibilang bentuk awal pendidikan orang dewasa.

Zaman Yunani dan Romawi Kuno

Di Yunani kuno, filsuf-filsuf seperti Socrates dan Plato sudah mempraktikkan metode belajar berbasis dialog — the Socratic method. Meskipun awalnya diterapkan untuk kaum muda, banyak orang dewasa juga ikut berdiskusi dan memperluas wawasan mereka. Belajar saat itu dianggap sebagai cara untuk mengembangkan kebijaksanaan, bukan sekadar mengumpulkan fakta.

Abad Pertengahan

Pada abad pertengahan, pendidikan lebih banyak dikuasai oleh lembaga keagamaan. Tapi di luar biara, masyarakat juga punya cara belajar sendiri. Misalnya, para tukang dan pedagang belajar lewat sistem magang (apprenticeship). Ini bisa disebut cikal bakal pendidikan vokasional bagi orang dewasa.

Era Revolusi Industri

Nah, pendidikan orang dewasa mulai berkembang pesat saat Revolusi Industri (abad ke-18 dan 19). Ketika mesin-mesin mulai menggantikan tenaga manusia, banyak pekerja yang harus menyesuaikan diri dengan teknologi baru. Negara-negara seperti Inggris dan Jerman mulai menyelenggarakan kelas malam atau kursus bagi buruh pabrik agar mereka bisa meningkatkan keterampilan.

Di sinilah konsep “pendidikan sepanjang hayat” mulai terasa penting. Orang dewasa yang dulunya hanya bekerja, kini harus terus belajar agar bisa bertahan di dunia kerja yang berubah cepat.

Abad ke-20: Lahirnya Andragogi

Masuk abad ke-20, istilah andragogi mulai dikenal luas. Kata ini berasal dari bahasa Yunani: aner (orang dewasa) dan agogos (membimbing). Tokoh yang mempopulerkannya adalah Malcolm Knowles, seorang pendidik asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai “Bapak Pendidikan Orang Dewasa Modern”.

Di masa ini, banyak lembaga mulai fokus mengembangkan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik orang dewasa — yang mandiri, punya pengalaman hidup, dan belajar berdasarkan kebutuhan praktis.

 

2. Jejak Sejarah Pendidikan Orang Dewasa di Indonesia

Sekarang, kita geser ke Indonesia. Ternyata, semangat pendidikan orang dewasa di Indonesia sudah ada sejak masa perjuangan kemerdekaan, bahkan sebelum itu.

Masa Pra-Kemerdekaan

Sebelum Indonesia merdeka, pendidikan formal sangat terbatas, apalagi untuk rakyat biasa. Tapi semangat belajar tetap ada. Banyak tokoh pergerakan nasional yang mengadakan kegiatan pendidikan nonformal untuk rakyat. Misalnya:

·         Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara (1922), meskipun berfokus pada anak muda, juga membuka ruang belajar bagi masyarakat umum.

·         Kursus dan pengajian rakyat, yang jadi wadah bagi orang dewasa untuk belajar baca tulis, berdiskusi politik, atau membahas kebangsaan.

·         Sekolah rakyat mandiri, yang sering diadakan oleh organisasi pergerakan untuk mencerdaskan masyarakat.

Jadi, sejak awal, pendidikan orang dewasa di Indonesia sudah erat kaitannya dengan semangat kemerdekaan dan pemberdayaan rakyat.

Masa Pasca-Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah menyadari bahwa banyak orang dewasa masih buta huruf. Maka lahirlah berbagai program pemberantasan buta huruf (PBH).

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pemerintah mulai mendirikan Balai Pendidikan Masyarakat (BPM) dan menyelenggarakan kursus keterampilan untuk masyarakat dewasa. Program ini bukan cuma soal baca tulis, tapi juga keterampilan hidup seperti pertanian, kerajinan, dan kewirausahaan.

Kemudian, pada era Orde Baru, muncul istilah Pendidikan Luar Sekolah (PLS) yang mencakup berbagai bentuk pendidikan nonformal untuk anak muda dan orang dewasa. Ada Kejar Paket A, B, dan C; ada pelatihan kerja, kursus keterampilan, sampai pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).

Dengan kata lain, pendidikan orang dewasa di Indonesia berkembang dari kebutuhan dasar — memberantas buta huruf — menjadi gerakan besar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Era Reformasi hingga Sekarang

Memasuki abad ke-21, pendidikan orang dewasa di Indonesia makin beragam bentuknya. Sekarang, orang bisa belajar lewat pelatihan online, kursus digital, komunitas belajar, bahkan lewat media sosial.

Pemerintah juga menyesuaikan kebijakan dengan era digital. Misalnya, lewat Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Masyarakat (Ditjen PAUD Dikdasmen), banyak program pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi diluncurkan.

Kini, pendidikan orang dewasa tidak lagi dilihat sebagai “pelengkap”, tapi sebagai bagian penting dari sistem pendidikan nasional.

 

3. Tokoh-Tokoh Penting dalam Pendidikan Orang Dewasa

Nah, sekarang kita bahas beberapa tokoh dunia yang berpengaruh besar dalam pengembangan pendidikan orang dewasa.

a. Paulo Freire (1921–1997)

Kalau bicara pendidikan orang dewasa, nama Paulo Freire nggak boleh dilewatkan. Beliau seorang pendidik asal Brasil yang terkenal lewat bukunya Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas).

Freire percaya bahwa pendidikan bukan cuma soal mentransfer ilmu, tapi soal membebaskan manusia dari penindasan — baik sosial, ekonomi, maupun politik. Menurutnya, orang dewasa bisa menjadi agen perubahan lewat pendidikan yang kritis.

Freire memperkenalkan konsep “konsientisasi” atau conscientization, yaitu kesadaran kritis untuk memahami realitas sosial dan berani mengubahnya. Jadi, pendidikan orang dewasa bukan cuma belajar keterampilan, tapi juga belajar berpikir kritis dan sadar terhadap ketidakadilan di sekitarnya.

b. Malcolm Knowles (1913–1997)

Seperti disebut tadi, Knowles dikenal sebagai “Bapak Pendidikan Orang Dewasa Modern”. Ia memperkenalkan teori andragogi yang menjadi dasar utama pendidikan orang dewasa sampai sekarang.

Knowles mengemukakan beberapa prinsip utama dalam belajar orang dewasa:

1.      Orang dewasa belajar karena kebutuhan nyata.

2.      Mereka punya pengalaman hidup yang menjadi sumber belajar.

3.      Mereka ingin terlibat aktif dalam proses belajar.

4.      Pembelajaran harus relevan dengan kehidupan mereka.

5.      Mereka cenderung belajar secara mandiri.

Konsep Knowles ini sangat berpengaruh di seluruh dunia, termasuk dalam pelatihan-pelatihan profesional dan pendidikan masyarakat.

c. Ivan Illich (1926–2002)

Tokoh ini agak “rebel” dalam dunia pendidikan. Lewat bukunya Deschooling Society (1971), Illich mengkritik sistem pendidikan formal yang dianggap terlalu birokratis dan membatasi kebebasan belajar.

Menurut Illich, belajar seharusnya bisa terjadi di mana saja dan oleh siapa saja, tanpa harus bergantung pada lembaga formal. Ia mengusulkan ide tentang “learning webs”, semacam jaringan belajar sosial di mana orang bisa saling berbagi ilmu tanpa struktur sekolah yang kaku.

Kalau dipikir-pikir, gagasan Illich mirip banget dengan konsep belajar digital masa kini — seperti kursus online, komunitas belajar daring, atau bahkan belajar lewat YouTube. Visioner banget, kan?

 

4. Perkembangan Kebijakan Pendidikan Nonformal

Dalam konteks kebijakan, pendidikan orang dewasa di Indonesia masuk dalam payung besar pendidikan nonformal.

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang bisa dilakukan secara terstruktur dan berjenjang. Tujuannya untuk mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki keterampilan dan kepribadian yang berguna bagi masyarakat.

Program pendidikan nonformal di Indonesia mencakup:

·         Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan (Paket A, B, C)

·         Kursus dan pelatihan kerja

·         Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

·         Pendidikan keluarga dan pemberdayaan perempuan

·         Pelatihan berbasis masyarakat dan kewirausahaan

Pemerintah, lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak — mulai dari lembaga swadaya masyarakat sampai sektor swasta — untuk memperluas akses belajar bagi masyarakat dewasa.

Belakangan, fokusnya tidak hanya pada keaksaraan, tapi juga pada digital literacy, entrepreneurship, dan pelatihan berbasis kebutuhan lokal.

Selain itu, kebijakan terbaru juga mulai menekankan pada transformasi digital pendidikan masyarakat. Artinya, pembelajaran untuk orang dewasa sekarang diarahkan agar lebih adaptif dengan teknologi.

 

Penutup

Kalau dilihat dari sejarahnya, pendidikan orang dewasa memang punya perjalanan panjang — dari tradisi lisan, kelas malam di era industri, sampai kursus online di era digital sekarang. Tapi satu hal yang nggak berubah: semangat untuk terus belajar.

Pendidikan orang dewasa bukan cuma tentang menambah ilmu, tapi tentang menjaga manusia tetap relevan, berdaya, dan bermartabat. Seperti kata Paulo Freire, “Pendidikan sejati adalah praktik kebebasan.” Artinya, lewat pendidikan, manusia bisa menemukan dirinya dan membebaskan pikirannya.

Jadi, nggak peduli umur berapa kamu sekarang, kalau masih punya rasa ingin tahu dan semangat belajar, kamu sudah bagian dari gerakan besar bernama pendidikan orang dewasa — perjalanan belajar tanpa akhir, sepanjang hidup.

 

No comments:

Post a Comment

Menyusun Target dan Indikator Kompetensi: Panduan Santai untuk Guru Hebat

  Pernah nggak sih kamu merasa bingung saat bikin rencana pembelajaran? Kadang rasanya kayak nyusun puzzle — semua harus pas: dari kompete...